Minggu, 13 Oktober 2013

MANUSIA ADALAH TUKANG JUDI!





Saat mendengar dan membaca berita tentang Akil Mochtar (AM) - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang tertangkap tangan di rumahnya, penulis mencari pemahaman: mengapa seorang ketua hakim - pejabat tertinggi di peradilan bisa melakukan hal itu???


Berikut pandangan pribadi penulis:

=> Dari sisi Akil Mocktar:
  • Seorang intelektual - pintar, ahli dan pakar dibidang hukum, sehingga bisa terpilih dan menjabat sebagai ketua MK di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. AM tentu tahu, mengerti, dan paham benar akan besarnya risiko dan konsekuensi dari perbuatan melawan hukum...
  • Pejabat tertinggi - posisi yang terhormat seperti itu, tentu gaji dan tunjangan jabatan serta fasilitas yang diberikan oleh negara kepadanya besar dan banyak. AM pasti sadar bahwa penyalah gunaan jabatan dan wewenang demi untuk uang itu risiko dan konsekuensinya sangat besar...
  • Usianya yang tidak muda lagi - bahkan relatif sudah tua (di atas 60 tahun), wawasannya luas dan pengalamannya banyak serta kebijakasanaannya tinggi. AM sebagai orang beragama dan beriman, tentu punya pemahaman bahwa pada saatnya nanti dipanggil TUHAN, dia harus mempertanggung jawabkan semua dan segala sikap, perkataan dan perbuatannya...

Jadi, menurut penulis, AM (dan para koruptor/penerima suap lainnya) adalah seorang tukang judi besar! Dia mempertaruhkan hampir semua dan segala dalam kehidupannya. Perjudian sangat besar yang AM pertaruhkan adalah:
  • Nama baik, kehormatan dan kehidupan pribadinya.
  • Kehidupan keluarga dan sanak saudaranya.
  • Jabatan penting dan posisi terhormatnya.
  • Kebahagiaan dan kebebasannya.
  • Seluruh sisa hidupnya.

Nahh..., bukankah dapat kita simpulkan bahwa AM adalah seorang tukang judi yang sangat luar biasa!? Seorang penjudi pasti punya sifat rakus akan kemenangan!

Pada dasarnya, manusia adalah tukang judi (pemalas dan ingin hasil yang instan!)...
Setiap orang, dalam beberapa fase kehidupannya memang harus melakukan perjudian (membuat sebuah keputusan dan menentukan suatu pilihan hidupnya), seperti:
  • Akan melanjutkan sekolah/kuliah atau bekerja?
  • Milih akan sekolah/kuliah atau bekerja dimana?
  • Selesai pendidikan mau bekerja atau bisnis?
  • Menentukan pasangan hidup dengan siapa?
  • Kapan mulai membangun keluarga?
  • Kapan saatnya mempunyai anak?
  • Dan lain sebagainya...

=> Dari sisi Pemerintah:
  • Pemerintahnya kurang serius dan kurang tegas dalam memberantas kosupsi. Terbukti, para koruptor mendapatkan remisi...
  • Hukumannya tidak membuat jera para koruptor dan calon koruptor. Terbukti, secara periodik kasus korupsi bermunculan silih berganti...
  • Sistem peradilannya tidak menjunjung rasa keadilan. Terbukti, seorang maling sandal jepit dihukum tidak sebanding dengan perbuatannya...

Sebagai tukang judi, setiap koruptor atau calon koruptor tentu melakukan kalkulasi:
  • Jika perbuatan buruk dan jahatnya itu tidak ketahuan, dia dapat kartu Joker, berarti MENANG!
  • Jika ketahuan melakukan korupsi dalam jumlah yang besar, hukuman yang akan diterimanya relatif ringan, itu masih sebanding dengan besaran uang yang didapat dari hasil korupsi itu, sehingga pada saat keluar dari penjara, dia dan seluruh keluarganya masih dapat menikmatinya, berarti MENANG!
  • Besarnya jumlah uang dari hasil korupsi itu tidak akan pernah didapatkan walaupun dengan cara bekerja sangat keras (seumur hidupnya!), berarti MENANG!
Dengan situasi dan kondisi selalu menang seperti di atas itu, sebagai tukang judi, tentu AM akan mempertaruhkan semua dan segalanya!

Untuk itulah, sudah saatnya Indonesia menjatuhkan hukuman seumur hidup, bahkan hukuman mati dan membuat miskin kepada para koruptor! Hukuman yang dapat memberikan efek jera, sehingga para calon koruptor urung melakukan niatnya...





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan