Rabu, 10 Desember 2014

BERSYUKUR: KUNCI MEWUJUDKAN KEINGINAN





Ketika diterapkan pada urusan-urusan duniawi, pepatah “Melihat ialah mempercayai” menjadi benar adanya. Sewaktu “melihat” seseorang menyelesaikan sesuatu, Anda pun “percaya” kepada kemampuan orang itu. Apabila sebuah produk sesuai dengan yang dijanjikan, maka Anda yakin bahwa produk itu bermutu baik. Takala melihat sebuah “formula” menghasilkan hasil yang positif, Anda pun mempercayainya.

Bukti merupakan hal esensial yang menyebabkan seseorang bisa mempercayai sesuatu. Ini menuntun kita pada pepatah lain, “Aku akan mempercayainya kalau aku melihatnya”. Bukti terpapar jelas, terang benderang.

Namun dalam soal-soal spiritual, yang berlalu justru sebaliknya. “Mempercayai ialah melihat”. Apabila Anda mempercayai lebih dulu, Anda akan melihat bahwa sesuatu yang Anda percayai itu mewujud di hadapan Anda. Pernyataan tersebut adalah penyaksian dari kekuatan mempercayai yang menakjubkan. Ini membawa kita pada pepatah lainya lagi, “Aku akan melihatnya kalau aku mempercayainya”.

Namun ada orang-orang tertentu yang enggan mempercayai sesuatu begitu saja.

Itulah mengapa banyak orang yang ketika mengucapkan afirmasi, misalnya, tidak bisa mendapatkan resep rahasia yang dibutuhkan untuk mewujudkan impian mereka.

Apabila Anda pernah mengalami gejolak batin saat pertama kali membaca atau mengucapkan sebuah afirmasi positif, maka ini menunjukkan bahwa Anda tidak benar-benar mempercayai apa yang Anda katakan.

Sebagai contoh, bagaimana Anda dapat mempercayai afirmasi ini sepenuhnya, “tubuh, akal, dan jiwa saya benar-benar sehat”, ketika penampilan luar menunjukkan sebaliknya? Salah satu bagian penting dari tindakan mempercayai ialah merasakan “seolah-olah itu sudah terjadi”. Saya telah menemukan bahwa salah satu cara membangkitkan perasaan tersebut ialah dengan mengekspresikan rasa syukur setelah menyatakan sebuah afirmasi.

Cukup mengucapkan “terima kasih” selepas Anda mengucapkan afirmasi, ini memperkuat kepercayaan bahwa Tuhan akan membantu mewujudkan impian Anda. Anda mungkin tidak akan melihat bagaimana keinginan itu terwujud secara penuh pada saat ini, namun menyampaikan ucapan terima kasih akan membantu Anda mempercayai bahwa apa yang Anda minta telah diwujudkan. Setelah itu, Anda mempunyai harapan bahwa apa yang Anda inginkan pada akhirnya akan terwujud.

Apabila ada suatu “rumus” untuk mewujudkan keinginan, maka inilah dia. Manuskrip-manuskrip spiritual kuno, termasuk Injil, menegaskan bahwa keyakinan merupakan hal esensial dalam menentukan apa yang Anda minta. Keyakinan juga akan memberi peringatan terhadap kemenduaan pikiran.

Ketahuilah dengan tanpa ragu bahwa apa yang Anda afirmasikan sudah menjadi milik Anda. “Kalau Anda percaya, semua hal ini mungkin terjadi bagi mereka yang mempercayainya”. Jadi, percayalah bahwa sesuatu akan terwujud hanya dengan mengucapkan “terima kasih” atau mengasumsikan rasa syukur sehabis menegaskan keinginan. Saya pernah mendengar kutipan indah dari seorang pengarang anonim yang menyatakan, “Kita dapat memulai dari siapakah diri kita dan apa yang kita miliki saat ini, mengungkapkan rasa terima kasih, kemudian membiarkan dia bekerja dengan keajaibannya”.

Ucapkan terima kasih, hingga Anda mewujudkannya. Jika Anda mengucapkannya cukup lama, Anda akan mempercayainya. Hari ini, pancarkan cahaya terima kasih akan memancar di seluruh kehidupan saya.
(Sumber: “Why Gratitude is the Key to Getting Anything You Want”, Jeff Staniforth)

Baca: BELAJAR SELALU BERSYUKUR





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan