Selasa, 29 April 2014

BERUSAHA, DAN BERSYUKURLAH...



Siang itu, Sarinem (85 tahun), duduk di kursi kayu di gubuk reyotnya. Matanya menatap kosong ke luar rumah. Kendaraan lalu lalang melintasi jalan lintas barat Lampung. Jalan antar kebupaten itu hanya berjarak tak lebih dari 5 meter dari rumahnya.

Sementara itu, suaminya, Supardi (82 tahun), membereskan beberapa perkakas di gubuk kayu berukuran 4 x 6 meter di Desa Taman Sari, Kec Gedung Tataan, Kab Pesawaran, Lampung. Gubuk itu ditinggali oleh keduanya setelah sejak 1973 merantau dari Solo, Jateng. Anak-anak mereka, yaitu Subita, Suparno, dan Supartini, memilih bekerja di Jawa.

Kakek-nenek yang memiliki 14 cucu dan 4 buyut itu setiap hari hanya ditemani 6 kambing yang tinggal satu atap ϑengαή mereka. Sehari-hari Supardi mengurus kambing dan menggarap tanaman singkong dan cokelat yang ditanamnya di tanah orang lain di seberang tempat tinggalnya. Ia dibebaskan dari biaya sewa lahan seluas 4 x 4 meter.

"Satu-satunya gantungan hidup kami hanya dari hasil ladang dan menjual kambing itu. Kalau kami menjual kambing, itu tandanya kami tidak mempunyai uang sepeser pun untuk bertahan hidup," ujar Supardi.
Keduanya juga bersyukur karena masih mendapatkan perhatian dari tetangga. Namun, mereka tidak suka dikasihani. Mereka juga tak peduli jika negara atau pemerintah tidak pernah menyapanya...

(Ide dari KOMPAS, Jumat, 25 April 2014)

Baca: APA RESEP UMUR PANJANG?




Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan