Minggu, 31 Juli 2016

TEMAN YANG MENDORONG ANDA SUKSES




Keberhasilan bisnis atau karir Anda akan tumbuh dengan pesat jika mempunyai relasi yang tepat pula. Semakin banyak relasi Anda, baik rekan kerja, partner atau kolega, maka akan semakin beragam Anda dapat mengembangkan bisnis dan karir profesional.

Para pengusaha terbaik selalu tahu bahwa kesuksesan memiliki banyak hubungan dengan siapa saja mereka dikelilingi. Semua orang menyukai kisah sukses seperti halnya Steve Jobs, Elon Musk, Jeff Bezos, Bill Gates, Arianna Huffington, Mark Cuban dan lainnya. Dan sejujurnya, masing-masing dari mereka akan memberitahu Anda bahwa mereka tidak mendapatkan sukses sekarang ini tanpa kehadiran orang-orang tertentu dalam hidup mereka.


Ada 6 tipe orang yang harus Anda dimiliki agar mempunyai kesempatan mencapai keberhasilan:

1. Tipe Pendorong (BOOSTER)
Tujuan utama tipe orang ini adalah untuk mendorong Anda ketika Anda mengambil jalan memutar yang tidak terduga dalam sebuah pekerjaan atau bisnis. Anda tidak perlu memulai bisnis lain sampai Anda menemukan seseorang yang akan mendorong Anda, terlepas dari keadaan. Booster biasanya cenderung adalah pasangan, orang lain yang cukup signifikan posisinya, atau seorang kerabat dekat, atau teman yang lebih tua. Untuk membangun sebuah bisnis atau karir yang lebih cemerlang, Anda perlu banyak Booster dalam hidup Anda.

2. Tipe Juri (JUROR)
Seorang juri sebagaimana dalam sebuah kasus hukum dalam ruang sidang akan melakukan penilaian pada kasus tertentu setelah mereka memiliki semua rincian data dan fakta. Hal yang sama berlaku di sini. Juri yang memberikan umpan balik secara jujur tentang bagaimana Anda melakukan sesuatu, tidak terlepas hanya dalam urusan bisnis tetapi juga dalam urusan kehidupan pribadi. Penting bagi Anda memiliki setidaknya beberapa orang juri dalam jaringan Anda. Mereka adalah pelaku yang akan memberikan gambaran jujur mengenai langkah-langkah strategis Anda dalam membuat keputusan penting.
3. Tipe Penasehat (ADVISOR)
Penasehat adalah orang yang Anda dapat dihubungi disaat-saat Anda membutuhkannya. Mereka diperlukan saat seperti membuat keputusan organisasi atau keputusan perekrutan. Sering kali mereka memiliki pengalaman bisnis disekitaran bidang Anda. Mereka akan memberikan waktu untuk Anda dan selalu memberikan saran pendapat. Kadang-kadang nasihat mereka tidak seperti apa yang ingin Anda dengar karena bertentangan dengan apa yang Anda pikirkan, dan karena itulah mengapa mereka begitu penting. Perlu diingat, niat mereka adalah membantu Anda menjadi sukses.

4. Tipe Mitra (PARTNER)
Mitra adalah Yin untuk Yang Anda. Mereka memiliki keterampilan yang didapatkan secara gratis untuk mengisi kelemahan Anda. Berlawanan dengan kepercayaan yang umum populer, seorang partner (Mitra) ini tidak harus menjadi 50/50 Co-founder. Mitra biasanya orang internal yang tahu siapa Anda dan perusahaan sebagaimana mereka paham punggung tangan sendiri. Terkadang bekerja dengan mereka akan terasa sulit suatu waktu, namun bisnis tidak akan bertahan lama tanpa kehadirannya.

5. Tipe Kolaborator (COLLABORATOR)
Setiap pengusaha harus memiliki seseorang dalam hidup mereka yang bisa mendengarkan ide-ide, dan dengan cepat melewati beberapa bentuk keputusan. Itu adalah definisi Kolaborator: Seseorang yang baik yang akan membantu Anda mengeksplorasi ide-ide baru bisnis, produk, kampanye, atau apa pun. Kolaborator terbaik memiliki imajinasi yang besar dan ide-ide timbal balik.

6. Tipe Insentif (INCENTIVIZER)
Tipe Insentif adalah seseorang yang meragukan Anda, mereka berkata Anda tidak bisa melakukannya, atau menyebutkan Anda tidak cukup baik. Kata-kata atau tindakan mereka telah membakar pikiran Anda dan membuat Anda termotivasi dan bergerak maju untuk membuktikan bahwa mereka salah. Yang paling penting yang mereka lakukan untuk tindakan menghasut.

Jika Anda dapat dengan cepat mengidentifikasi orang-orang ini dalam hidup Anda, maka Anda telah membangun jaringan untuk membantu Anda sukses. Jika Anda melihat kesenjangan, yang terbaik adalah Anda dapat mengambil tindakan segera.





Untuk informasi lebih lanjut hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Minggu, 24 Juli 2016

AFIRMASI POSITIF UNTUK HIDUP POSITIF



Afirmasi diri adalah pernyataan positif atau kalimat yang ditujukan untuk diri sendiri yang bisa mempengaruhi pikiran bawah sadar untuk membantu Anda mengembangkan persepsi yang lebih positif terhadap diri Anda sendiri. Afirmasi dapat dilakukan pada diri sendiri tanpa harus diungkapkan, karena bertujuan untuk meyakinkan diri Anda bahwa pikiran bawah sadar telah menetapkan kebenaran pilihan. Afirmasi lebih relevan dengan sugesti pribadi. Kebalikannya dengan konfirmasi yang dapat dilakukan hanya sekali.

Afirmasi jika diisikan dengan pernyataan-pernyataan negatif akan membangkitkan pesimisme dan ketidakyakinan dengan kemampuan diri. Afirmasi positif adalah cara yang sangat membantu Anda lebih berhasil dalam hubungan personal, karir dan bisnis.


Kenapa Afirmasi Penting?
Afirmasi adalah tindakan positif yang membantu Anda mencegah sabotase nilai-nilai negatif. Afirmasi banyak membantu orang melawan rasa rendah diri, depresi dan kondisi kesehatan mental. Penelitian membuktikan bahwa dengan melakukan afirmasi positif mampu meningkatkan kepercayaan diri.

Afirmasi ibarat latihan olah raga yang rutin dilakukan berulang untuk meningkatkan kesehatan badan dan fisik. Afirmasi bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan pikiran serta cara pandang akan situasi dan kondisi lingkungan.


Kapan Menggunakan Afirmasi?
Situasi apapun dapat menjadi waktu bagi Anda membangun afirmasi dalam pikiran, setiap bangun pagi, saat istirahat siang hari, atau ketika perjalanan pulang dari kantor. Afirmasi dapat dilakukan kapanpun untuk membangun perubahan positif bagi diri Anda.
1.   Saat akan presentasi, dimana Anda perlu meningkatkan percaya diri sebelum tampil.
2.   Mengendalikan perasaan negatif seperti frustasi, marah atau tidak sabar.
3.   Memperbaiki harga diri Anda.
4.   Menyelesaikan proyek yang sudah Anda mulai.
5.   Meningkatkan produktivitas kerja.

Afirmasi akan makin efektif jika Anda gabungkan dengan sikap Positive Thinking dan Goal Setting Technique. Dengan Afirmasi Anda akan mampu mempertahankan motivasi Anda mencapai tujuan jangka pendek atau jangka panjang.


Menggunakan Afirmasi Positif
1.   Afirmasi harus dibentuk seolah-olah sesuatu yang sudah terjadi, dan ini akan membantu Anda percaya akan pernyataan tersebut. Semisal Anda adalah orang yang gugup di depan forum, maka sebelum tampil lakukan afirmasi positif dengan berkata, Saya sudah siap dan Berlatih baik, dan saya pasti bisa memberikan presentasi hebat.

2.   Afirmasi memiki kekuatan manakala dilakukan pengulangan atau penguatan. Terlebih jika Anda menghadapi situasi negatif, maka pengulangan harus semakin sering dan semakin kuat.

3.   Afirmasi akan efektif jika dilakukan dengan perasaan, dipikirkan dan diungkapkan dengan perasaan. Contoh berikut ini adalah afirmasi positif :
·       Saya punya banyak kreatifitas untuk proyek ini
·       Pekerjaan saya akan diakui secara positif oleh bos dan rekan-rekan saya
·       Saya bisa melakukan ini
·       Pendapat saya dihormati dan dihargai oleh tim saya
·       Saya jujur dalam hidup saya, dan pekerjaan saya
·       Saya suka menyelesaikan tugas-tugas dan proyek tepat waktu
·       Saya bersyukur atas pekerjaan yang saya miliki
·       Saya menikmati bekerja dengan tim saya
·       Saya sangat baik pada apa yang saya lakukan
·       Saya adalah orang yang murah hati


Afirmasi adalah pernyataan diri secara positif untuk mengatasi sabotase pikiran negatif. Untuk melakukan afirmasi Anda perlu menganalisa pikiran dan perilaku yang ingin diubah. Lakukan afirmasi secara berulang setiap hari dan kembangkan afirmasi positif Anda dengan menselaraskan bersama Pikiran Positif dan Penetapan Tujuan Pribadi.

Baca: AJAIBNYA KEKUATAN PIKIRAN





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Minggu, 17 Juli 2016

KENAPA SAYA TAK KUNJUNG KAYA?




“SAYA BERPIKIR… KAYA, NAMUN SAYA TAK KUNJUNG KAYA!”

Jika Anda sudah membaca buku Think and Grow Rich dan beroleh pemahaman intelektual bahwa kita “menjadi apa yang kita pikirkan”. Kita mempunyai serangkaian afirmasi tentang kekayaan dan kita terus mengucapkannya setiap hari.

Tetapi kita masih tetap miskin. Kekayaan seolah-olah tak ada di dunia ini. Apa yang harus dilakukan? Menurut Napoleon Hill, kita harus bergulat dengan kekayaan. Baiklah, inilah yang harus dilakukan: kalau kita tidak “Sadar Kaya”, maka seluruh pemikiran ini, dan seluruh afirmasi itu, tidak memberi kita kekayaan. Berpikir dan mengafirmasi hanyalah tindakan yang kita lakukan. Namun, itu sekedar BAGIAN dari rangkaian penciptaan kekayaan. Apabila kita melompati langkah PERTAMA, kita tidak akan beranjak kemana-mana.

Lalu, apa langkah pertama yang harus ditempuh?
Menjadi.
Untuk meraup kekayaan, pertama-tama Anda harus MENJADI kaya. KEMUDIAN, Anda harus memikirkan kekayaan, berbicara tentang afirmasi kekayaan, dan bersikap kaya.
“Tapi bagaimana saya bisa MENJADI kaya kalau saya TIDAK kaya?” tanya salah seorang di antara kita. Pertanyaan logis. Namun, pertanyaan ini berdasarkan anggapan yang keliru bahwa kita tidak mempunyai kekayaan. Sebenarnya kita MEMILIKI kekayaan. Hanya saja kita tidak menyadarinya. Kita mengembangkan realitas fisik yang mencegah kita menjadi kaya. Ini semua bisa dijelaskan dengan memakai teori Fisika Kuantum. Itu sebabnya, mari kita periksa konsep-konsep dasar Fisika Kuantum yang selanjutnya dapat menerangkan apa yang saya katakan.

Mula-mula Anda barangkali sebenarnya menyadari, setidaknya dalam asas intelektual, bahwa di satu ranah sub atomik, kita, dan segala hal di alam semesta ini, adalah energi. Kita, saat mengurai segala sesuatu, dihadapkan pada kenyataan bahwa kita semua terbuat dari bahan yang sama, dan kita semua saling berhubungan. Alam semesta sebenarnya adalah samudera luas Energi, yang bergetar dengan beragam frekuensi yang selanjutnya memberikan ilusi proses individualisasi. Itu berarti kita mengalami ilusi keterpisahan, sebagai obyek fisik, dan kekayaan akibat “indra” kita memecahkan kode Energi yang berada di sekitar kita dengan cara tertentu seakan tengah menciptakan realitas fisik kita.

Ini semua terjadi di dalam pikiran.
Karena itu, segala sesuatu berada di sini dalam jalinan waktu (ilusi yang lain), “Segala sesuatu” hanya bisa eksis karena kita mengawasinya. Dalam pengawasan kita inilah segala sesuatu mewujudkan diri. Tanpa pengawasan kita, segala sesuatu hanyalah berupa “gelombang”: kemungkinan. Para ahli fisika menyepakati hal ini.

Keyakinan kita merupakan sistem Energi yang sangat besar dalam hidup kita. Keyakinan kita menjadikan kita mengalami atau tidak mengalami sesuatu dalam kehidupan, termasuk kesejahteraan. Keyakinan itu yang membentuk diri kita. Kita “MENJADI” di dunia ini sesuai dengan keyakinan kita. Seandainya wujud kita adalah “seseorang yang mencoba meraih kekayaan dengan mengulang-ngulang afirmasi”, maka ITULAH realitas kita. Kita hanya harus MENCOBA mendapatkan kekayaan.

Kita harus membuat keputusan bahwa kita ADALAH kekayaan itu sendiri, kontras dengan beragam bukti fisik eksternal. Bukti itu hanyalah ilusi yang berasaskan sistem keyakinan yang menuntun kita pada titik tersebut.

Orang disebut kaya bukan karena memiliki uang. Yang sebenarnya, mereka memiliki uang karena mereka kaya! Inilah satu hal yang sering dilupakan banyak orang! Ada sebuah contoh yang dapat menjelaskan hal itu.

Tony Robbin menjadi jutawan pada usia yang masih sangat muda. Lantas, sehabis melewati serangkaian perjalanan, dia kehilangan seluruh kekayaannya. Namun, hanya dalam waktu satu tahun dia kembali kaya. Bagaimana dia dapat melakukan hal ini? Itu karena dia TIDAK KEHILANGAN KEKAYAAN. Dia sekedar kehilangan uang, yang hanyalah simbol kekayaan! Karena dia “Sadar Kaya”, dia “menarik” kekayaan ke dalam hidupnya. Dia benar-benar tidak dapat menolaknya! Itulah dirinya! Dan di dunia ini ada seribu orang seperti dirinya yang mampu menarik kekayaan semata karena begitulah diri mereka. Anda dapat membuat keputusan yang sama dan beroleh hasil yang sama.

Sebaliknya, orang-orang yang di dalam diri mereka tumbuh “kesadaran yang kurang” dapat memenangi hadiah lotre dengan nilai jutaan dan menghabiskannya dalam waktu satu tahun. Kesadaran mereka – ENERGI mereka – tidak dapat terus menarik Kekayaan karena mereka pada dasarnya bukanlah figur “kaya”. Namun, sekali lagi, kekayaan adalah yang pertama-tama perlu dilakukan ialah menyadari keberlimpahan kekayaan itu di tiap tempat. Faktanya, kekayaan ada di semua tempat. Kemiskinan dan ketidakmapanan adalah ilusi. Kita dapat mengubah kesadaran kita menuju Kaya – MENJADI KAYA – cukup dengan cara membuat keputusan. LALU, pikiran, omongan, dan tindakan kita akan membuat kita dapat merasakan kekayaan yang merupakan milik kita!

Namun ini adalah hal rumit yang bertentangan dengan sistem kepercayaan kita. Tetapi, sistem kepercayaan itulah sebenarnya yang membuat seseorang terus dibelit kemiskinan.

Cermati kondisi keuangan kita sekarang ini. Periksa keyakinana kita berkaitan dengan Kekayaan dan diri kita, dan lihatlah jangan-jangan kehidupan bukanlah putusan SEMPURNA dari keyakinan kita. Kemudian periksalah dari mana keyakinan itu berasal. Takala kita menyadari bahwa keyakinan kitalah yang menciptakan kondisi kita saat ini, bukan hal lain, maka kita mempunyai pilihan untuk benar-benar mengalami realitas kaya yang diidam-idamkan selama ini!

(Sumber: “I’m Thinking… and Not Growing Rich”, Bob Doyle)





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Sabtu, 16 Juli 2016

5 LANGKAH MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL




Alkisah...

Ada seorang laki-laki yang bekerja jauh di luar kota. Saking jauhnya, baru sebulan kemudian ia berkesempatan menelpon ke rumah untuk mengabari istrinya. Yang menjawab telponnya adalah seorang pembantu.

Dengan heran ia bertanya,

“Sudah berapa lama kamu kerja di situ?”

“Baru satu hari”, jawab pembantu itu.

“Terus”, lelaki itu bertanya lagi, “…di mana istri saya?”

“Oh, istri Bapak ada di kamar atas bersama lelaki lain”, jawab pembantu lagi.

“Apa? Dengan lelaki lain? Kurang ajar…! Begini, tolong kamu bantu saya beri pelajaran pada lelaki itu. Kamu cari pemukul bisbol atau tongkat apapun. Naik ke atas, dan pukul keras-keras kepala lelaki jahanam itu. Jangan tutup telpon ini, saya mau tunggu laporanmu!” Si laki-laki berteriak.

Karena takut, pembantu itupun menjawab, “Baik, Tuan!”

Setelah menunggu beberapa saat, kembalilah pembantu itu dengan tergesa-gesa, “Sudah saya lakukan Tuan, tapi nyonya Julia jadi marah besar!”

Laki-laki lalu menjawab dengan heran, “Nyonya Julia? Bukankah ini nomor telpon 765.4321?”

Dengan lemas pembantu itu menjawab, “Bukan Tuan, ini rumah yang nomor telponnya 765.3210.”

Langsung saja laki-laki ini menutup telponnya!

Silakan Anda pikirkan kemungkinan kelanjutan dari kisah tersebut…



Bagaimana Cara Mengembangkan Kecerdasan Emosional?

Menurut Michael E. Rock, Ed.D. (pelatih dan fasilitator EQ), di hampir setiap jenis pekerjaan, EQ mengalahkan IQ. EQ lebih banyak dicari dan diutamakan. Berbeda dengan kemampuan IQ yang kita gunakan saat memecahkan masalah, EQ harus ditunjukkan nyaris dalam setiap saat kehidupan. Cara kita merasa, seperti cerita lucu di atas, terbukti banyak mempengaruhi cara kita berpikir. Sebaliknya, cara kita berpikir, mempengaruhi sikap dan tindakan kita.


Michael E. Rock menyusun formula sebagai berikut:

EQ Tinggi = Berpikir Jernih + Emosi Sehat + Tindakan Pantas


Untuk mengembangkan kemampuan EQ, mulailah dengan berlatih 3 hal:
  1. Kejernihan atau obyektivitas dalam berpikir;
  2. Menjaga kesehatan emosi; dan
  3. Memilih tindakan yang pantas untuk setiap situasi.


Tips Mengembangkan Emosional

Langkah Pertama:
Mulailah dengan berpikir positif, terhadap diri sendiri dan orang lain.
Sudah terbukti berulang kali bahwa pikiran negatif senantiasa menciptakan emosi negatif. Dan dalam jangka panjang, perasaan itu menciptakan tindakan negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain. Terbukti, rata-rata orang yang mencoba bunuh diri memiliki perasaan yang sangat negatif terhadap dirinya.
Orang yang berpikiran negatif terhadap orang lain sering kali dirundung was-was, curiga, sulit percaya, paranoia, dan mudah stres.
Orang yang selalu pesimistis dan melihat sesuatu dari sisi negatif biasanya selalu diliputi kecemasan.

Langkah kedua:
Mulailah belajar untuk mengekspresikan perasaan.
Bedakan antara mengekspresikan pikiran dengan perasaan. Banyak kekeliruan terjadi, misalnya pada ungkapan perasaan, “Saya merasa seperti…” atau “Saya merasa bahwa masalah ini…”, yang seperti itu sebenarnya adalah Anda sedang mengekspresikan pikiran. Ekspresi emosi yang tepat adalah seperti: “Saya khawatir mengenai…”, “Saya takut akan…”, “Saya betul-betul marah dengan…”.

Langkah Ketiga:
Mulailah dengan memikirkan dampak dari kata-kata Anda terhadap perasaan orang lain.
Sebuah pepatah kuno India mengatakan, “Katakan apa yang Anda rasakan, dan rasakan apa yang Anda katakan.” Selain belajar mengungkapkan perasaan Anda secara tepat, jujur dan tegas (asertif), Anda juga perlu belajar untuk memikirkan dampak dari kata-kata yang Anda ucapkan terhadap perasaan orang lain.

Langkah Keempat:
Mulailah menggali unmet emotional need pada setiap orang yang mempunyai masalah emosi.
Unmet emotional need adalah kebutuhan dasar emosi yang melandasi munculnya perasaan tidak menyenangkan.
Sebagai contoh, seorang manajer menolak untuk mengubah sistem kerja yang berlaku. Ia marah karena merasa tidak dilibatkan dalam perubahan sistem kerja yang baru itu. Atau seorang salesman yang bekerja tanpa motivasi, karena merasa hasil kerjanya tidak pernah dihargai. Seringkali, emosi yang tampak bukanlah emosi yang otentik. Jika digali, biasanya akan ditemukan kebutuhan emosi tertentu yang membuat seseorang bereaksi atau bersikap negatif pada Anda. Cobalah peka dengan kebutuhan emosi mendasar orang lain.

Langkah kelima:
Mulailah untuk belajar mengelola emosi negatif yang Anda rasakan.
Caranya, berlatihlah untuk menerapkan langkah pengelolaan emosi berikut ini:
·       Indentifikasilah perasaan Anda yang sesungguhnya.
·       Carilah akar penyebab perasaan negatif tersebut.
·       Tanyalah berulang-ulang, apa yang bisa membuat Anda merasa lebih baik.
·       Buatlah alternatif solusi bagi perasaan negatif Anda.
·       Pilihlah alternatif solusi yang terbaik

Sampai di sini kita melihat, masih banyak orang yang berpikir bahwa emosi adalah sesuatu yang kacau, tak terkontrol dan sulit diduga. Bukankah seringkali kita mendengar orang berkata, “Mari kita diskusikan hal ini secara rasional, lupakan perasaan-perasaan kita?”
Pengalaman menunjukkan dan membuktikan, emosi yang dikontrol secara baik dapat meningkatkan antusiasme, kepuasan, saling percaya dan komitmen, yang pada gilirannya berdampak besar terhadap kualitas kehidupan kita.
Sebaliknya, emosi yang tidak terkontrol sering berdampak buruk bagi kesehatan mental maupun fisik kita.
Tak heran jika Bahasa Inggris mempunyai ungkapan tepat:

ANGER (kemarahan) hanyalah selisih satu huruf dengan kata DANGER (bahaya).”






Untuk informasi lebih lanjut hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Minggu, 03 Juli 2016

BERIKAN... PUJIAN!




Johnny Figaro benar-benar biang kerok. Anak laki-laki Italia berumur tiga belas tahun yang tinggal dan bersekolah di New York ini selalu terlihat berantakan dan sering mengganggu murid lain hingga berkelahi. Di hadapan para gurunya, ia memang dikenal bandel dan sudah terlalu sering menerima hukuman.

Saat kelas enam, wali kelas Johnny adalah seorang guru muda yang belum lama mengajar di sekolah itu. Guru ini dikenal tenang dan pandai mengatasi permasalahan anak-anak. Pada hari pertamanya di kelas itu, Johny masuk dengah pongahnya dan duduk di kursi dengan sikap duduk yang kurang enak dipandang.
Sang guru muda berkata dengan tenangnya, “Johnny, pagi ini kamu kelihatan gagah dan kemejamu tampak bersih dan rapi.” Mendengar itu, Johny terkesiap dan spontan meluruskan kakinya serta duduk dengan tegap.
Keesokan harinya, Johnny terlihat memakai dasi dengan rapi, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Guru muda itu kembali memberi pujian kepada Johnny kecil. Sepatu yang lebih bersih dan ikatan tali sepatu yang rapi juga tak luput dari pujian.

Kolega sang guru baru terheran-heran dengan perkembangan Johnny. “Berikan pujian padanya dan anak itu akan memberikan reaksi. Puji saja,” katanya memaparkan resep ajaibnya.

Johnny Figaro dewasa adalah seorang rektor sebuah universitas negeri ternama di Amerika bagian tengah sebelah barat. Anak laki-laki yang hidupnya diperkirakan bakal berujung di bagian kota yang kumuh dalam kemiskinannya ini telah menjadi akademisi sukses terkenal berkat seseorang yang menyempatkan diri untuk memberikan pujian tulus kepadanya.

“Kemana ia dipuji, ke sanalah ia menjadi.”





Untuk informasi lebih lanjut hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan