Tampilkan postingan dengan label Training SDM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Training SDM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 April 2017

KAPAN TEAM BULDING DIPERLUKAN?




Pada kondisi dimana proses-proses serta kinerja tidak sesuai dengan perencanaan, maka organisasi atau perusahaan Anda memerlukan adanya Team Building. Dan berbagai strategi yang diterapkan manajemen ternyata belum mampu memberikan hasil terbaik. Menyikapi hal ini, maka sebagai pemimpin perusahaan Anda perlu memahami lebih jauh mengenai kebutuhan Team Building dalam Manajemen Strategi Perusahaan.

Team Building atau Pengembangan Tim menjadi sebuah perilaku berlanjut pada sebuah perusahaan. Tanpa adanya proses pengembangan tim yang berkesinambungan, Anda akan sulit membangun masa depan perusahaan. Terlebih dengan adanya tingkat turnover karyawan yang cukup tinggi, maka pengembangan tim adalah kewajiban yang tidak terbantahkan untuk segera dilakukan.


KAPAN TEAM BUILDING DIPERLUKAN?
Berikut adalah beberapa kondisi dimana perusahaan Anda membutuhkan Team Building:

1.  Produktivitas Turun
Satu diantara tanda-tanda yang jelas, bahwa pengembangan tim adalah krusial segera dilaksanakan adalah menurunkan angka produktivitas karyawan. Produktivitas merupakan barometer dari sebuah keberhasilan proses yang dijalankan organisasi. Produktivitas individu akan berpengaruh langsung pada hasil kerja tim. Dan jika individu menunjukkan tanda penurunan kualitas dan kuantitas kerja, maka bersegeralah Anda mencanangkan Team Building sebagai Manajemen Strategi prioritas.

2.  Konflik Kepentingan antar Karyawan
Tanda lainnya sebagai sinyal utama segera dibangun kembali pengembangan tim adalah adanya konflik antar karyawan, terkait pekerjaan mereka. Lepas dari masalah pribadi yang menyertai, namun konflik kepentingan karyawan adalah pertanda sebuah tim butuh pupuk dan vitamin untuk kembali kompak dalam bekerja. Konflik karyawan adalah bibit perpecahan yang membesar menjadi masalah organisasi.

3.  Ketidakjelasan Tugas dan Hubungan Kerja
Ketika Anda memberikan tugas dan wewenang kepada salah satu karyawan, maka pastikan hal tersebut dapat dipahami dan dimengerti oleh semua pihak yang terkait. Ketidakjelasan hubungan kerja antar karyawan akan menstimulan perpecahan, konflik antar individu dan produktivitas kerja. Untuk menjaga ritme masing-masing tim dalam bekerja, sebagai pemimpin tim Anda perlu membuat kejelasan dalam tugas atau tanggungjawab masing-masing anggota.

4.  Kesalahpahaman akan Keputusan Manajemen
Ketidakjelasan dalam delegasi tugas dan tanggungjawab berpotensi menjadi kesalahpahaman dalam menjalankan keputusan yang sudah ditetapkan manajemen. Seorang Analyst yang di-assign untuk membuat bisnis model, namun karena salah paham mengartikan keputusan manajemen, bisa jadi akan membuat produk purwarupa (prototype). Kesalahpahaman ini mengambil banyak waktu dan tenaga dalam pekerjaan, dan berujung pada inefisiensi dan inefektivitas.

5.  Minimnya Keterlibatan Karyawan
Pengembangan Tim bertujuan untuk membangun sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang menghasilkan bagi tiap-tiap orang yang terlibat. Jika anggota tim Anda banyak yang mulai tidak terlibat, atau tidak melibatkan dirinya untuk kepentingan bersama tim, disitulah tanda bahwa Team Building harus segera dibangun ulang.
Team Building adalah implementasi Manajemen Strategi dalam sebuah bisnis perusahaan. Adanya Tim kerja yang solid akan membantu mempercepat proses kerja, mempermudah penyelesaian masalah dan memperkuat kerjasama untuk berhasil. Tanda-tanda bahwa organisasi Anda perlu segera berbenah kembali dalam Team Building terlihat dari banyaknya inefisiensi dan inefektivitas kerja masing-masing orang dalam tim. Tanda-tanda tersebut memberikan gambaran bagaimana Anda segera bertindak agar tumbuh kembang perusahaan tetap berjalan.

Baca: PROGRAM PELATIHAN & PENGEMBANGAN SDM





Untuk informasi lebih lanjut hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
PT. Berkat Akur Nanjaya

HP: 08112332777
WA/Line: 081919132777
Twitter: @johanesbudi_w
Website: https://www.berkatakurnanjaya.com/

Sabtu, 08 April 2017

MANFAAT TRAINING LEADERSHIP




Perusahaan adalah sebuah organisasi yang terstruktur rapi untuk mencapai tujuan tertentu. Karena bentuknya struktur resmi, maka perusahaan membutuhkan pemimpin yang berkompeten dan memiliki pengetahuan dalam mengatur semua karyawan yang berada di bawahnya.

Leadership atau Kepemimpinan adalah sebuah seni atau gaya yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Kepemimpinan adalah sebuah seni dalam menggerakkan roda organisasi sehingga terus bergerak menuju ke arah yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Baca: SEGALA SESUATU TERGANTUNG KEPEMIMPINAN

Sudah menjadi tugas para pemimpin di perusahaan untuk membina dan mengarahkan anak buahnya agar selalu bekerja dengan baik dan benar.
Pemimpin yang baik juga harus bisa mengayomi dan melindungi anak buahnya agar merasa selalu aman ketika bekerja. Untuk mencetak pemimpin-pemimpin perusahaan yang kompeten seperti ini dibutuhkan Training Leadership yang akan membantu meningkatkan jiwa kepemimpinan dari dalam diri karyawan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap perusahaan akan selalu ada pergantian posisi dikarenakan pengunduran diri, pemecatan, atau pensiun. Untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh karyawan lama biasanya perusahaan akan memberikan promosi berupa kenaikan jabatan bagi karyawan yang sudah dianggap mampu dan sudah memiliki pengalaman yang cukup.

Salah satu posisi yang biasanya ditawarkan adalah posisi-posisi pemimpin seperti kepala cabang, kepala divisi, atau bahkan direktur. Kadang kemampuan manajerial dan pengalaman seorang karyawan sudah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi seorang pemimpin di perusahaan, namun ada baiknya jika perusahaan tetap memberikan Training Leadership kepada keryawan tersebut karena pelatihan kepemimpinan ini dapat memberikan beragam manfaat positif seperti:
  1. Pemimpin merupakan produk ciptaan dan bukan merupakan sebuah bakat atau anugerah yang datang begitu saja. Pemimpin bisa terbentuk melalui pengalaman seperti contohnya adalah para pelatih olahraga. Namun, hanya mengandalkan pengalaman saja tidak cukup, hal inilah yang menjadi alasan kenapa pelatih-pelatih olahraga tersebut biasanya akan menjalani Training Leadership dan kepelatihan sebelum mendapatkan lisensi melatih. Hal yang sama juga berlaku untuk perusahaan. Sebelum mulai menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, alangkah baiknya jika perusahaan memberikan bekal berupa pelatihan kepemimpinan kepada karyawan tersebut.
  2. Pemimpin tidak hanya dituntut bisa mengatur anak buahnya namun juga bisa melakukan pendekatan psikologis agar semua bawahan bisa senang berada di bawah kepemimpinannya. Masalah psikologis bawahan ini nantinya bisa didapatkan oleh karyawan selama menjalani training kepemimpinan.
  3. Biasanya pelatihan kepemimpinan akan disesuaikan dengan jenis industri atau jenis bisnis dimana karyawan tersebut bekerja. Training leadership untuk industri bidang produksi tentunya berbeda dengan pelatihan kepemimpinan untuk industri di bidang jasa. Dengan training yang bisa disesuaikan dengan industri atau bisnis dimana dia bekerja, maka karyawan tersebut akan bisa lebih memahami perusahaan tempatnya bekerja dengan lebih baik.
  4. Tujuan utama dari Training Leadership adalah untuk mempersiapkan seorang karyawan yang nantinya akan membawahi banyak orang untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Berdasarkan hal ini tugas utama seorang pemimpin di perusahaan adalah untuk meningkatkan produktivitas bawahannya agar bisa memberikan keuntungan bagi perusahaan secara maksimal. Pelatihan kepemimpinan akan mengajarkan teknik-teknik memotivasi dan mendorong produktivitas bawahan tanpa harus membuat mereka menjadi tertekan atau stres.
  5. Akan selalu ada tren atau teknologi terbaru dalam dunia bisnis dan industri. Selain dipelajari sendiri melalui berbagai media, tren dan teknik terbaru di dunia industri dan bisnis, hal ini bisa dipelajari melalui pelatihan kepemimpinan. Melalui pelatihan kepemimpinan ini juga seorang calon pemimpin di perusahaan akan diajarkan bagaimana untuk selalu mengikuti tren-tren yang sedang berkembang di dunia industri dan bisnis agar perusahaan tidak ketinggalan dengan para pesaingnya.
  6. Statistik menyebutkan bahwa karyawan yang telah mengikuti pelatihan kepemimpinan dapat membaca dampak yang positif bagi produktivitas perusahaan. Data statistik menyebutkan bahwa ada peningkatan rata-rata sebesar 600% atau enam kali lipat produktivitas perusahaan jika para pemimpinnya mengikuti training kepemimpinan. Hal ini tentunya merupakan hasil statistik yang sangat menggembirakan.


Dalam sebuah Training Leadership biasanya akan ada beberapa materi utama yang akan disampaikan kepada peserta training diantaranya adalah:
  1. Materi pembentukan dan pengembangan karakter untuk mencetak seorang pemimpin yang berwibawa, tegas, disegani, namun tetap bisa memotivasi dan mengayomi semua anak buahnya.
  2. Peserta bisa belajar segala aspek mengenai kepemimpinan diantaranya adalah konsisten terhadap visi dan misi perusahaan, cara memanfaatkan potensi yang ada untuk mencapai tujuan, hingga ilmu management waktu dan sumber daya manusia.
  3. Pemimpin harus kreatif. Training Leadership akan membantu peserta dalam mengeluarkan sisi kreatif mereka ketika menghadapi sebuah masalah.
  4. Menjadi pemimpin yang baik berarti harus memahami dan mengerti kode etik kepemimpinan. Kode etik kepemimpinan ini merupakan prinsip moral dan hukum yang harus dipatuhi oleh semua pemimpin agar selama menjalankan tugasnya pemimpin tersebut tidak menyimpang dari peraturan perusahaan, SOP, norma di masyarakat, hukum yang berlaku, hingga budaya organisasi.






Untuk informasi lebih lanjut hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
PT. Berkat Akur Nanjaya

HP: 08112332777
WA/Line: 081919132777
Twitter: @johanesbudi_w
Website: https://www.berkatakurnanjaya.com/

KENAPA KINERJA KARYAWAN SAYA MENURUN?




Dalam sebuah 'sesi konsultasi' seorang pengusaha bertanya:
"Pak Johanes, apakah training motivasi untuk karyawan akan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan saya?"
"TENTU!" Jawab saya.



Secara singkat saya jelaskan demikian:
Perusahaan terbentuk karena adanya karyawan (SDM). Jika SDM tidak mendapatkan suntikan motivasi, kejenuhan akan membuat kinerja mereka menurun, karena kemampuan untuk berkembang menjadi rendah, yang pada gilirannya tentu SANGAT MERUGIKAN perusahaan.

Penelitian membuktikan bahwa kinerja SDM sangat dipengaruhi oleh training motivasi, karena SDM akan merasa diperhatikan oleh perusahaan, dan tentu akan berdampak positif bagi perusahaan, karena SDMnya mampu memberikan kinerja yang lebih baik bagi perusahaan.

Tujuan utama dari training motivasi SDM adalah membakar kembali SEMANGAT mereka dalam bekerja dan menyelesaikan masalah produktivitas perusahaan, serta meningkatkan kepercayaan diri masing-masing SDM.

Motivasi adalah suatu hal yang diberikan kepada seseorang agar lebih bersemangat & fokus pada tujuan awal. Tujuan awal dari karyawan adalah bekerja terbaik bagi pertumbuhan & kemajuan perusahaan.

Setelah training motivasi SDM, selanjutnya adalah meningkatkan keterampilan mereka agar menghasilkan kinerja yang maksimal. Banyak perusahaan yang beranggapan bahwa karyawannya sudah memahami apa yang selama ini dikerjakan...
APAKAH SUDAH MAKSIMAL???

Baca: MANFAAT TRAINING MOTIVASI KARYAWAN






Untuk informasi lebih lanjut hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
PT. Berkat Akur Nanjaya

HP: 08112332777
WA/Line: 081919132777
Twitter: @johanesbudi_w
Website: https://www.berkatakurnanjaya.com/

MANFAAT TRAINING MOTIVASI KARYAWAN




Apakah training motivasi untuk karyawan akan memberikan banyak manfaat bagi organisasi atau perusahaan?

Pertanyaan seperti itu masih sering terdengar dari perusahaan-perusahaan yang belum memahami bagaimana pentingnya karyawan sebagai asset atau sumber daya yang tak ternilai dari sebuah perusahaan.
Tidak akan pernah terbentuk sebuah perusahaan tanpa adanya karyawan. Tidak akan meningkat pendapatan perusahaan jika tidak ada kerja keras dari karyawan. Maka dari itu, sangatlah penting sebuah perusahaan melakukan training motivasi untuk karyawan.
Bekerja di suatu perusahaan memang membanggakan dan menyenangkan apalagi dengan gaji yang fantastis. Namun tetap saja, yang namanya pekerjaan yang terus dilakukan secara rutin dalam waktu yang lama akan menimbulkan kejenuhan tersendiri.
Jika tidak mendapatkan suntikan motivasi, kejenuhan ini akan membuat kinerja karyawan menurun karena kemauan karyawan untuk berkembang sangat rendah. Motivasi adalah suatu hal yang diberikan pada seseorang agar lebih bersemangat dan fokus pada tujuan awal.
Begitu juga dengan motivasi pekerjaan, kembali merefresh ingatan karyawan mengenai komitmen karyawan untuk bersama-sama mencapai tujuan perusahaan dengan memberikan motivasi pada karyawan perusahaan.


JENIS-JENIS MOTIVASI
Dari penjelasan di atas sekiranya kita mulai mengerti mengapa penting sekali melakukan training motivasi untuk karyawan. Karena bagaimanapun juga perusahaan perlu karyawan yang semangat dan mau bekerja keras untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita perusahaan melalui kinerjanya.
Banyak penelitian memberikan kesimpulan bahwa kinerja karyawan sangat dipengaruhi oleh training motivasi untuk karyawan, karena karyawan akan merasa diperhatikan dan tidak disia-siakan setelah dilakukan training motivasi untuk karyawan.

• Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang menggali kembali semangat dan motivasi dari dalam diri individu tersebut. Setiap individu pasti memiliki semangat kerja sendiri untuk mencapai tujuan sesuai dengan harapannya dan apa yang ia yakini. Nah, semangat itulah yang sebenarnya menjadi motivasi paling penting untuk setiap individu.

• Motivasi ekstrinsik
Motivasi ini berkaitan dengan semangat kerja atau motivasi individu yang dipengaruhi oleh sesuatu dari luar dirinya. Meskipun rangsangan motivasi ini dipengaruhi oleh hal-hal dari luar diri individu, kebanyakan jenis motivasi yang satu ini memiliki pengaruh besar dalam mengembalikan semangat individu untuk melakukan pekerjaan.


Langkah Melakukan Training Motivasi Untuk Karyawan
Tujuan utama dari training motivasi untuk karyawan adalah membakar kembali semangat karyawan dalam bekerja dan menyelesaikan masalah perusahaan serta meningkatkan kepercayaan diri masing-masing karyawan.
Untuk membakar semangat dan menyuntikan kepercayaan diri ini perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang tak hanya main-main tetapi dikemas dalam suatu training khusus yaitu training motivasi untuk karyawan.

Berikut beberapa cara mudah melatih motivasi karyawan yang sangat sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja tak perlu orang-orang yang memerlukan keahlian khusus.

• Tingkatkan keberanian
Training motivasi untuk karyawan yang bisa dilakukan oleh siapa saja adalah dengan cara mendorong karyawan untuk meningkatkan keberanian akan ketakutanya. Biasanya seorang karyawan menjadi sedikit melempem dalam bekerja karena ketakutanya terhadap sesuatu hal, baik dari dalam atau dari luar dirinya sendiri. Misalnya takut melakukan kesalahan dalam bekerja karena takut dipecat dan kalah bersaing dengan karyawan lainya.
Ketakutan inilah yang secara tidak sadar akan membatasi pergerakan karyawan. Sehingga perlu dilakukan motivasi agar mau memecahkan ketakutan tersebut, mengubahnya menjadi motivasi untuk maju dan menjadi lebih baik.

• Pemberian reward
Memberikan penghargaan kepada karyawan berprestasi yang sudah berjasa terhadap peningkatan nilai bisnis perusahaan juga dapat menjadi motivasi tersendiri bagi karyawan. Karena dengan begitu karyawan akan merasa kerja kerasnya dalam memajukan perusahaan turut dihargai meskipun karyawan tersebut berasal dari divisi yang tidak bersentuhan secara langsung dengan siklus kerja perusahaan. Tetapi, semangat karyawan dalam memberikan yang terbaik untuk perusahaanlah yang patut untuk dihargai.

• Menciptakan sesuatu yang baru
Sebagai seorang kepala bagian atau manajer perlu sekali dalam beberapa waktu merubah suasan kerja karyawan menjadi lebih menyenangkan. Menciptakan hal-hal baru yang dapat meningkatkan semangat karyawan untuk bekerja. Misalnya memberikan seragam baru kepada karyawan secara cuma-cuma, mendekorasi tempat kerja agar menjadi lebih nyaman dan yang lainnya.


TRAINING MOTIVASI SECARA NYATA
Jika semua cara training sederhana di atas sudah dilaksanakan, sepertinya perusahaan memang perlu melakukan training motivasi untuk karyawan secara nyata dengan cara mengadakan training. Training ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Bisa dengan konsep ceramah yang memotivasi sekali atau melakukan serangkaian kegiatan bersama di alam dan di sela-sela kegiatan tersebut disisipi dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang mampu membakar motivasi.

Sedangkan untuk pilihan materi yang diberikan selama training motivasi untuk karyawan juga sangat beragam yang bisa disesuaikan dengan maksud dan tujuan kita dalam melakukan training motivasi untuk karyawan.

Misalnya corporate culture, suatu materi training motivasi yang isinya materi untuk merefreshkan kembali kecintaan karyawan terhadap perusahaan. Dengan begitu karyawan akan mampu menyadari betapa cintanya terhadap perusahaan yang menjadi tempatnya bekerja dan karyawan akan termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi untuk memberikan yang terbaik pada perusahaan.


Materi yang bisa dimasukan dalam training motivasi untuk karyawan selanjutnya adalah memperdalam kembali keterampilan karyawan. Banyak perusahaan yang berasumsi bahwa karyawannya sudah sangat memahami apa yang selama ini dikerjakan. Namun tidak ada salahnya jika perusahaan memberikan materi-materi yang ringan mengenai keterampilan di dalam bekerja, mengingatkan kembali hal-hal kecil yang mungkin sudah dilupakan oleh banyak karyawan. Dengan begitu pengetahuan karyawan dapat fresh kembali dan lebih semangat untuk bekerja.

Baca: PROGRAM PELATIHAN & PENGEMBANGAN SDM





Untuk informasi lebih lanjut hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
PT. Berkat Akur Nanjaya

HP: 08112332777
WA/Line: 081919132777
Twitter: @johanesbudi_w
Website: https://www.berkatakurnanjaya.com/

MENGUKUR RETURN ON INVESTMENT TRAINING




Banyak organisasi atau perusahaan yang telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melaksanakan Program Pelatihan & Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Oleh karena itu HARUS mengukur seberapa efektif program yang telah dilaksanakan tersebut, apakah memberikan kotribusi seperti yang diharapkan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Cara mengukur efektivitas training menekankan pada pentingnya mengetahui standar training dari individu dalam kelompok sebelum hal-hal baru terjadi, dan kemudian menentukan perubahan yang telah terjadi dengan mengukur perbedaan dalam pencapaian setelah pelaksanaan training selesai. Dengan kata lain, tujuannya adalah untuk menentukan efektivitas training dengan cara ilmiah pada tingkat kinerja individu.

Dalam perusahaan yang telah mampu mengukur hubungan antara tujuan perusahaan, hal ini sering dinyatakan sebagai indikator kinerja utama atau Key Performance Indicators (KPI) dan tujuan pelatihan.

Efektivitas training umumnya dilihat dari sejauh mana hasil pelatihan mencapai tujuan perilaku, dan berapa biaya pelatihan dapat kembali atau Return on Investment (ROI) karena efektifitas tersebut merupakan cara untuk mendapatkan keuntungan bagi perusahaan. Hal ini penting untuk memahami bahwa kedua komponen tersebut adalah berbeda dan tidak selalu berhubungan. Agar perusahaan mendapatkan keuntungan dari investasi pelatihan tersebut, maka harus ada ukuran efektivitas dari pelatihan yang telah dilakukan.

Pada tahap awal, tujuan training harus jelas bahwa pasti ada beberapa tujuan perilaku yang terkait dengan pelatihan tersebut, jika tidak mengapa diadakan training atau pelatihan tersebut?


Mengukur Efektivitas Training

Program training dilakukan untuk tujuan menanggapi atau mengoreksi GAP KOMPETESI dari SDM dalam perusahaan. Pelatihan mungkin efektif dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, tetapi gagal untuk menyelesaikan masalah perusahaan karena masalah perusahaan tidak diidentifikasi dengan benar saat dilakukan training tersebut. Untuk mengukur efektivitas training, tujuan program training harus dipahami dengan jelas sebelum dilakukan training sehingga tujuan perusahaan yang diinginkan bisa dicapai.

Pelatihan yang dilakukan oleh perusahaan kadang tidak menghasilkan hal yang berarti. Hal ini tentu sebuah kerugian bagi perusahaan. Sebenarnya bila ingin melakukan training yang efektif, perusahaan harus memiliki TUJUAN yang matang dan berhubungan dengan peningkatkan kualitas Sumber Saya Manusia (SDM) yang dimiliki maupun produktivitas perusahaan.

Beberapa hal yang sering dilupakan diantaranya adalah mengukur efektifitas training yang telah dilaksanakan tersebut. Hal ini bisa mengurangi biaya training maupun meningkatkan kualitas dari peserta. Bila perusahaan menginginkan kualitas SDM yang dimiliki bagus, hal pertama yang HARUS dilakukan adalah dengan memilih topik atau materi training yang tepat.
Setelah tujuan program pelatihan ditetapkan, ukuran paling tepat dari efektivitas training hanyalah sebuah tes apakah peserta benar-benar memahami training tersebut dengan menampilkan pola-pola perilaku yang berbeda sebagai hasil dari mengikuti pelatihan. Jika tidak, hal itu tidak bisa dikatakan pelatihan tersebut efektif.

Jika training memiliki tujuan yang tepat, dirancang dengan baik, dan dengan konten yang solid sehingga peserta dapat belajar bagaimana untuk mencapai tujuan, dan peserta harus bertanggung jawab untuk menggunakan apa yang telah mereka pelajari dari pelatihan. Hal ini tentu akan berdampak positif terhadap perubahan perilaku peserta secara signifikan, dan menguntungkan bagi perusahaan.


Cara-cara mengetahui efektivitas training:

    1)  Penilaian individu dari pelatihan melalui evaluasi tertulis
Biasanya evaluasi tertulis individu yang mengikuti program pelatihan yang dilakukan adalah kegiatan terakhir dalam periode training tersebut. Hal ini bertujuan untuk meminta evaluasi tertulis secara menyeluruh oleh
para peserta setelah beberapa waktu mengikuti pelatihan. Hal ini memungkinkan untuk pertanyaan lebih bermakna dan tanggapan tentang apa dan bagaimana isi pelatihan tersebut yang bisa mereka pahami. Pertanyaan dalam sesi terakhir dari training tersebut adalah untuk mengukur aplikasi yang sebenarnya dari peserta pelatihan sehingga akan memberikan pemahaman yang lebih jelas apakah pelatihan itu benar-benar tepat dan efektif bagi mereka.

    2)  Pengukuran terhadap kinerja individu
Peserta training ditargetkan untuk meningkatkan kinerja, mengukur kinerja individu sebelum training dan kinerja mereka setelah training akan memberikan ukuran yang baik dari efektivitas training tersebut. Kinerja peserta yang ikut dalam training juga harus diukur, hal ini untuk mengetahui apakah kinerja tersebut benar-benar memberikan hasil yang maksimal
bagi perusahaan. Kinerja karyawan yang baik akan memberikan hasil yang baik pula bagi perusahaan. Pengukuran efektivitas training melalui kinerja masing-masing individu akan memberikan dampak positif bagi kelangsungan dan perkembangan bisnis perusahaan. Dengan mengetahui kinerja karyawan setelah mengikuti training, perusahaan bisa mengetahui apakah mereka benar-benar telah berubah setelah mengikuti training.

    3)  Pengukuran spesifik perusahaan pada peningkatan produksi
Hal ini memerlukan metodologi yang lebih canggih
, namun dapat dilakukan karena perusahaan memang harus bersedia untuk berkomitmen pada beberapa proses yang melibatkan penilaian sebelum dan setelah peserta mengikuti training. Selain itu cara ini juga dapat melibatkan perbandingan sebelum dan sesudah peserta dilatih dibandingkan dengan karyawan yang tidak ikut pelatihan. Produksi pada perusahaan akan menentukan seberapa besar keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Dengan training diharapkan perusahaan akan memiliki tingkat produksi yang lebih baik karena SDM menjadi lebih produktif dan inovatif dalam mencipkatakn produk yang akan dijual.

    4)  Perbandingan produktivitas peserta training
Cara ini sebenarnya merupakan hasil yang biasanya dianggap sebagai hal yang telah terjadi sebagai akibat dari beberapa pelatihan yang dirancang khusus untuk mendorong inisiatif atau partisipasi dari karyawan. Perbandingan produktivitas peserta, bagaimana mereka bekerja dengan lebih baik.

    5)  Survei Attitude
Sering survei terhadap efektivitas training yang dilakukan dalam perusahaan dirancang kurang tepat sasaran. Masalah-masalah yang melibatkan pembuatan pertanyaan yang buruk dan kurangnya hasil serta ketidakmampuan untuk mengembangkan respon sehingga menimbulkan training menjadi tidak efektif. Namun, survei yang dirancang dengan benar akan memberikan wawasan yang baik ke dalam efektivitas beberapa jenis training. Beberapa cara di atas mengasumsikan aplikasi yang tepat seperti variabel luar yang dapat dikendalikan atau diminimalkan, instrumen nyata dan reliabel yang digunakan sekaligus data diinterpretasikan dengan benar, hal ini terutama berlaku ketika sebelum dan sesudah survei dilakukan.

Selain itu, tidak semua metodologi yang disebutkan di atas mewakili semua kemungkinan, cara tersebut tidak selalu mewakili metode terbaik yang digunakan dalam situasi tertentu untuk mengukur efektivitas training yang telah dilakukan.


Ada empat tahap yang terpisah untuk evaluasi efektivitas program pelatihan:

REAKSI
Tahap pertama adalah tentang reaksi dari peserta pelatihan atas training tersebut. Hal ini merupakan pengukuran yang berkaitan dengan bagaimana para peserta pelatihan memahami tentang isi dari training. Setelah training biasanya ada umpan balik agar bisa dilakukan evaluasi. Sebagian besar perusahaan tidak melakukan pengukuran efektivitas training yang telah dilakukannya, hal ini menyebabkan pemilik atau manager perusahaan tidak benar-benar tahu apakah peserta pelatihan telah benar-benar belajar sesuatu dari training tersebut.

PENGETAHUAN
Pengukuran terhadap efektivitas dapat dilakukan dengan menggunakan pertanyaan dan membandingkan hasil. Pertanyaan-pertanyaan harus objektif dan erat kaitannya dengan tujuan training. Dengan cara ini Anda dapat menentukan pengetahuan jika training benar-benar disampaikan dan ini dipahami oleh peserta pada saat itu. Perusahaan yang melakukan hal ini dapat meyakini bahwa peserta pelatihan telah benar-benar belajar sesuatu pada saat mengikuti training.
Mengapa harus membuat pengukuran tersebut bahwa kita harus melakukan pengukuran dan mempertimbangkan pembelajaran pada waktu tertentu? Karena kita tidak tahu apakah pembelajaran memiliki waktu untuk diinternalisasikan dan menjadi solid.
Sering peserta training yang mengalami kesulitan menerima materi yang diberikan saat training, tidak mampu mencerna inti training beberapa hari kemudian apalagi bulan kemudian. Ada berbagai teknik yang bisa diterapkan untuk meningkatkan efektivitas training, tapi pada dasarnya adalah dengan menggunakan teknik training yang baik dan efektif.

PERILAKU
Hal ini berkaitan dengan perilaku yang artinya perubahan yang terukur pada individu sebagai hasil dari kehadiran mereka pada saat training, hal ini paling tidak harus mengharapkan adanya perubahan dari setiap program pelatihan yang telah dilakukan. Program pelatihan tersebut untuk menentukan apakah sudah diterjemahkan ke dalam manfaat yang nyata bagi perusahaan ataukah cukup hanya memiliki produktivitas dan kualitas atau diperbaiki. Apakah jumlah kesalahan dalam perusahaan telah berkurang setelah training? Apakah ketersediaan SDM dalam perusahaan telah diperbaiki? Apakah moral tenaga kerja berubah menjadi lebih baik setelah diberikan traning?

HASIL
Pelatihan harus membuat perbedaan nyata dalam kinerja dan produktivitas, hal ini terkait erat dengan kompetensi pelatihan yang telah terbukti memberikan hasil yang efektif. Hal ini mungkin terdengar sederhana, tetapi tidak bagi kebanyakan perusahaan karena sebagian besar perusahaan tidak mengukur efektivitas setelah training. Melalui pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi cara yang paling efektif dalam membantu individu untuk menjadi kompeten.


Bagaimana Dengan Biaya Training yang Efektif?
Tujuan dari perusahaan melaksanakan training adalah untuk mengubah perilaku SDM dan meningkatkan kinerja mereka dengan rencana dan strategi yang jelas. Pendekatan ini rasional untuk pelatihan dan pengembangan SDM yang ditunjukkan untuk pekerjaan tertentu dalam perusahaan. Jika pendekatan dalam mengukur efektivitas training ini telah metodis, maka akan mendapatkan manfaat yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran tersebut.

Tujuan training harus berhubungan dengan kebutuhan perusahaan dan berisi pengetahuan yang diperlukan karyawan untuk memahami tugas dan melakukan kewajibannya serta keterampilan praktis yang diperlukan.

Dengan cara ini kita dapat memastikan bahwa pelatihan tersebut sesuai dengan individu pada saat itu dalam perkembangan mereka dan benar-benar memenuhi kedua kebutuhan mereka dan manajemen perusahaan. Jika kita mengukur efektivitas training, hal ini adalah untuk mengembangkan program pelatihan tersebut, apakah program berbasis kelas atau kegiatan lokakarya yang akan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan selanjutnya sehingga dapat mengukur perbaikan dalam kinerja dan kontribusi terhadap perusahaan.

Tujuan training bagi perusahaan adalah sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan khusus melalui training tersebut. Mencapai tujuan individu dalam cara yang sistematis dan logis secara efektif untuk memetakan proses menuju pencapaian tujuan bersama dalam perusahaan.
  

Manfaat yang dapat diperoleh perusahaan dengan melakukan training diantaranya adalah:
• Produktivitas yang lebih baiK
• Peningkatan moral
• Reputasi ditingkatkan
• Mengurangi stres
dalam bekerja
• Pergantian staf yang lebih rendah


Input, Proses, dan Output yang berkaitan dengan training
Ada banyak kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dan untuk menghubungkan kompetensi ini dalam menentukan pelatihan. Dalam hal ini berarti bahwa tujuan strategis perusahaan harus berkaitan dengan tujuan team yang dibentuk dalam perusahaan.
Dalam kompetensi baru akan diperlukan teknologi baru dan persaingan yang mendorong atau mungkin memaksa perusahaan untuk mengadopsi sistem kerja dan proses baru. Beberapa perusahaan terkemuka mengakui bahwa perubahan ini akan mempengaruhi paradigma perusahaan.
Training yang dilakukan perusahaan memberikan perhatian dengan melatih dan memberikan hasil yang diinginkan dalam perusahaan tersebut. Model pengukuran efektivitas training tersebut dirancang untuk menghadapi dan memecahkan masalah. Dalam model ini perbedaan dibuat antara manfaat training jangka pendek dan manfaat yang didapatkan dalam training jangka panjang, tetapi dalam hal ini tujuan sebenarnya adalah menentukan ketersediaan SDM yang potensial melalui pelatihan di masa depan.

Evaluasi training seperti halnya pengukuran efektivitas training umumnya sering diabaikan oleh perusahaan yang telah melakukan training untuk karyawan mereka. Secara umum evaluasi training tidak efektif karena banyak yang cenderung bersifat subyektif dan dipengaruhi oleh pertimbangan yang sebenarnya di luar program itu sendiri.

Sebaiknya sebelum melakukan training harus mengetahui dan menentukan bahwa hal penting adalah untuk mengidentifikasi kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh individu agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Kompetensi ini adalah keterampilan dan pengetahuan yang mendukung yang harus menjadi bagian yang dimiliki perusahaan dan dapat jalankan oleh manajemen perusahaan.
Baca: BEKERJA DENGAN HEBAT!

Pengukuran efektivitas training harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dengan memenuhi kebutuhan pengembangan kompetensi individu dan kelompok. Dengan mencapai tujuan ini perusahaan memiliki tujuan untuk pelatihan dan bisa mendapatkan manfaat pelatihan yang benar-benar memberikan hasil yang nyata bagi perusahaan.

Dalam persaingan bisnis yang sangat ketat seperti sekarang, hal ini adalah sangat penting untuk mempertahankan keunggulan kompetitif melalui tenaga kerja atau SDM dalam perusahaan. Karena itu training perlu dilakukan untuk memberikan yang terbaik dari sistem manajemen dan kinerja yang efektif. Untuk itu training memang dibutuhkan pada tiap perusahaan jika mereka ingin mendapatkan keuntungan jangka panjang dari training tersebut.





Untuk informasi lebih lanjut hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
PT. Berkat Akur Nanjaya

HP: 08112332777
WA/Line: 081919132777
Twitter: @johanesbudi_w
Website: https://www.berkatakurnanjaya.com/