Tampilkan postingan dengan label kisah inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 April 2017

FROM ZERO TO HERO




Acara 'Kick Andy' malam ini, Jumat-7 April 2017, barusan temanya 'from zero to hero':

> SESI PERTAMA, seorang Tukang Bangunan menjadi Desainer Grafis, pembuat logo.

> SESI KEDUA, seorang Sopir Bis menjadi Pembuat Logo juga.


Usaha keras dari kedua orang tersebut akhirnya membuahkan hasil menjadi juara di beberapa even nasional maupun internasional.
Kehidupan ekonomi mereka yang semula serba kekurangan sekarang menjadi berkecukupan. Maklum...hadiah yang mereka dapatkan bentuknya $ dolar. Padahal untuk berkomunikasi dengan pihak luar negeri mereka dibantu oleh Google Translate. Hehehe...

> SESI KETIGA, dua orang Kuli Bangunan menjadi musisi hip-hop dangdut Jawa, bernyanyi duet, dan mempunyai puluhan ribu penggemar. Sekarang honor mereka untuk sekali manggung Rp 30 juta, berawal HANYA DIBAYAR Rp 75 ribu untuk manggung tiga lagu. Bicara bahasa Indonesianya juga masih campur Jawa. Hehehe...


PEMBELAJARAN yang saya dapatkan dari mereka:
1)  Karena miskin dan sering dihina, mereka akhirnya BERANI PUNYA MIMPI demi masa depan yang lebih baik.
2)  Berani melangkah dan MAU BELAJAR.
3)  MEMILIKI MENTOR yang mendorong dan membantu mereka hingga maju.
4)  Di dunia ini banyak kemungkinan, dan semuanya bisa menjadi mungkin, tergantung SEBERAPA BESAR KEMAUAN KITA.
5)  Mereka TIDAK LUPA untuk menyisihkan penghasilannya bagi orang lain.

ITULAH PILIHAN HIDUP!
NASIB MEREKA ADA DI TANGAN MEREKA SENDIRI!


Mereka jadi CONTOH HIDUP yang bertumbuh, bermanfaat, dan bermakna...

Baca: APA KUNCI UNTUK SUKSES?






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
PT. Berkat Akur Nanjaya

HP: 08112332777
WA/Line: 081919132777
Twitter: @johanesbudi_w
Website: https://www.berkatakurnanjaya.com/

Minggu, 27 November 2016

EMPATI...




Seorang gadis cilik disuruh ibunya belanja ke warung sekitar rumah dengan pesan khusus bahwa dia harus langsung pulang setelah berbelanja.

Gadis kecil itu baru pulang satu jam kemudian.

Ketika gadis cilik itu tiba di rumah, ibunya yang sudah sejak tadi cemas langsung memarahi dia, katanya, “Kemana saja kamu?”

Gadis kecil itu menjawab, “Maaf, ibu. Saya tahu saya terlambat. Tetapi tadi boneka Jane pecah, karena itu saya berhenti dan menolong dia untuk membetulkan bonekanya.”

Ibunya bertanya lagi, “Lalu bagaimana kamu membetulkan boneka yang pecah itu?”

Dengan caranya yang lucu dan kekanak-kanakan, gadis kecil itu mengatakan, “Saya sesungguhnya tidak dapat menolong Jane untuk memperbaiki bonekanya, tetapi saya duduk bersama dia dan membantu dia menangis…”

Baca: KASIH DAN PEDULI





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Jumat, 03 Juni 2016

KEPUTUSAN TANPA TINDAKAN




Lima ekor katak nongkrong di atas sebatang balok pohon di tengah kolam. Tiga di antaranya memutuskan untuk melompat ke dalam kolam tersebut. Berapa ekor katak yang sekarang berada di kolam?

Jawabannya: “Dua”.

Mengapa? Sebab ketiga ekor katak tersebut hanya membuat keputusan, tetapi tidak mewujudkannya ke dalam sebuah tindakan!
Sebuah keputusan tanpa diwujudkan dalam bentuk tindakan tidak ada gunanya.

Banyak orang yang membuat rencana-rencana untuk masa depannya agar menjadi lebih baik, indah, dan menarik. Mereka sudah membuat keputusan dan menentukan pilihan akan melakukan beberapa hal ini dan itu. Namun, hanya bicara, tidak ada tindakan!

Oleh karena itulah hidupnya dari waktu ke waktu tidak berubah menjadi lebih baik, indah, dan menarik seperti yang mereka inginkan.

Baca: MERAIH SUKSES SECARA SADAR





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Senin, 30 Mei 2016

KETIDAKJUJURAN...




Ketika berusia enam tahun, John bersama ayahnya ditahan oleh polisi, karena mengemudikan kendaraan dengan melanggar lampu merah. Ayahnya memberi petugas polisi itu uang lima puluh ribu rupiah sambil menunjukkan SIM dan STNK kendaraan. “Tidak apa-apa anakku, semua orang juga berbuat begitu”, kata ayahnya menjelaskan.

Ketika John berusia sepuluh tahun, dia pergi berbelanja dengan ibunya. Kasir mengembalikan uang lebih kepada ibunya. Ibunya menyimpan dengan cepat-cepat kelebihan uang kembalian itu dalam dompetnya sambil berbisik kepada John, “Tiap orang juga berbuat seperti itu”.

Ketika John berusia enam belas tahun, sekolah SMA sambil bekerja di sebuah toko swalayan milik pamannya, salah satu tugasnya ialah menaruh tomat yang matang di bagian bawah keranjang dan yang masih mentah di bagian atas. Pamannya mengatakan kepadanya, “Begitu kerja yang baik”.

Saat John berusia dua puluh tahun, kuliah di sebuah perguruan tinggi. Pada suatu hari dia didatangi oleh seorang teman mahasiswanya dan bertanya apakah dia mau membeli beberapa jawaban ujian. Dia membeli dan akhirnya kedapatan nyontek, lalu dilarang mengikuti ujian.

Akhirnya, orangtuanya mengetahui hal tersebut dan dengan sangat kecewa mengatakan, “John, bagaimana mungkin kamu melakukan hal yang tidak jujur itu? Sesuatu yang orang tidak dapat mentolelir ialah ketidakjujuran...”






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Sabtu, 13 Februari 2016

SELAMA KITA MAU BERPIKIR DENGAN OTAK




Michael Jordan, berkulit hitam, lahir pada tahun 1963, di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara, sementara upah ayahnya yang hanya sedikit tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Semenjak kecil, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, hingga ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depannya.

Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya, “Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?”
Jordan menjawab, “Mungkin 1 dollar.”
Ayahnya kembali berkata, “Bisakah dijual seharga 2 dollar? Jika engkau berhasil menjualnya, berarti telah membantu ayah dan ibumu.”
Jordan menganggukkan kepalanya, “Saya akan mencobanya, tapi belum tentu bisa berhasil.”

Dengan hati-hati dicucinya pakaian itu hingga bersih. Karena tidak ada setrika untuk melicinkan pakaian, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering. Keesokan harinya, dibawanya pakaian itu ke stasiun bawah tanah yang ramai, ditawarkannya hingga lebih dari enam jam. Akhirnya Jordan berhasil menjual pakaian itu. Kini ia memegang lembaran uang 2 dollar dan berlarilah ia pulang.

Setelah itu, setiap hari ia mencari pakaian bekas, lalu dirapikan kembali dan dijualnya di keramaian. Lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, “Coba engkau pikirkan bagaimana caranya untuk menjual pakaian ini hingga seharga 20 dolar?”
Kata Jordan, “Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling tinggi nilainya hanya 2 dollar.”
Ayahnya kembali memberikan inspirasi, “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? Pasti ada jalan.”

Akhirnya, Jordan mendapatkan satu ide, ia meminta bantuan sepupunya yang belajar melukis untuk menggambarkan Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Lalu ia berusaha menjualnya di sebuah sekolah anak orang kaya. Tak lama kemudian seorang pengurus rumah tangga yang menjemput tuan kecilnya, membeli pakaian itu untuk tuan kecilnya. Tuan kecil itu yang berusia sepuluh tahun sangat menyukai pakaian itu, sehingga ia memberikan tip 5 dolar. Tentu saja 25 dollar adalah jumlah yang besar bagi Jordan, setara dengan satu bulan gaji dari ayahnya.

Setibanya di rumah, ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya, “Apakah engkau mampu menjualnya kembali dengan harga 200 dolar?” Mata ayahnya tampak berbinar.
Kali ini, Jordan menerima pakaian itu tanpa keraguan sedikit pun. Dua bulan kemudian kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farah Fawcett datang ke New York melakukan promo. Setelah konferensi pers, Jordan pun menerobos pihak keamanan untuk mencapai sisi Farah Fawcett dan meminta tanda tangannya di pakaian bekasnya. Ketika Fawcett melihat seorang anak yang polos meminta tanda tangannya, ia dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada pakaian itu.
Jordan pun berteriak dengan sangat gembira, “Ini adalah sehelai baju kaus yang telah ditandatangani oleh Miss Farah Fawcett, harga jualnya 200 dollar!” Ia pun melelang pakaian itu, hingga seorang pengusaha membelinya dengan harga 1.200 dollar.

Sekembalinya ke rumah, ayahnya dengan meneteskan air mata haru berkata, “Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya, Anakku. Engkau sungguh hebat!”

Malam itu, Jordan tidur bersama ayahnya dengan kaki bertemu kaki. Ayahnya bertanya, “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian yang sudah kau lakukan, apakah yang berhasil engkau pahami?”
Jordan menjawab dengan rasa haru, “Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya.”
Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala, “Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia yang hidup? Mungkin kita berkulit lebih gelap dan lebih miskin, tapi apa bedanya?”

Seketika dalam pikiran Jordan seakan ada matahari yang terbit. Bahkan sehelai pakaian bekas saja bisa ditingkatkan harkatnya, lalu apakah saya punya alasan untuk meremehkan diri sendiri?

Sejak saat itu, dalam hal apapun, Michael Jordan merasa bahwa masa depannya indah dan penuh harapan.
Potensi diri kita begitu besar, jangan dipandang kecil hanya karena kita terlihat lecek, kumal, dan belum “diasah”. Tetaplah berusaha dan teruslah mengasah kecerdikan dalam melakukannya.





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Minggu, 06 Desember 2015

AKIBAT RAKUS...




Ada sebuah kisah…

Sepasang suami-istri petani, sesudah makan malam, mengatakan, “Jika kita mempunyai cukup tanah, kita akan berbahagia.”

Cerita selanjutnya menjelaskan bahwa akhirnya mereka memiliki sebidang tanah yang lebih luas. Tetapi setiap makan malam selalu diakhiri dengan keinginan yang sama, tanah yang lebih luas. Pada waktunya, akhirnya mereka memperoleh tanah yang luas dan menjadi pemilik tanah yang kaya.
Pada suatu hari salah seorang tetangganya seorang kaya yang bijak, yang mempunyai tanah jauh lebih luas dari mereka datang berkunjung ke rumah mereka.

Ketika acara makan malam diakhiri dengan keinginan yang sama, memiliki tanah yang lebih luas, tetangganya itu bertanya, “Berapa luas tanah yang dirasakan cukup?”

Petani itu, meskipun sekarang seorang yang sudah kaya, menjawab bahwa seluruh tanah yang dapat dikelilingi olehnya selama satu hari, itu sudah cukup.
Tetangganya yang bijak itu mengatakan bahwa dia dapat berjalan mengelilingi tanahnya - yang lebih luas daripada milik petani itu, dan tanah yang akan diinjak oleh petani itu akan menjadi miliknya, dengan syarat bahwa petani itu harus membuat satu lingkaran.

Pagi-pagi sekali petani itu bangun dan berjalan kemudian berlari-lari kecil sepanjang hari, dengan selalu memperbesar lingkarannya agar memperoleh lebih luas tanah yang akan menjadi miliknya.

Senja tiba dan dia dapat melihat di kejauhan istrinya dan tetangganya itu. Daripada berlari menuju mereka, dia memutuskan untuk membuat lingkaran yang lebih besar lagi termasuk di dalamnya rumah tetangganya yang sangat mewah dan megah.

Tepat ketika matahari terbenam dia sampai ke tempat istrinya. Dengan penuh rasa kemenangan, dia tertawa gembira – kemudian mati; denyut jantungnya berhenti karena telah memaksa diri untuk berlari.

Pada hari berikutnya dia dikuburkan. Sekali lagi, tetangganya yang bijak itu menanyakan kepada istri petani itu, “Berapa luas tanah yang dirasakan sudah cukup?”

Kemudian dia sendiri menjawab pertanyaan itu, “Tidak seorang pun membutuhkan sebidang tanah lebih dari dua kali tiga meter! Dan teman kita ini akhirnya mempunyai cukup tanah.”






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Minggu, 22 November 2015

TUHAN AKAN MENYELAMATKAN SAYA




Ada banjir melanda suatu daerah dan seorang yang percaya kepada Tuhan berusaha keras untuk menolong siapa saja sedapat mungkin…

Air sudah sampai ke lututnya dan masih terus naik ketika dia menolong seorang lelaki dan wanita yang terluka.

Sebuah mobil datang mendekat dan salah seorang berkata kepadanya, “Biarkan saya menyelamatkan kamu.”

Namun orang itu berkata, “Selamatkan dua orang ini, Tuhan akan menyelamatkan saya.”

Mobil itu menjauhi dia.

Air naik terus sampai ke pinggangnya, sementara dia terus berusaha untuk membantu seorang ibu dan dua anaknya.

Sebuah perahu karet penyelamat datang mendekat dan salah seorang berkata, “Mari, biarkan saya menyelaamatkan kamu.”

Tetapi orang itu berkata, “Selamatkan orang-orang malang ini. Tuhan akan menyelamatkan saya.”

Perahu karet itu menjauhi dia untuk menyelamatkan orang lain.

Air terus naik dan sekarang sudah sampai ke lehernya, dia terus berenang dan kemudian sebuah helikopter datang mendekat, salah seorang berteriak, “Mari, biarkan saya menyelamatkan kamu.”

Orang itu pun berkata, “Selamatkan saja orang lain, saya percaya Tuhan akan menyelamatkan saya.”

Air naik semakin tinggi lagi, akhirnya karena kelelahan dia tenggelam.
Dia menemukan dirinya berada di gerbang surgawi dan sang malaikat menuntun dia ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Orang itu berkata, “Tuhan, saya menjalani hidup yang baik, memberi makan kepada yang lapar, menolong para tuna wisma, sering berdoa dan menghantar banyak orang untuk percaya pada-Mu. Katakan padaku, mengapa Engkau tidak menolong aku ketika aku berada di tengah banjir itu?”


Tuhan menjawab, “Jangan persalahkan Aku. Aku sudah berbuat untuk menolong kamu, bukankah Aku sudah mengirim mobil, perahu karet, dan helikopter untuk menyelamatkanmu dari banjir…”






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Minggu, 30 Agustus 2015

TERLAMBAT SUDAH...




Seorang raja muda ingin menjadi orang baik dan bijaksana serta memerintah rakyatnya menurut kehendak Tuhan. Dia mengumpulkan semua orang paling bijaksana dari seluruh kerajaan dan memerintahkan mereka untuk mengumpulkan semua kebijaksanaan ke dalam buku sehingga dia dapat membaca dan belajar sendiri bagaimana cara memerintah dengan baik.

Orang-orang bijaksana itu segera memulai proyek raksasa itu, dan sesudah tiga puluh tahun pekerjaan itu baru selesai. Satu barisan kuda panjang membawa lima ribu jilid buku berjalan menuju istana. Raja pada waktu itu sudah berusia hampir lima puluh tahun, dan dipenuhi dengan banyak rencana dan tugas kerajaan. Dia melihat kuda-kuda yang bermuatan buku itu dan berkata, “Saya terlalu sibuk untuk membaca begitu banyak buku. Bawa semua buku ini dan ringkas lagi untuk saya.”

Pekerjaan meringkas memakan waktu lima belas tahun, dan kemudian orang-orang bijaksana itu dengan bangga menghasilkan lima ratus jilid buku. Raja itu mengatakan, “Bukunya masih terlalu banyak. Ringkas menjadi lima puluh buku cukup.” Banyak orang bijaksana telah meninggal tetapi para pengganti mereka meneruskan proyek itu dan dalam waktu sepuluh tahun mereka membawa lima puluh buku kepada raja.

Pada saat itu raja sudah tua dan kelelahan. Raja berkata, “Kalian harus meringkasnya ke dalam satu buku.” Mereka dapat menyelesaikannya dalam waktu lima tahun. Tetapi ketika mereka membawa buku yang sangat berharga itu kepada raja, itu sudah terlambat, sebab raja sudah terbaring di ranjang kematian.

Baca: KELOLA WAKTU ANDA!





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Rabu, 26 Agustus 2015

JEJAK YANG INGIN ANDA TINGGALKAN




Sepanjang perjalanan hidup yang telah, sedang, dan akan kita lalui, banyak orang masuk ke dalam kehidupan kita. Satu demi satu datang dan pergi silih berganti. Ada yang tinggal untuk sementara waktu ada yang meninggalkan jejak di dalam hati kita, dan tidak sedikit yang membuat kita menjadi berubah. Demikian, berlaku sebaliknya…

Alkisah, hiduplah seorang tukang lentera di sebuah desa kecil. Setiap petang lelaki tua ini berkeliling desa membawa sebuah tongkat obor penyulut lentera dan memanggul sebuah tangga kecil. Ia menghampiri setiap tiang lentera, menyandarkan tangganya, lalu naik, dan menyulut sumbu di dalam kotak kaca lentera. Kemudian ia pun turun, memanggul tangganya lagi, dan berjalan menuju tiang lentera berikutnya.

Begitu seterusnya sampai akhirnya ia menghilang dari pandangan, ditelan kegelapan malam. Namun, siapa pun akan selalu tahu kemana lelaki tua itu pergi dari lentera yang dinyalakannya.

Seperti halnya perjalanan si lelaki tua dari satu lentera ke lentera berikutnya, dan meninggalkan jejak…
Kemana pun kita melangkah dan pergi, tentu akan meninggalkan jejak. Sikap, perkataan, dan perbuatan kita adalah jejak-jejak yang kita tinggalkan bagi setiap orang yang ada di sekitar kita.
Tujuan yang jelas dan besarnya rasa tanggung jawab atas pekerjaan kita adalah jejak-jejak yang akan diikuti oleh tim kerja kita.

Tinggalkanlah jejak yang bermakna, yang secara otomatis bermakna untuk diri sendiri dan bagi mereka yang mengikutinya, sehingga kita pantas mendapatkan ucapan penuh penghargaan:
“Saya tahu kemana ia akan pergi dari jejak-jejak yang ditinggalkannya...”

Baca: BERBAGI KASIH - MENGUMPULKAN HARTA DI SURGA





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Minggu, 31 Mei 2015

SAYA ORANG YANG DIKASIHI TUHAN!




Tepat sepuluh tahun yang lalu, bulan Mei 2005, saya mengundurkan diri dari karir saya sebagai General Manager di salah satu grup perusahaan farmasi terbesar di Indonesia yang berkantor pusat di Bandung. Saya meninggalkan gaji besar dan fasilitas bagus yang telah saya dapatkan pada waktu itu.

Pada saat itu usia saya 38 tahun, saya tampil percaya diri dan terkesan agak sombong, dengan ilmu yang saya miliki dan pengalaman yang telah saya dapatkan selama tujuh belas tahun bekerja dan berkarir di empat perusahaan. Di tiga perusahaan sebelumnya, saya hanya bekerja selama 1-2 tahun saja, baru di grup perusahaan farmasi itulah saya bekerja dan meniti karir selama dua belas tahun. Pada awal saya masuk kerja di grup perusahaan farmasi itu sebagai Manager Trainee, dan kemudian mengundurkan diri dengan jabatan General Manager.

Selama dua belas tahun berkarir di perusahaan farmasi tersebut, hampir setiap dua tahun saya mendapatkan promosi jabatan. Hal itu dimungkinkan terjadi karena prestasi kerja saya yang bagus dan perusahaannya memang maju-terus bertumbuh dan berkembang dengan pesat.
Baca: Profile Penulis


Saya lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, anak pertama dari tiga bersaudara, ketiganya laki-laki. Dari keluarga sederhana, namun orang tua saya sangat berkeinginan agar ketiga anaknya mendapatkan pendidikan tinggi, kemudian bekerja dan berkarir dengan baik, sehingga tidak harus bangun subuh-pagi-pagi sekali pergi ke pasar berjualan di sana untuk menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Kami tiga bersaudara, dibesarkan dan mendapatkan pendidikan di rumah dengan cara yang hebat dari kedua orang tua kami yang sangat luar biasa!

Menyelesaikan sekolah TK, SD, dan SMP di Tasikmalaya, kemudian melanjutkan SMA dan kuliah di Jogja. Pada tahun 1989 saya mendapatkan gelar Sarjana-S1 dari Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.

Semasa sekolah di SMA dan kuliah di Jogja saya aktif dalam organisasi sekolah dan kemahasiswaan, dan pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa selama satu periode-dua tahun. Dari situlah saya belajar dan mengasah kemampuan dalam berorganisasi, bekerja sama, melakukan koordinasi dan mengambil keputusan.
Baca: SOFT SKILL vs HARD SKILL

Sebagai mahasiswa saya pun aktif di Mapala (mahasiswa pencinta alam). Hampir semua gunung di Jawa Tengah dan Jawa Timur puncaknya sudah saya daki. Di sinilah saya belajar dan mengasah karakter untuk tidak egois, peduli terhadap kawan, mencintai alam, dan mental pantang menyerah untuk mendaki sampai ke puncak.
Baca: Belajar dari Alam

Sekitar dua tahun terakhir sebelum mendapatkan gelar sarjana-menjelang KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan menyusun skripsi, selain kuliah saya pun bekerja sebagai Salesman dari sebuah perusahaan yang saat itu sedang mengembangkan bisnisnya di wilayah Jogja dan sekitarnya. Dengan menjadi Salesman itulah saya belajar dan mengasah kemampuan salesmanship-skill komunikasi, manajemen waktu, perencanaan dan pencapaian target, serta menjalin hubungan bisnis.
Baca: Mau Sukses, Harus Ingat Target!

Sekolah, kuliah maupun bekerja dan berkarir saya lalui dengan baik dan lancar. Mempunyai banyak sahabat, kawan serta kolega dan relasi.

Itulah gambaran singkat sebuah episode dari perjalanan hidup yang telah saya lalui selama 38 tahun. Menjalani kehidupan yang baik, indah, dan menarik…
Sungguh, Tuhan sangat baik dan mengasihi saya!

Mei 2005 saya mengajukan proposal bisnis kepada seorang sabahat-selaku investor untuk mendirikan sebuah perusahaan. Tanpa harus mengeluarkan modal dari kocek sendiri, namun dengan pembagian keuntungan bisnis 40% untuk saya dan 60% untuk investor. Inilah awalnya saya menjalankan ‘bisnis tanpa modal’ sendiri.
Baca: Cara Memulai Bisnis Tanpa Modal?

Dalam proses mendirikan perusahaan itu, saya mengajukan beberapa nama untuk perusahaan kami, tetapi sahabat saya menolak nama-nama tersebut. Demikian sebaliknya, dia pun mengusulkan beberapa nama, namun saya tolak juga. Dengan kata lain, nama-nama yang diusulkan untuk perusahaan belum ada yang cocok bagi kami berdua.

Suatu hari, sekitar jam 2-3 pagi, saya terbangun lalu masuk ke ruang kerja di rumah, menyalakan komputer dan muncullah 'ide' sebuah kata di layar monitor untuk nama perusahaan kami: SEMANGAT (SElalu MAju iNGat Akan Tuhan). Keesokan harinya nama itu saya usulkan kepada partner bisnis saya untuk dijadikan nama perusahaan kami, dan dia langsung menyetujuinya. Hari-hari berikutnya Notaris memproses nama perusahaan itu ke berbagai departemen terkait, dan akhirnya berdirilah PT. SEMANGAT.


Tahun-tahun berlalu, bisnis di perusahaan kami, PT. SEMANGAT berjalan dengan baik dan lancar...
Namun, terutama karena KESOMBONGAN dan KEBODOHAN yang saya lakukan, serta KESALAHAN dalam pengelolaan keuangan, pada tahun kelima sejak berdirinya perusahaan itu, akhirnya saya jatuh... Bangkrut! Habis! Hancur!
Baca: Atur Keuangan Anda!

Di tahun 2010 itu saya harus menjual semua asset yang telah saya kumpulkan selama 17 tahun berkarir plus 5 tahun berbisnis. Rumah, mobil, dan segala macam perhiasan harus dijual, dan semua tabungan harus dikuras untuk melunasi pinjaman tambahan modal ke bank. Selain itu, saya harus membereskan semua kewajiban saya ke relasi bisnis, dan melunasi semua pinjaman pribadi kepada perseorangan. Saya jatuh sampai ke titik yang paling bawah, dan saya menjadi miskin! Namun demikian saya masih bisa berjalan tegak karena tidak berhutang kepada siapapun...
Baca: Terancam Miskin di Hari Tua

Saat itu, yang tersisa hanyalah uang untuk menyewa rumah sederhana dan membeli sebuah motor bekas. Setelah sekian lama tahun saya kemana-mana mengendarai mobil yang nyaman tidak pernah kehujanan dan kepanasan, kembali saya harus mengalami kehujanan dan kepanasan karena hnya naik motor. Beberapa orang yang mengenal saya bersikap sinis melihat saya seperti itu.

Dalam situasi dan kondisi begitu, saya 'mencatat' ada tiga kelompok orang-orang yang memberikan tanggapan:
    1.   Mereka yang menyalahkan bahkan menghina atas kegagalan dan keterpurukan yang saya alami.
    2.   Mereka yang memberikan dorongan kepada saya untuk tegar, terus berjuang, dan bangkit lagi.
    3.   Mereka yang tidak mempedulikan saya.

Dari situ saya belajar untuk mengerti dan memahami, bahwa dalam situasi dan kondisi apapun yang sedang kita hadapi dalam hidup ini, akan selalu ada tiga kelompok orang yang: SETUJUTIDAK SETUJU, dan NETRAL atas sikap, perkataan, dan perbuatan serta keputusan yang akan kita ambil.
Baca: Catatan dari Mother Theresa


Ketika itu, di rumah kontrakan sudah tidak ada pembantu rumah tangga dan sopir pribadi. Karena tidak ada pembantu rumah tangga dan tidak memiliki mobil lagi, anak-anak saya justru menjadi mandiri. Bangun tidur mereka membereskan tempat tidur sendiri. Selesai makan, mereka mencuci piring dan sendok-garpu sendiri. Jika waktunya berbenturan, kadang mereka harus pergi-pulang sekolah naik angkutan umum sendiri. Itulah dampak positif yang didapat dari keterpurukan ekonomi saat itu. Selain mandiri, bila diperhatikan dengan cermat, anak-anak saya tampak lebih dewasa daripada teman-teman sebayanya. Puji Tuhan!

Pada saat itu, dalam keadaan ekonomi yang sangat terpuruk, saya memutuskan untuk menjadi seorang broker professional (TIPS menjadi Broker Profesional), menjadi agen property dan produk serta jasa lainnya. Saya mulai lagi membangun bisnis baru dari awal, namun dengan konsep yang sama, yaitu ‘bisnis tanpa modal’.
Baca: Cara Memulai Bisnis Tanpa Modal


Pada suatu hari, dalam perjalanan dari Bandung ke Cimahi, untuk meninjau lokasi property yang akan dijual, ban belakang motor saya tiba-tiba kempes dan ternyata bocor. Saat itu uang yang ada di dompet hanya Rp 5.000,-, cukup untuk menambal satu lubang ban motor itu. Selesai ditambal saya melanjutkan perjalanan. Jarak sekitar satu kilometer dari tukang tambal tadi, ban belakang motor saya kempes lagi, bocor dan harus ditambal lagi. Kepada tukang tambal yang kedua ini, saya harus menyerahkan KTP sebagai jaminan karena sudah tidak punya uang lagi. Akhirnya saya harus pinjam uang ke teman yang rumahnya di sekitar lokasi tukang tambal ban untuk membayar jasa menambal ban itu. Sebelumnya, lewat telpon saya telah berusaha minta tolong (menagih) kepada teman saya yang berhutang untuk mentransfer sejumlah uang, namun dijawab bahwa dia sedang tidak punya uang juga. (Sebagai catatan: teman saya ini, salah seorang yang sebenarnya masih berhutang lumayan besar kepada saya, akhirnya saya anggap lunas!).
Baca: Lepaskan dan relakanlah...

Pada momen itulah, sambil berdiri di sekitaran tempat tukang tambal ban yang sedang bekerja, saya meneteskan air mata dan berteriak dalam hati, "Johanes Budi Walujo, kamu dilahirkan oleh ibumu dan diciptakan oleh Tuhan ke dunia ini untuk menjadi seorang Pemenang, BUKAN sebagai Pecundang seperti sekarang ini!”
Baca: Anda Dilahirkan untuk Menjadi Pemenang!

Dengan kerja keras, cara yang cerdas, dan doa, satu tahun sejak peristiwa 'tragis' di tempat tukang tambal ban itu, saya mampu membeli dua mobil sekaligus, satu mobil saya pakai pribadi, dan satu mobil lagi untuk keluarga!


Sejak itulah di setiap kesempatan saya menceritakan kepada banyak orang, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya! Di sepanjang kehidupan yang telah saya jalani sampai dengan hari ini, sungguh saya merasakan bahwa Tuhan begitu mengasihi saya, dan membuat banyak mujizat dalam hidup saya…
Saya terus berusaha memotivasi orang-orang untuk tetap SEMANGAT!




Setiap bangun di pagi hari, saya berdoa minta petunjuk dan bimbingan Tuhan, apa maksud dan tujuan dari penciptaan diri saya hidup di dunia ini… Kenapa Tuhan masih memberi saya nafas hidup sampai hari ini? Setiap hari saya terus berusaha untuk mengerti dan memahami apa tujuan dari penciptaan diri saya hidup di dunia ini? 
Baca: Dua Hari Terpenting dalam Hidup Manusia

Dulu saya pikir sukses itu artinya kaya raya…
Jika sukses dinilai dari kekayaan dan materi, berapa banyak kekayaan dan materi yang harus dikumpulkan untuk dibilang sukses?

Dulu saya pikir sukses itu berarti punya jabatan dan memiliki kekuasaan…
Jika sukses dinilai dari jabatan dan kekuasaan, apa jabatan dan kekuasaan yang harus dicapai untuk disebut sukses?

Dulu saya pikir sukses itu adalah popularitas…
Jika sukses dilihat dari popularitas, popularitas seperti bagaimana yang harus diraih untuk disebut sukses?


Di SEMANGAT - Kampus Kehidupan, akhirnya saya memaknai bahwa SUKSES adalah…





Jika Anda kaya, maka berbagi KASIHlah dengan kekayaanmu itu.
Jika Anda pintar, maka bebagi KASIHlah dengan kepintaranmu itu.
Jika Anda punya ilmu pengetahuan, maka bebagi KASIHlah dengan ilmu pengetahuanmu itu.
Jika Anda punya pengalaman, maka berbagi KASIHlah dengan pengalamanmu itu.
Jika Anda punya tenaga, maka berbagi KASIHlah dengan tenagamu itu.
Jika Anda punya waktu, maka berbagi KASIHlah dengan waktumu itu.
Jika Anda punya hati, maka berbagi KASIHlah dengan hatimu itu.
Jadi, sesungguhnya siapapun dapat berbagi KASIH!




Demikian sebuah periode dari kehidupan pribadi saya, semoga bermanfaat, dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi Anda yang membacanya…

Hiduplah dengan SEMANGAT agar bisa memberi SEMANGAT kepada orang lain!

Semoga Tuhan selalu memberi kesehatan, membuka jalan terang, memberi petunjuk dan bimbingan, serta melindungi dan memberkati kita semua.
Amin





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w