Minggu, 31 Mei 2015

SAYA ORANG YANG DIKASIHI TUHAN!




Tepat sepuluh tahun yang lalu, bulan Mei 2005, saya mengundurkan diri dari karir saya sebagai General Manager di salah satu grup perusahaan farmasi terbesar di Indonesia yang berkantor pusat di Bandung. Saya meninggalkan gaji besar dan fasilitas bagus yang telah saya dapatkan pada waktu itu.

Pada saat itu usia saya 38 tahun, saya tampil percaya diri dan terkesan agak sombong, dengan ilmu yang saya miliki dan pengalaman yang telah saya dapatkan selama tujuh belas tahun bekerja dan berkarir di empat perusahaan. Di tiga perusahaan sebelumnya, saya hanya bekerja selama 1-2 tahun saja, baru di grup perusahaan farmasi itulah saya bekerja dan meniti karir selama dua belas tahun. Pada awal saya masuk kerja di grup perusahaan farmasi itu sebagai Manager Trainee, dan kemudian mengundurkan diri dengan jabatan General Manager.

Selama dua belas tahun berkarir di perusahaan farmasi tersebut, hampir setiap dua tahun saya mendapatkan promosi jabatan. Hal itu dimungkinkan terjadi karena prestasi kerja saya yang bagus dan perusahaannya memang maju-terus bertumbuh dan berkembang dengan pesat.
Baca: Profile Penulis


Saya lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, anak pertama dari tiga bersaudara, ketiganya laki-laki. Dari keluarga sederhana, namun orang tua saya sangat berkeinginan agar ketiga anaknya mendapatkan pendidikan tinggi, kemudian bekerja dan berkarir dengan baik, sehingga tidak harus bangun subuh-pagi-pagi sekali pergi ke pasar berjualan di sana untuk menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Kami tiga bersaudara, dibesarkan dan mendapatkan pendidikan di rumah dengan cara yang hebat dari kedua orang tua kami yang sangat luar biasa!

Menyelesaikan sekolah TK, SD, dan SMP di Tasikmalaya, kemudian melanjutkan SMA dan kuliah di Jogja. Pada tahun 1989 saya mendapatkan gelar Sarjana-S1 dari Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.

Semasa sekolah di SMA dan kuliah di Jogja saya aktif dalam organisasi sekolah dan kemahasiswaan, dan pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa selama satu periode-dua tahun. Dari situlah saya belajar dan mengasah kemampuan dalam berorganisasi, bekerja sama, melakukan koordinasi dan mengambil keputusan.
Baca: SOFT SKILL vs HARD SKILL

Sebagai mahasiswa saya pun aktif di Mapala (mahasiswa pencinta alam). Hampir semua gunung di Jawa Tengah dan Jawa Timur puncaknya sudah saya daki. Di sinilah saya belajar dan mengasah karakter untuk tidak egois, peduli terhadap kawan, mencintai alam, dan mental pantang menyerah untuk mendaki sampai ke puncak.
Baca: Belajar dari Alam

Sekitar dua tahun terakhir sebelum mendapatkan gelar sarjana-menjelang KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan menyusun skripsi, selain kuliah saya pun bekerja sebagai Salesman dari sebuah perusahaan yang saat itu sedang mengembangkan bisnisnya di wilayah Jogja dan sekitarnya. Dengan menjadi Salesman itulah saya belajar dan mengasah kemampuan salesmanship-skill komunikasi, manajemen waktu, perencanaan dan pencapaian target, serta menjalin hubungan bisnis.
Baca: Mau Sukses, Harus Ingat Target!

Sekolah, kuliah maupun bekerja dan berkarir saya lalui dengan baik dan lancar. Mempunyai banyak sahabat, kawan serta kolega dan relasi.

Itulah gambaran singkat sebuah episode dari perjalanan hidup yang telah saya lalui selama 38 tahun. Menjalani kehidupan yang baik, indah, dan menarik…
Sungguh, Tuhan sangat baik dan mengasihi saya!

Mei 2005 saya mengajukan proposal bisnis kepada seorang sabahat-selaku investor untuk mendirikan sebuah perusahaan. Tanpa harus mengeluarkan modal dari kocek sendiri, namun dengan pembagian keuntungan bisnis 40% untuk saya dan 60% untuk investor. Inilah awalnya saya menjalankan ‘bisnis tanpa modal’ sendiri.
Baca: Cara Memulai Bisnis Tanpa Modal?

Dalam proses mendirikan perusahaan itu, saya mengajukan beberapa nama untuk perusahaan kami, tetapi sahabat saya menolak nama-nama tersebut. Demikian sebaliknya, dia pun mengusulkan beberapa nama, namun saya tolak juga. Dengan kata lain, nama-nama yang diusulkan untuk perusahaan belum ada yang cocok bagi kami berdua.

Suatu hari, sekitar jam 2-3 pagi, saya terbangun lalu masuk ke ruang kerja di rumah, menyalakan komputer dan muncullah 'ide' sebuah kata di layar monitor untuk nama perusahaan kami: SEMANGAT (SElalu MAju iNGat Akan Tuhan). Keesokan harinya nama itu saya usulkan kepada partner bisnis saya untuk dijadikan nama perusahaan kami, dan dia langsung menyetujuinya. Hari-hari berikutnya Notaris memproses nama perusahaan itu ke berbagai departemen terkait, dan akhirnya berdirilah PT. SEMANGAT.


Tahun-tahun berlalu, bisnis di perusahaan kami, PT. SEMANGAT berjalan dengan baik dan lancar...
Namun, terutama karena KESOMBONGAN dan KEBODOHAN yang saya lakukan, serta KESALAHAN dalam pengelolaan keuangan, pada tahun kelima sejak berdirinya perusahaan itu, akhirnya saya jatuh... Bangkrut! Habis! Hancur!
Baca: Atur Keuangan Anda!

Di tahun 2010 itu saya harus menjual semua asset yang telah saya kumpulkan selama 17 tahun berkarir plus 5 tahun berbisnis. Rumah, mobil, dan segala macam perhiasan harus dijual, dan semua tabungan harus dikuras untuk melunasi pinjaman tambahan modal ke bank. Selain itu, saya harus membereskan semua kewajiban saya ke relasi bisnis, dan melunasi semua pinjaman pribadi kepada perseorangan. Saya jatuh sampai ke titik yang paling bawah, dan saya menjadi miskin! Namun demikian saya masih bisa berjalan tegak karena tidak berhutang kepada siapapun...
Baca: Terancam Miskin di Hari Tua

Saat itu, yang tersisa hanyalah uang untuk menyewa rumah sederhana dan membeli sebuah motor bekas. Setelah sekian lama tahun saya kemana-mana mengendarai mobil yang nyaman tidak pernah kehujanan dan kepanasan, kembali saya harus mengalami kehujanan dan kepanasan karena hnya naik motor. Beberapa orang yang mengenal saya bersikap sinis melihat saya seperti itu.

Dalam situasi dan kondisi begitu, saya 'mencatat' ada tiga kelompok orang-orang yang memberikan tanggapan:
    1.   Mereka yang menyalahkan bahkan menghina atas kegagalan dan keterpurukan yang saya alami.
    2.   Mereka yang memberikan dorongan kepada saya untuk tegar, terus berjuang, dan bangkit lagi.
    3.   Mereka yang tidak mempedulikan saya.

Dari situ saya belajar untuk mengerti dan memahami, bahwa dalam situasi dan kondisi apapun yang sedang kita hadapi dalam hidup ini, akan selalu ada tiga kelompok orang yang: SETUJUTIDAK SETUJU, dan NETRAL atas sikap, perkataan, dan perbuatan serta keputusan yang akan kita ambil.
Baca: Catatan dari Mother Theresa


Ketika itu, di rumah kontrakan sudah tidak ada pembantu rumah tangga dan sopir pribadi. Karena tidak ada pembantu rumah tangga dan tidak memiliki mobil lagi, anak-anak saya justru menjadi mandiri. Bangun tidur mereka membereskan tempat tidur sendiri. Selesai makan, mereka mencuci piring dan sendok-garpu sendiri. Jika waktunya berbenturan, kadang mereka harus pergi-pulang sekolah naik angkutan umum sendiri. Itulah dampak positif yang didapat dari keterpurukan ekonomi saat itu. Selain mandiri, bila diperhatikan dengan cermat, anak-anak saya tampak lebih dewasa daripada teman-teman sebayanya. Puji Tuhan!

Pada saat itu, dalam keadaan ekonomi yang sangat terpuruk, saya memutuskan untuk menjadi seorang broker professional (TIPS menjadi Broker Profesional), menjadi agen property dan produk serta jasa lainnya. Saya mulai lagi membangun bisnis baru dari awal, namun dengan konsep yang sama, yaitu ‘bisnis tanpa modal’.
Baca: Cara Memulai Bisnis Tanpa Modal


Pada suatu hari, dalam perjalanan dari Bandung ke Cimahi, untuk meninjau lokasi property yang akan dijual, ban belakang motor saya tiba-tiba kempes dan ternyata bocor. Saat itu uang yang ada di dompet hanya Rp 5.000,-, cukup untuk menambal satu lubang ban motor itu. Selesai ditambal saya melanjutkan perjalanan. Jarak sekitar satu kilometer dari tukang tambal tadi, ban belakang motor saya kempes lagi, bocor dan harus ditambal lagi. Kepada tukang tambal yang kedua ini, saya harus menyerahkan KTP sebagai jaminan karena sudah tidak punya uang lagi. Akhirnya saya harus pinjam uang ke teman yang rumahnya di sekitar lokasi tukang tambal ban untuk membayar jasa menambal ban itu. Sebelumnya, lewat telpon saya telah berusaha minta tolong (menagih) kepada teman saya yang berhutang untuk mentransfer sejumlah uang, namun dijawab bahwa dia sedang tidak punya uang juga. (Sebagai catatan: teman saya ini, salah seorang yang sebenarnya masih berhutang lumayan besar kepada saya, akhirnya saya anggap lunas!).
Baca: Lepaskan dan relakanlah...

Pada momen itulah, sambil berdiri di sekitaran tempat tukang tambal ban yang sedang bekerja, saya meneteskan air mata dan berteriak dalam hati, "Johanes Budi Walujo, kamu dilahirkan oleh ibumu dan diciptakan oleh Tuhan ke dunia ini untuk menjadi seorang Pemenang, BUKAN sebagai Pecundang seperti sekarang ini!”
Baca: Anda Dilahirkan untuk Menjadi Pemenang!

Dengan kerja keras, cara yang cerdas, dan doa, satu tahun sejak peristiwa 'tragis' di tempat tukang tambal ban itu, saya mampu membeli dua mobil sekaligus, satu mobil saya pakai pribadi, dan satu mobil lagi untuk keluarga!


Sejak itulah di setiap kesempatan saya menceritakan kepada banyak orang, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya! Di sepanjang kehidupan yang telah saya jalani sampai dengan hari ini, sungguh saya merasakan bahwa Tuhan begitu mengasihi saya, dan membuat banyak mujizat dalam hidup saya…
Saya terus berusaha memotivasi orang-orang untuk tetap SEMANGAT!




Setiap bangun di pagi hari, saya berdoa minta petunjuk dan bimbingan Tuhan, apa maksud dan tujuan dari penciptaan diri saya hidup di dunia ini… Kenapa Tuhan masih memberi saya nafas hidup sampai hari ini? Setiap hari saya terus berusaha untuk mengerti dan memahami apa tujuan dari penciptaan diri saya hidup di dunia ini? 
Baca: Dua Hari Terpenting dalam Hidup Manusia

Dulu saya pikir sukses itu artinya kaya raya…
Jika sukses dinilai dari kekayaan dan materi, berapa banyak kekayaan dan materi yang harus dikumpulkan untuk dibilang sukses?

Dulu saya pikir sukses itu berarti punya jabatan dan memiliki kekuasaan…
Jika sukses dinilai dari jabatan dan kekuasaan, apa jabatan dan kekuasaan yang harus dicapai untuk disebut sukses?

Dulu saya pikir sukses itu adalah popularitas…
Jika sukses dilihat dari popularitas, popularitas seperti bagaimana yang harus diraih untuk disebut sukses?


Di SEMANGAT - Kampus Kehidupan, akhirnya saya memaknai bahwa SUKSES adalah…





Jika Anda kaya, maka berbagi KASIHlah dengan kekayaanmu itu.
Jika Anda pintar, maka bebagi KASIHlah dengan kepintaranmu itu.
Jika Anda punya ilmu pengetahuan, maka bebagi KASIHlah dengan ilmu pengetahuanmu itu.
Jika Anda punya pengalaman, maka berbagi KASIHlah dengan pengalamanmu itu.
Jika Anda punya tenaga, maka berbagi KASIHlah dengan tenagamu itu.
Jika Anda punya waktu, maka berbagi KASIHlah dengan waktumu itu.
Jika Anda punya hati, maka berbagi KASIHlah dengan hatimu itu.
Jadi, sesungguhnya siapapun dapat berbagi KASIH!




Demikian sebuah periode dari kehidupan pribadi saya, semoga bermanfaat, dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi Anda yang membacanya…

Hiduplah dengan SEMANGAT agar bisa memberi SEMANGAT kepada orang lain!

Semoga Tuhan selalu memberi kesehatan, membuka jalan terang, memberi petunjuk dan bimbingan, serta melindungi dan memberkati kita semua.
Amin





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w