Minggu, 10 November 2013

BERBISNISLAH!



Apakah Anda percaya bahwa uang hanya bisa diperoleh dengan bekerja?
Apakah Anda percaya bahwa tidak bekerja = tidak ada uang?

Apakah sekarang Anda bekerja untuk mendapatkan uang?
Sampai usia berapakah Anda ingin tetap bekerja?

Bila Anda sudah tidak bekerja, apakah Anda nanti masih memiliki uang?
Bila Anda sudah berhenti bekerja, dari manakah Anda memperoleh uang?
Bila Anda sudah berhenti bekerja, akan cukupkah uang Anda?
Apakah Anda mengenal konsep "PASSIVE INCOME"?


Alkisah, ada sebuah desa di kaki pegunungan. Sumber mata air terdapat di atas gunung. Setiap hari penduduk desa harus mengambil air dari atas gunung, dibawa turun ke desa di bawah kaki gunung tersebut.
Bila Anda menjadi penduduk desa tersebut, bagaimana caranya Anda mengambil air setiap hari?
Ada dua pilihan:
    1.   Menggunakan ember
    2.   Membangun saluran air

Dari dua pilihan tersebut, yang manakah yang akan Anda pilih?
99% orang pasti memilih membangun saluran air.

Apakah pilihan Anda sama (membangun saluran air)?
Mengapa Anda tidak memilih menggunakan ember?
Banyak alasan orang tidak mau menggunakan ember, antara lain: tidak efisien, boros waktu, capek, dll.

Tetapi ada 2 hal yang sangat membedakan antara menggunakan ember dan membangun saluran air:
    1. Dengan menggunakan ember, berarti harus bolak-balik terus-menerus. Artinya harus terus-menerus MENGERJAKAN PEKERJAAN YANG ITU-ITU JUGA.
    2. Dengan menggunakan ember, pada saat kita berhenti, maka SEKETIKA AIRNYA JUGA BERHENTI.

Namun dengan pilihan kedua, yaitu membangun saluran air, ada 2 hal yang bisa kita dapatkan:
    1. Setelah saluran air selesai dibangun, AIR AKAN MENGALIR DENGAN SENDIRINYA, bahkan pada waktu kita tidur sekalipun.
    2. Dengan membangun saluran air, berarti kita BEKERJA SEKALI, TAPI HASILNYA KITA BISA NIKMATI TERUS MENERUS. Inilah maksud sebenarnya dari PASSIVE INCOME.

Apakah pekerjaan/bisnis Anda sekarang lebih mirip dengan “prinsip ember” atau ”prinsip saluran air”?
Apakah Anda harus mengerjakan pekerjaan/bisnis Anda setiap hari?
Apakah Anda “dibayar” untuk kepandaian/kemampuan Anda, atau hanya sekedar waktu Anda saja?
99% pekerjaan adalah “hanya” menukar waktu Anda dengan uang.
Buktinya, sewaktu Anda berhenti mengerjakan pekerjaan/bisnis Anda sekarang, apakah masih ada kemungkinan untuk terus mendapatkan penghasilan darinya?

Kembali ke pertanyaan di atas: SAMPAI USIA BERAPA ANDA AKAN TERUS BEKERJA?
Apakah Anda BUTUH dengan apa yang disebut “passive income”?
Bila Anda tidak ingin bekerja sampai tua, berarti Anda BUTUH kesempatan untuk memperoleh “passive income”.
Berarti Anda BUTUH untuk mulai membangun saluran pipa.

KAPAN WAKTU YANG TEPAT untuk mulai membangun saluran pipa?
Waktu yang tepat dan yang terbaik adalah: KEMARIN
Sekarang hanya ada waktu yang tepat urutan kedua, yaitu: HARI INI

Faktanya, saya BUTUH “membangun saluran air”, tapi saat ini saya terlalu sibuk dan tidak punya waktu. Bagaimana caranya?

    1. Pekerjaan dengan “menggunakan ember” TIDAK AKAN PERNAH SELESAI. Jadi TIDAK ADA GUNANYA MENUNGGU waktu yang tepat lagi.
    2. Bila Anda benar-benar BUTUH, maka PASTI WAKTU AKAN ADA DENGAN SENDIRINYA. Sama seperti Anda “butuh” masuk kantor, Anda “butuh” hiburan, Anda “butuh” pergi liburan, dsb. Sekali lagi, bila Anda benar-benar BUTUH “membangun saluran air” dan menganggapnya benar-benar PENTING, maka ANDA PASTI PUNYA WAKTU untuk itu.
    3. Semakin lama Anda menunda membangun saluran pipa, semakin lama pula Anda terjebak menggunakan ember terus-menerus.
    4. Pekerjaan dengan menggunakan ember, semakin lama akan semakin berat. Tidak pernah menjadi semakin mudah.
    5. Mulai membangun saluran air pada saat kita masih bisa menggunakan ember, adalah hal yang sangat bijaksana. Bila kita baru mau membangun saluran pipa pada saat sudah tidak bisa menggunakan ember lagi, semuanya sudah jadi sangat terlambat.
    6. Ingat, WAKTU YANG TEPAT SUDAH LEWAT, tinggal bagaimana kita MENGGUNAKAN HARI INI AGAR TIDAK SEMAKIN TERLAMBAT.
    7. Tidak ada yang bisa mengatur waktu Anda, sebaik Anda sendiri.

Kita sudah melihat prinsip “passive income” dengan membangun saluran air. Mari kita teruskan cerita “membawa ember” dan “membangun saluran air” tadi.
Bagaimana caranya bagi seorang pembawa ember, bila dia ingin memperbanyak air yang bisa dibawanya tiap hari? Ada beberapa pilihan yang biasa dilakukan:
1. Memperbesar ukuran ember
Bisa diartikan, kita menerima ‘kenaikan jabatan” yang disertai       bertambahnya tanggung jawab dan bertambahnya beban pekerjaan tersebut.
    2. Menambah jumlah ember yang dibawa
Bila penghasilan dari satu pekerjaan tidak cukup, biasanya kita mencari pekerjaan kedua, atau bahkan ketiga. Biasanya ada satu pekerjaan yang “full-time” dan ada beberapa yang “part-time”.
    3. Menambah waktu kerja
Singkatnya, lembur siang-malam. Tidur hanya 2-3 jam sehari.

Apakah cara-cara di atas mampu memperbanyak air (memperbesar penghasilan) kita?
Tentu saja bisa. Tetapi cara-cara di atas SANGAT TERBATAS, untuk 2 hal:
    1.    Terbatasnya tenaga
    2.    Terbatasnya waktu

Karena cara-cara di atas SANGAT TERBATAS, maka kita perlu mengingat fakta-fakta di bawah ini (karena kita seringkali lupa):
    1.  Dengan mengandalkan prinsip “membawa ember”, kita SELAMANYA TIDAK MUNGKIN SUKSES besar, karena sudah terbukti SANGAT TERBATAS.
    2.  Oleh karenanya, TIDAK PERNAH ADA orang-orang terkaya (tersukses) yang mencapai kesuksesannya saat ini dengan mengandalkan prinsip “membawa ember”.
    3.  Semua pakar-pakar ternama di dunia mengajarkan bahwa dengan “membawa  ember”, tidak akan membawa kita kemana-mana. Hanya di situ-situ saja seumur hidup. (Kata: Robert T. Kiyosaki dalam “Rich Dad Poor Dad”)
    4.  Bila kita SEUMUR HIDUP hanya ngotot dengan “membawa ember” saja, SUDAH PASTI kita tidak bisa mencapai sebagian besar impian kita, karena satu hal pasti: membawa ember itu potensinya SANGAT TERBATAS.
    5.  Anda tidak perlu mencari bukti lebih banyak lagi. Orang-orang di sekitar kita sudah banyak yang menjadi contoh dan bukti mutlak, bahwa dengan hanya “membawa ember” saja, maka TIDAK MUNGKIN bisa benar-benar sukses.

Nah, sekarang bagaimana dengan “membangun saluran air”?
Tadi kita sudah sepakat bahwa: setelah saluran air selesai dibangun, air akan terus mengalir, bahkan pada saat kita tidur.

Pertanyaannya: Bagaimana bila aliran air tersebut tidak cukup? Bagaimana bila kita ingin memperbesar kapasitas air yang mengalir? Terbatas jugakah?

Jawabannya: DENGAN SATU SALURAN AIR, MEMANG TERBATAS.
Tapi ingatlah hal ini:
    1.  Setelah satu saluran air selesai dibangun, KITA BISA MULAI MEMBANGUN SALURAN AIR lainnya.
    2.  Pada saat kita membangun saluran air yang kedua (atau ketiga), SALURAN AIR PERTAMA TETAP MENGALIR airnya.
    3.  Artinya, kita bisa membangun BANYAK SEKALI SALURAN AIR, dan ini berarti PENGHASILAN KITA MENJADI TIDAK TERBATAS.

Inilah yang kita sebut dengan “UNLIMITED INCOME”, yaitu sebuah PENGHASILAN DENGAN POTENSI YANG TIDAK ADA BATASNYA.
Batasnya hanya ditentukan oleh serajin apa kita membangun saluran-saluran air kita.

Lalu kapan berhentinya? Sama juga donk dengan “membawa ember”?
Beda sekali. Bedanya :
    1.  Dengan “membawa ember”, begitu kita berhenti, SEMUA PENGHASILAN SERTA MERTA BERHENTI TOTAL.
    2.  Dengan “membangun saluran air”, begitu kita berhenti, PENGHASILAN KITA MASIH TETAP MENGALIR TERUS.
Yang berhenti hanya pertumbuhan penghasilannya (dan pada prakteknya, itupun bukan berhenti bertumbuh sama sekali, hanya menjadi lebih lambat saja). Pada suatu saat, bila kita sudah cukup “puas” dengan tingkat penghasilan kita saat itu, tentu boleh-boleh saja punya alasan untuk berhenti, dan mulai benar-benar menikmati “passive income” yang “unlimited”.

CATATAN PENTING :
    1.  Membangun saluran air pasti perlu waktu.
    2.  Untuk mencapai “unlimited income”, kita mungkin harus membangun beberapa saluran air.
    3.  Oleh karena itu PENTING SEKALI agar kita MULAI MEMBANGUN SALURAN AIR YANG PERTAMA SECEPAT MUNGKIN, SEDINI MUNGKIN.
    4.  Sebelum kita MULAI membangun saluran air kita yang pertama, artinya kita juga BELUM memulai usaha kita mencapai “unlimited income”.
    5.  Inilah juga alasan terpenting mengapa kita TIDAK BOLEH MENUNDA-NUNDA LAGI untuk MULAI membangun saluran pipa kita yang pertama, baru nanti ada yang kedua, ketiga dan seterusnya.
    6.   MULAILAH HARI INI JUGA.


 Sekali lagi tentang “ember” dan “saluran air” :
                                                                                 
    1.  Apakah “ember” bisa Anda wariskan ke anak Anda?
Tentu saja bisa. Tapi ingat, bila Anda mewariskan ember kepada anak Anda, berarti pula:
·   Anda bisa mewariskan embernya, tapi TIDAK AIRNYA.
·   Anak Anda TETAP HARUS BOLAK-BALIK mengangkut air sendiri setiap hari.
·   Anda bisa mewariskan bisnis Anda kepada anak/keluarga Anda, tapi ingat, anak/keluarga Anda tetap harus “meneruskan” bisnis Anda tersebut.
·   Bila anak Anda BERHENTI membawa ember, AIRNYA PASTI BERHENTI JUGA kan.

    2.  Apakah “saluran air” bisa Anda wariskan ke anak Anda?
Jelas bisa.
·   Hebatnya, bila Anda mewariskan “saluran air” ke anak Anda, maka berarti Anda juga SEKALIGUS mewariskan airnya.
·   Air tetap akan mengalir terus, walaupun Anda sudah tidak ada lagi.
·   Kehidupan anak/keluarga Anda JAUH LEBIH TERJAMIN bila Anda mewariskan saluran air, bukannya ember.
Banyak orang yang gagal melihat kelebihan mewariskan saluran air dibandingkan dengan mewariskan ember.
Mana yang Anda pilih untuk diwariskan ke anak Anda?
EMBER atau SALURAN AIR ???

Bila Anda memilih untuk mewariskan SALURAN AIR, maka ada beberapa hal yang penting untuk Anda ingat:
    1.  SEGERA mulai membangun saluran airnya. Anda TIDAK BISA MEWARISKAN APA YANG ANDA TIDAK PUNYA.
    2.  Bila Anda setuju, bahwa untuk membangun saluran air itu diperlukan waktu, maka itu pula lah alasannya mengapa Anda harus MULAI SAAT INI JUGA.
    3.  Semakin terlambat Anda mulai membangun saluran air, maka SEMAKIN BESAR RESIKONYA bahwa saluran air itu tidak SELESAI PADA WAKTUNYA.
    4.  Bila saluran air itu BELUM SELESAI pada waktunya, dan Anda sendiri tiba-tiba tidak bisa meneruskannya lagi, maka ANAK ANDA TIDAK AKAN MEWARISKAN APA-APA. Tidak mewariskan saluran air, dan besar kemungkinan juga tidak mewariskan “ember” pula.
    5.  Membangun saluran air bukan HANYA UNTUK ANDA, tapi juga UNTUK MASA DEPAN ANAK-ANAK DAN KELUARGA ANDA.
    6.  Bila membangun saluran air SEDEMIKIAN PENTINGNYA, hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan: MULAILAH SAAT INI JUGA.
    7.  Karena SEDEMIKIAN PENTINGNYA arti saluran air ini bagi masa depan anak dan keluarga kita, maka berarti pula TIDAK ADA ALASAN APA PUN untuk tidak segera mulai membangun saluran air ini. Tidak ada alasan waktu, tidak ada alasan ketrampilan, dan tidak ada alasan-alasan lainnya.
    8.  Hal ini karena membangun saluran air adalah TERAMAT SANGAT PENTING SEKALI.

Beberapa pertanyaan terakhir:
    1.  Apakah Anda sudah paham kelebihan membangun saluran air dibandingkan dengan membawa ember? (passive income, unlimited income, warisan)
    2.  Apakah pekerjaan/bisnis Anda sekarang lebih dekat ke “membawa ember” atau ke “membangun saluran air”?
    3.  Apakah Anda BUTUH untuk membangun saluran air?
    4.  Bila seumur hidup Anda tidak punya saluran air, apakah Anda merasa hidup Anda akan baik-baik saja? (karena faktanya hanya sedikit sekali orang yang memilih membangun saluran air)
    5.  Bila seumur hidup Anda hanya membawa ember, apakah Anda merasa biasa-biasa saja? (karena sebagian besar orang yang seperti itu, seumur hidup hanya membawa ember saja)
    6.  Apakah dengan adanya saluran air akan banyak membantu anak/keluarga Anda nantinya?
    7.  Apakah masa depan anak/keluarga Anda bisa banyak berubah bila Anda mau mulai membangun saluran air?

Kondisi kita saat ini adalah akibat pilihan-pilihan kita di masa lalu.
Kondisi kita di masa depan tergantung dari pilihan-pilihan kita saat ini...






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
PT. Berkat Akur Nanjaya

HP: 08112332777
WA/Line: 081919132777
Twitter: @johanesbudi_w
Website: https://www.berkatakurnanjaya.com/

COBALAH TAHAN SEJENAK...





Dalam suatu perjalanan, kereta api memperlambat lajunya dan berhenti di sebuah stasiun. Naiklah seorang ibu dengan 2 anaknya yang masih kecil-kecil ke dalam salah satu gerbong.

Penumpang di gerbong itu cukup padat. Beruntung sang ibu dan kedua anaknya mendapatkan tempat duduk.

Awalnya kedua anak kecil itu duduk tenang. Tak lama kemudian, mereka mulai berlarian sambil berteriak-teriak.

Mereka juga naik ke tempat duduk, menarik bacaan dari para penumpang lain. Kedua anak itu membuat suasana gerbong jadi gaduh dan tidak nyaman.

Setelah cukup lama menahan diri, seorang bapak yang duduk di sebelah sang ibu menegur, "Kenapa Anda membiarkan saja kedua anak Anda membuat ribut dan mengganggu seisi gerbong?"

Seakan baru tersadar, sang ibu menjawab perlahan, "Mohon maaf, saya masih bingung bagaimana menjelaskan kepada mereka saat nanti kami sampai di rumah sakit untuk menjemput jenasah ayahnya."

Ternyata sang ibu mendapat berita bahwa suaminya sudah meninggal di rumah sakit karena kecelakaan. Dia dan anak-anaknya sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit itu.

Seketika si bapak yang menegur terdiam. Segera dari mulut ke mulut tersebar informasi tersebut dan semua penumpang yang tadinya merasa terganggu, berganti iba dan simpati.

Alih-alih kesal dan mau marah kepada anak-anak yang bikin gaduh dan ibunya yang terkesan cuek, sebagian penumpang malah mulai ikut bermain dan bercanda dengan kedua anak itu.

Setelah mengetahui lengkap atau persis apa yang terjadi, reaksi penumpang berbalik 180 derajat!

Demikian juga dalam kehidupan. Mengetahui lengkap dibanding hanya sebagian, sangat mungkin membuat perbedaan respon seseorang terhadap suatu kejadian atau masalah.

Di saat Anda kesal dan mau marah, cobalah tahan sejenak dan cari tahu lebih banyak. Dengan tambahan informasi, mungkin Anda tidak jadi marah, sehingga tidak muncul penyesalan di kemudian hari...
(Sumber: Stephen R. Covey, 'Seven Habits of Highly Effective People' )

Imagemap


Baca: CINTA KASIH




Salam Sejahtera & Sukses Selalu!



Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

BERBUAT BAIKLAH!




Untuk kita renungkan...


Seorang anak bertanya pada ibunya, "Apakah kita bisa hidup, tanpa berbuat salah selama hidup kita, Bu...?"

Ibunya menjawab, dengan lembut, "Tidak bisa, nak."

Sang anak bertanya lagi, "Apa kita bisa hidup tanpa berbuat salah dalam setahun?"

Sambil tersenyum, ibunya menggelengkan kepala seraya berkata, "Tidak bisa juga, nak."

Anak pun bertanya kembali, "Apa kita bisa hidup dalam 1 bulan tanpa melakukan kesalahan?"

Ibunya tertawa sambil menjawab, "Tak bisa juga, sayang..."

Anaknya terus bertanya, "Apa kita bisa hidup tanpa berbuat salah dalam 1 jam?"


Ibunya pun tertawa lagi dan menjawab, "Kemungkinan bisa, Nak."


Karena penasaran, anaknya bertanya lagi, "Ini pertanyaan yang terakhir, Ibu. Apa kita bisa hidup tanpa berbuat salah dalam 1 menit?"

Akhirnya ibunya mengangguk dan berkata, "Yaa..., dalam 1 menit kita pasti bisa hidup tanpa berbuat salah!"

Sang anak langsung berkata, "Kalau begitu, aku akan belajar hidup benar dari menit ke menit."

Baca: BERHUTANG PADA KEHIDUPAN


Berhati-hatilah dengan pikiranmu karena ia akan melahirkan perkataan.

Berhati-hatilah dengan perkataanmu karena ia akan melahirkan perbuatan.
Berhati-hatilah dengan perbuatanmu karena ia akan melahirkan kebiasaan.
Berhati-hatilah dengan kebiasaanmu karena ia akan membentuk karakter.
Berhati-hatilah dengan karaktermu karena ia akan menentukan nasibmu, kebahagiaan atau kesedihan...



Untuk itu...

Hiduplah 1 menit TANPA:
egois,

iri,
benci,
marah,
serakah,
sombong,
hati jahat,
pikiran negatif,
menjelekkan orang...

Hiduplah 1 menit DENGAN:
Kasih,

Sabar,
Damai,
Sukacita,
Murah hati,
Rendah hati,
Lemah lembut,
Berpikir positif,
Pengendalian diri...

Ulangi selama 1 menit, kemudian 1 menit berikutnya, dan 1 menit seterusnya...


Mampu mengendalikan diri atas segala sesuatu dengan sikap positif, adalah cermin dari pribadi yang berjiwa besar dan penuh kasih.


Baca: TULARKANLAH KEBAHAGIAAN





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Sabtu, 09 November 2013

KEDALAMAN BELAS KASIH




"Jika setiap kali kalian melakukan sesuatu dan itu selalu membuat kalian gelisah, tentu saja hal tersebut salah. Namun, jika hal itu telah membuat kalian senang, itu berarti kalian telah melakukan hal yang benar. Saya merasa senang setiap kali saya bisa membantu orang lain," kata Chen Shu Jiu.

Baca: Apakah Anda seorang yang Peduli?

"Hidup akan bermakna jika saling berbagi dalam berbagai hal yang mampu membawa perubahan hidup yang lebih baik dan berarti," kata Chen menegaskan.
(Sumber: Cermin Kedalaman Belas Kasih)





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

PROFESI IDAMAN...




Apa profesi yang Anda idamkan???

Dari rumah berangkat kerja ke kantor pagi-pagi lalu sore pulang kerja, dan tiba di rumah pada malam hari. Jenis pekerjaan seperti itu, yang mewajibkan datang ke kantor dengan jam kerja pukul 08.00-17.00 seperti orang tua mereka yang jadi karyawan instansi pemerintah atau swasta, ternyata kurang diminati oleh sebagian besar anak muda masa kini yang sekarang tengah duduk di bangku kuliah.


KERJA KREATIF DAN FLEKSIBEL

Anak muda sekarang, khususnya para mahasiswa di era digital ini punya pandangan dan harapan serta keinginan akan pekerjaannya kelak yang berbeda dengan orang tua mereka. Anak muda masa kini tak ingin pekerjaaan yang terikat dengan jam kantor dan jadwal yang monoton. Mereka berharap dan menginginkan pekerjaaan yang kreatif dengan waktu dan tempat kerja yang lebih fleksibel.


BEKERJA DENGAN HASRAT

Anak muda masa kini, generasi net (net-gen), disebut juga generasi milenial, termasuk para mahasiswa yang saat ini sedang duduk di bangku kuliah, memiliki karakter yang unik dan berbeda dengan angkatan sebelumnya. Generasi yang didefinisikan dengan kumpulan orang yang dilahirkan antara tahun 1980 dan 2000 dinilai memiliki produktifitas yang tinggi, penuh energi, selalu siap dengan perubahan, multitasking, dan efisien dalam bertindak. Mereka diramalkan akan memiliki bekal pendidikan yang lebih tinggi ketimbang pendidikan rata-rata golongan sebelumnya.

Para mahasiswa yang masuk di dalam generasi ini tumbuh seiring dengan perkembangan pesat teknologi informasi. Pada saat mereka lahir di tahun 1990-an, teknologi internet sedang berkembang pesat. Akses internet yang semakin mudah, baik di rumah sendiri, di kampus atau di tempat umum, seperti mal, memudahkan para murid universitas ini menyelesaikan tugas perkuliahannya.

Sifat dan kondisi inilah yang mendorong generasi milenial memiliki pandangan berbeda tentang bagaimana memilih sebuah pekerjaan. Seperti yang dilansir USA Today, generasi milenial dikenal bekerja bukan hanya untuk uang, melainkan untuk energi dan passion (hasrat). Pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan hasrat dan minat akan membuahkan hasil yang maksimal!
(ide dari KOMPAS, Selasa, 22 Oktober 2013)


MAU SUKSES? YA, HARUS BERJUANG!

Bicara tentang peluang dan ingin meraih sukses, mereka yang melengkapi diri dengan ketrampilan akan lebih mudah bersaing di dunia pekerjaan. Maklum saja, walaupun kesarjanaan dibutuhkan dalam menganalisis permasalahan, pada masa mendatang perusahaan akan lebih menghargai kemampuan seseorang dalam melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kompentensi yang dimilikinya.
Bagaimana dengan Anda generasi muda? Apakah Anda mau berjuang untuk meraih kesuksesan Anda???





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Jumat, 08 November 2013

MAMA, JANGAN AMBIL UANG SAYA!




Demikian kisahnya...

Suatu hari, dipagi yang cerah, seorang suami berangkat dari rumah untuk bekerja. Dalam perjalanan menuju kantor, terjadi kecelakaan fatal dan dia meninggal seketika...
Baca: UNTUK APA KITA BEKERJA?

Dua minggu kemudian, para tetangga melihat mobil truk toko furniture menyita sofa, meja makan, lemari besar, bahkan tempat tidur! Tetangga-tetangga itu mengerti bahwa 'cicilan lunak', ternyata sudah tidak lunak lagi pembayarannya!

Beberapa minggu kemudian, tetangganya melihat empat orang pria beringas mendatangi si janda. Mereka memperlihatkan secarik kertas dan menunjuk ke arah mobil yang biasa dipakai untuk antar-jemput anak ke sekolah. Si janda memberikan surat-surat dan kunci mobil itu, lalu masuk ke dalam rumah...
Baca: RUMAH DAN MOBIL HARUS DIJUAL


Seminggu kemudian, para tetangga melihat seorang loper koran datang minta tagihan dibayar. Si janda masuk ke dalam rumah dan terdengar suatu benda yang pecah, lalu terdengar tangisan anaknya sambil berteriak, "Mama, jangan ambil uang saya..." Ia membayar ke loper koran itu dengan uang receh...
Baca: IMPIAN SI KECIL


Itulah saat terakhir para tetangganya melihat si janda...

Suatu siang, seorang pria muda dengan mobil berwarna biru mengkilat, berhenti di depan rumah dan mengetuk pintu rumah si janda. 
"Tidak ada orang," kata tetangganya...

Karena merasa ada yang kurang beres, pemuda itu mendatangi rumah tetangganya itu dan memperkenalkan dirinya sebagai Agen Asuransi. Menyampaikan bahwa kedatangannya untuk memberikan kepada si janda, uang asuransi yang menjadi haknya, sebagai ahli waris...

Mendengar hal itu, para tetangga segera memberitahu si janda agar membuka pintunya. Ketika pintu terbuka, si agen tak bisa percaya melihat kondisi wanita yang ditemuinya setahun yang lalu... 

"Jangan bilang Ibu tidak kenal saya. Saya pernah datang ke sini dan minum teh dengan almarhum suami Ibu, ingat? Waktu itu saya menawarkan polis asuransi, tapi Ibu MENOLAK. Keesokan harinya, almarhum Bapak membeli polis senilai Rp 1 milyar. Suami Ibu meminta saya merahasiakan asuransi ini. Nahh..., mulai sekarang Ibu tak perlu kuatir lagi, kami dari pihak asuransi akan mengatur keuangan Ibu dan anak Ibu seperti yang kami janjikan kepada almarhum Bapak..."
Baca: HIDUP ADALAH PILIHAN!

Janda itu masih tak percaya dengan hal itu. Linangan air mata kebahagiaan jatuh ke pipinya, ia berlutut dan berterima kasih pada si agen...

Apakah Anda salah satu orang yang akan menolak Agen Asuransi seperti janda itu???
Baca: ASURANSI ADALAH PERLINDUNGAN KELUARGA ANDA!


Hidup memang tidak selamanya berjalan sesuai dengan harapan, keinginan dan rencana. Pertanyaannya, ketika hal itu terjadi, apakah Anda sudah siap???





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Minggu, 03 November 2013

SAAT KELUARGA MELAWAN KORUPSI






BUNG HATTA AWARD 2013

"Kamu menyesal tidak ketika saya jadi bupati tidak korupsi?" tanya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Wakil Gubernur DKI Jakarta, kepada istrinya, Veronica S Tan. Ketika melihat istrinya segera menggelengkan kepala, Ahok pun membatin, "Saya tidak salah menikah dengannya."
Beberapa tahun yang lalu, keluarga Ahok pernah hanya mempunyai satu mobil. Mobil itu untuk mengantar Ahok beraktivitas, juga antar-jemput anak-anak Ahok ke sekolah.
Namun, kemacetan di Jakarta sering kali menyulitkan sopir Ahok tiba di sekolah tepat waktu. Akibatnya, anak dan istrinya kadang pulang naik bajaj.
"Anak-anak saya sih langsung teriak hore naik bajaj. Tetapi, terkadang saya kepikiran istri harus naik bajaj meski untungnya dia tak keberatan," ujar Ahok.
"Jadi, keluarga memang sangat penting untuk proses anti korupsi seperti ini," tegas Ahok, Kamis, 31 Oktober 2013, saat memberikan sambutan dalam Malam Penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award (HBACA) 2013 di Jakarta.
Ahok meraih BHACA 2013 bersama Direktur Utama PT. Perusahaan Listrik Negara, Nur Pamuji.
Ketika menjabat Bupati Belitung Timur (tahun 2005-2006), kata Ahok, peluang korupsi atau sekedar gratifikasi terbuka lebar. Selember kertas izin tambang dapat bernilai Rp 1-2 miliar. Dari perkebunan kepala sawit, mungkin saja saya dapat bagian 10 persen. Namun, Ahok menolak tegas gratifikasi. "Miskin saja belagu," ujar Ahok, menirukan ucapan seorang investor Malaysia kepadanya.
Minimnya tabungan membuat Ahok menghadapi dilema ketika mundur dari anggota DPR untuk mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada  tahun 2012. "Di DPR sebenarnya nyaman. Tiap bulan dapat gaji Rp 60 juta, ditambah uang sidang, reses, dapat Rp 100 jutalah," ujarnya.
Veronica pernah mengingatkan Ahok terkait kondisi keuangan keluarga. "Kamu enggak mikir, ya? Anak kita tiga, bagaimana bayar sekolahnya?" tutur Ahok, menirukan protes istrinya. Namun, ketika itu, Veronica tetap menghormati dan mendukung langkah Ahok untuk maju di Pilkada DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo.
Baca:  Arti Sebuah KESUKSESAN...


HIDUP SEDERHANA


Hidup sederhana apa adanya ditekankan Ahok kepada keluarganya. Namun, tidak berarti dia tak punya ketertarikan pada barang mewah. Ahok mengaku senang mobil mewah walau tak tertarik membelinya.

"Tetapi saya lebih beruntung daripada Bung Hatta yang hanya dapat menggunting iklan sepatu Bally. Saya hidup di zaman ada Youtube, jadi dapat menikmati mobil dari segala sisi. Nonton dari Youtube seolah-olah naik mobil beneran," cerita Ahok.
Ketika masih bermukin di Bangka Belitung, Ahok mengaku juga pernah menggunting lembaran iklan mobil untuk sekedar dilihat. Saat hijrah ke Jakarta, dia pun merasa lebih beruntung karena dapat langsung 'cuci mata' di pameran otomotif.
"Waktu itu coba-coba Toyota Land Cruiser, duduk di dalamnya, pegang setir, senang sekali. Ehh..., baru sadar, bukannya mobil dinas saya Land Cruiser ya? Sampai lupa karena biasanya naik-turun berkali-kali begitu saja," ujar Ahok, disambut tawa para tamu BHACA 2013.
Hidup sederhana juga diterapkan Nur Pamuji. Nur juga menegaskan, penobatan dirinya menjadi salah satu tokoh anti korupsi tak lepas dari pengaruh keluarga. "Terima kasih karena sudah mau hidup sederhana," ujar Nur kepada istri dan anaknya yang hadir di acara penganugerahan BHACA 2013.
Baca:  Hidup adalah Pilihan!

Perlawanan terhadap korupsi memang ada baiknya dimulai dari keluarga. Internalisasi nilai korupsi harus terus dikerjakan semua anggota keluarga.

Indonesia memang telah meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Antikorupsi tahun 2003. Telah pula ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption.
Dalam konvensi itu, ada konsep bagus: illicit enrichment atau kekayaan yang tidak wajar. Konsep itu dapat dijalankan dengan menerapkan pembuktian terbalik atas kekayaan pejabat publik yang mencurigakan. Kegagalan menjelaskan asal usul harta dapat menyebabkan harta itu disita negara.
Sangat disayangkan, konsep itu tidak dijalankan maksimal oleh pemerintahan Indonesia. Di sinilah peran keluarga untuk menyelisik dan mempertanyakan ketika keluarga itu bergaya hidup lebih mewah daripada pendapatan yang diterimanya. Curiga dan bawel adalah harga yang seharusnya dibayar daripada salah satu (atau lebih) anggota keluarga masuk penjara.
Baca:  ...untuk Para Koruptor dan Calon Koruptor!

Memberdayakan keluarga untuk mengatasi korupsi jadi salah satu langkah logis ketika negara kerap tak serius melawan korupsi.

Andai Indonesia serius menangani korupsi, dapat meniru Jepang yang menerapkan pajak tinggi atas warisan sehingga ahli waris hanya menerima 30-40 persen dari harta yang ditinggalkan orang tuanya.
Jika regulasi ini diterapkan di Indonesia, kiranya akan menurunkan animo siapa pun untuk menumpuk harta kekayaan atas nama jaminan bagi anak cucu selama tujuh turunan.
Baca:  ...MENABUNGLAH!

Perlawanan melawan korupsi memang harus dilakukan dari segala sisi. "Jika kita tak korupsi, burung garuda indonesia akan mengalahkan burung elang Amerika," Kata Ahok, menutup sambutannya.

SETUJU!

(Sumber: KOMPAS, Minggu, 3 November 2013)





DOA MELAWAN KORUPSI

Yaa... TUHAN, 
semoga ayah-ibuku / 
suami-istriku / 
anakku / 
cucuku/ 
kakek-nenekku/ 
saudaraku/ 
paman-tanteku/ 
keponakanku/  
sahabatku / 
temanku / 
pacarku / 
pimpinanku / 
rekan sejawatku / 
anak buahku / 
tetanggaku / 
orang yang kukenal...,
TIDAK KORUPSI! 
Amin





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!



Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Jumat, 01 November 2013

RUMAH DAN MOBIL HARUS DIJUAL...




Rumah satu-satunya telah dijual Akhdiat Suryawan (48 tahun) untuk membiayai pengobatan anaknya, Faizal Darmawan (14 tahun), yang menderita tumor otak. Penghasilan Akhdiat sebagai guru olah raga di SD Negeri 02 Pondok Kopi, Jakarta Timur, tetap tak cukup membiayai pengobatan anaknya yang begitu besar.
Inilah ironi yang dihadapi Akhdiat. Sebagai guru, dia memiliki penghasilan yang memadai, hampir Rp 8 juta per bulan. Namun, dia tetap tak berdaya saat dihadapkan pada biaya pengobatan anaknya yang sangat besar. Biaya yang harus disediakan untuk biaya berobat mencapai Rp 120 juta.
Sebagai pegawai negeri sipil, Akhdiat memang memperoleh Asuransi Kesehatan (Askes) dan Jaminan Pelayanan Kesehatan (JPK). Namun, besaran biaya pengobatan yang ditanggung kedua jenis jaminan kesehatan itu pun ada batasnya. 
Dari total biaya pengobatan untuk Faizal lebih dari Rp 120 juta, hanya sekitar Rp 70 juta yang ditanggung dua jaminan kesehatan itu. Sisanya ditanggung sendiri oleh Akhdiat.
Baca:  ASURANSI vs TAKDIR

Ayah lima anak itu pernah mencoba mencari keringanan biaya pengobatan melalui Kartu Jakarta Sehat (KJS), tetapi ditolak saat mengurus KJS di tingkat kecamatan, karena penghasilannya sebagai guru dianggap cukup memadai.
Sekarang, Akhdiat harus segera menyiapkan dana lagi tak kurang dari Rp 120 juta untuk terapi lanjutan bagi anaknya. Namun, dia mengaku sudah tak punya dana lagi karena tabungannya terkuras untuk biaya operasi dan terapi Faizal pada Agustus lalu.
"Simpanan kami tinggal Rp 20 juta dan itu pun masih menunggu pelunasan dari orang yang membeli rumah kami. Kami sih berharap, orang itu bisa segera melunasinya supaya kami bisa segera membeli obat bagi anak kami," kata Akhdiat, Rabu, 30 Oktober 2013.
Akhdiat mengatakan, rumah satu-satunya itu dijual dengan harga Rp 50 juta. Rumah itu berada di kawasan Pondok Gede, Bekasi. Semestinya, kata Akhdiat, rumah itu bisa laku Rp 100 juta. Namun, karena dia tak ingin pengobatan untuk anaknya terputus, Pak Guru dan istrinya, Ida Dartimah (40 tahun), memutuskan menjual rumahnya dengan harga murah asal cepat laku.
"Itu pun baru dibayar separuh oleh pembelinya, karena kami butuh dana besar segera," ujarnya.
Kabar mengagetkan tentang anaknya itu kira-kira diterima Akhdiat pada Maret tahun lalu. Saat itu Akhdiat memperoleh hasil diagnosis dari dokter bahwa anaknya, Faizal, menderita tumor otak jenis astrocytoma. Tumor itu tumbuh akibat munculnya gumpalan darah di bagian kepala.
Baca:  Asuransi Untuk Pekerja Pemula...


TRAUMA KEPALA

Faizal mengaku pernah mengalami trauma pada kepalanya sekitar tahun 2011. Saat itu dia sedang naik angkutan umum dan kepalanya terkena lemparan batu datangnya dari kelompok remaja yang nongkrong di pinggir jalan.
"Saat itu memang terasa pusing, tetapi berangsur hilang," katanya.
Baru pada Mei tahun lalu, kata Faizal, kepalanya terasa nyeri dan dia menderita muntah-muntah. Oleh dokter di klinik, ia dianggap terkena serangan tifus. Kondisinya pun berangsur pulih setelah diberi obat, sehingga Faizal bisa menjalani ujian nasional SMP dan memperoleh nilai 33,5, yang berarti rata-rata 8 untuk keempat mata pelajaran yang diujikan.
Namun, pada Maret, kesehatan Faizal kembali turun hingga tidak sadarkan diri. Setelah diperiksa di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, ditemukan indikasi tumor pada otak. Faizal dirujuk ke Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat, dan di rawat beberapa minggu. Akhdiat mengatakan, biaya perawatan Faizal di Rumah Sakit Dharmais sepenuhnya ditanggung Askes.
Namun, lonjakan biaya pengobatan kemudian muncul saat Faizal mulai menjalani operasi dan terapi pengobatan pada Agustus. Menjelang operasi, Faizal harus menjalani pemeriksaan kepala dengan MRI sebesar Rp 21 juta yang ditanggung oleh Askes. Kemudian, operasi sebesar Rp 30 juta yang ditanggung oleh JPK Askes.
Kuota JPK Askes yang diperoleh Akhdiat Rp 50 juta untuk setiap anggota keluarga yang ditanggung. Kuota JPK bagi Faizal setelah menjalani operasi pun tinggal Rp 20 juta. Padahal, setelah operasi, Faizal masih harus menjalani terapi sinar dan obat yang memakan biaya hampir Rp 80 juta.
Selama terapi pasca operasi, untuk obatnya saja menghabiskan dana Rp 70 juta untuk 46 tablet Temodal. "Untuk obat, akhirnya hanya Rp 20 juta yang ditanggung JPK, sisanya kami tanggung sendiri," katanya.


JUAL RUMAH

Praktis, sejak kuota JPK untuk Faizal habis, pembelian obat sebesar Rp 50 juta lagi harus ditanggung Akhdiat. Sebagian bisa ditutupi dari hasil penjualan rumah. Namun, pembeli rumah baru membayar Rp 30 juta, sehingga Akhdiat harus mencari tambahan Rp 20 juta lagi dengan mengutang kepada kerabat dan beberapa orang tua murid.
Pengobatan Faizal belum berhenti di situ. Menurut ibunya, Ida Dartimah, Faizal harus menjalani terapi lanjutan pada 6 November. Karena kuota JPK untuk Faizal sudah habis, kata Ida, dokter di Rumah Sakit Dharmais telah mengingatkan agar segera disiapkan dana pengobatan sebesar Rp 130 juta.
Ida mengatakan, entah bagaimana caranya, dia akan sekuat tenaga memenuhi semua biaya pengobatan lanjutan untuk anak ketiganya itu. Kemungkinan besar dia akan menjual mobilnya yang diperkirakan laku dijual Rp 50 juta, ditambah pelunasan dari penjualan rumah sebesar Rp 20 juta.
"Tetapi, jual mobil juga butuh waktu. Mudah-mudahan bisa segera laku. Untuk menutupi kekurangan Rp 60 juta lagi, nanti akan kami pikir lagi," ujarnya.
Akhdiat mengatakan, sejak satu-satunya rumah miliknya dijual, dia tak lagi memiliki rumah. Namun, beruntung pengelola SD Negeri 02 Pondok Kopi memberikan kesempatan bagi keluarganya menempati rumah dinas guru.
Hanya yang dikhawatirkan Akhdiat, sejak menjalani operasi, mata kiri Faizal mengalami kebutaan. Penglihatan mata kanan Faizal juga berangsur turun, sehingga saat ini penglihatannya kabur.
"Kami sudah diberi tahu dokter bakal ada efek setelah operasi, salah satunya lumpuh. Rupanya sekarang efeknya baru muncul, penglihatan Faizal jadi berkurang," katanya.
Sejak kesehatannya menurun, Faizal sepenuhnya terbaring di rumah. Dia tak mampu berjalan jauh karena mudah pusing dan penglihatannya berangsur menurun. Akibatnya, dia tak melanjutkan sekolah.
"Penginnya sih sekolah, tetapi seperti ini mana bisa," ujar Faizal yang pernah masuk dalam tim sepak bola U-12.
Baca:  Asuransi adalah Perlindungan Keluarga!

(Sumber: KOMPAS, Kamis, 31 Oktober 2013)





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan