PROPOSAL
PELATIHAN & PENGEMBANGAN KARYAWAN (SDM)
A. PROFILE DRS. JOHANES BUDI WALUJO
Johanes Budi Walujo (JOHANES) lahir di Tasikmalaya tahun
1966, dan menyelesaikan SMP-nya di Tasikmalaya. Melanjutkan SMA dan kuliah ke
Yogyakarta. Lulus Sarjana Akuntansi dari
Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta tahun 1990. Sejak SMA
aktif dalam organisasi sekolah sebagai Pengurus OSIS dan Kepramukaan. Saat
kuliah aktif dalam organisasi kemahasiswaan sebagai Pengurus Badan Perwakilan
Mahasiswa, Mahasiswa Pencinta Alam (Baca: BELAJAR DARI ALAM), dan pernah menjabat Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma
Jaya Yogyakarta. Sambil kuliah juga bekerja sebagai Salesman, dan aktif dalam
organisasi di luar kampus, yaitu sebagai Pengurus PMKRI Yogyakarta.
Selesai kuliah bekerja satu tahun di pabrik sabun “Palem” Tasikmalaya
sebagai Kepala Bagian Akunting, kemudian pindah bekerja selama satu tahun di
pabrik tekstil PT. Sunsonindo Textile Industry di Rancaekek-Bandung sebagai
Kepala Bagian Perpajakan. Lalu pindah bekerja selama 6 tahun di PT. Sanbe
Farma-Bandung, dari Management Trainee sampai menjadi Marketing Audit Manager. Lalu kemudian mutasi kerja ke PT. Bina San Prima-Bandung
(Sanbe Grup), distributor produk farmasi & konsumer, selama 6 tahun, meniti
karir dari Kepala Cabang sampai General Manager, lalu mengundurkan diri tahun
2005.
Delapan tahun berikutnya (2006-2013) belajar bisnis sendiri dan mendirikan
PT. SEMANGAT – bergerak di bisnis sparepart motor, asuransi, property. Selama kurun waktu itu
telah membaca ratusan buku, mendengar audio dan melihat video, serta mengikuti berbagai Pelatihan & Pengembangan Diri serta Kepemimpinan dari Anthony Robbins, Brian Tracy, John C Maxwell, Jim Dornan, Zig Ziglar, Dale
Carnegie Training, Tung Desem Waringin, James Gwee, Andrie Wongso, Merry Riana, Bong Chandra, Anthony Deo Martin, Louis Sastrawiharja…
Tahun 2014 “kembali berkarya” di
PT. Bina San Prima-Bandung sebagai General Manager dan terlibat aktif dalam pelaksanaan Program Pelatihan & Pengembangan
SDM dengan jumlah karyawan hampir 6000 yang tersebar di 44 Kantor Cabang di
Indonesia. Saat ini aktif memberikan Training SDM, baik untuk karyawan Pusat maupun
karyawan Promosi yang dikirim ke Bandung dari berbagai kantor Cabang, dan keliling
Indonesia untuk melakukan Training SDM di masing-masing Kantor Cabang, mulai
dari Aceh hingga Kupang.
B. LATAR BELAKANG
Berbagai perusahaan terkemuka
dunia telah membuktikan bahwa Human Resources atau Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan KUNCI KEBERHASILAN mereka dalam memenangkan persaingan bisnis pasar global. Hal ini dapat
dipahami karena sistem manajemen dan strategi bisnis apapun (termasuk modal keuangan yang sangat besar sekalipun) yang diterapkan TANPA dukungan SDM yang memadai akan SULIT diharapkan efektivitasnya.
SDM yang berkualitas dan kompeten sangat dibutuhkan untuk mendukung
produktivitas dan aktivitas bisnis perusahaan agar tujuan atau VISI yang telah ditetapkan perusahaan dapat dicapai secara efektif dan efisien. SDM adalah salah satu FAKTOR
KUNCI dalam reformasi ekonomi, yaitu bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas
dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan bisnis lokal, nasional, maupun global.
Masalah SDM masih menjadi sorotan dan tumpuan bagi perusahaan agar tetap
bertahan di era globalisasi. SDM mempunyai peran utama dalam setiap aktivitas
perusahaan. Walaupun didukung dengan sarana dan prasarana serta sumber dana yang
berlebihan, namun TANPA dukungan SDM yang andal aktivitas perusahaan TIDAK akan
terselesaikan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa SDM merupakan KUNCI POKOK
yang harus diperhatikan dengan segala kebutuhannya. Sebagai kunci pokok, SDM
akan menentukan keberhasilan pelaksanaan kegiatan perusahaan. TUNTUTAN
perusahaan untuk memperoleh, mengembangkan, dan mempertahankan SDM yang
berkualitas dan kompeten semakin mendesak sesuai dengan dinamika lingkungan
yang selalu berubah. Pengelolaan SDM terkait dan mempengaruhi kinerja
perusahaan dengan cara menciptakan nilai atau menggunakan keahlian SDM yang
berkaitan dengan praktek manajemen dan sasarannya cukup luas, TIDAK hanya terbatas
karyawan operasional saja, namun juga meliputi tingkat manajerial.
Perusahaan harus SECARA KOMPREHENSIF mengatasi masalah SDM dan
kepemimpinan. Perusahaan juga TIDAK bisa bergantung pada strategi jangka
pendek, seperti merekrut pekerja dari perusahaan competitor. Karena, berburu
tenaga kerja dari competitor akan mengirim pesan tidak sehat pada karyawan,
yakni bila mereka ingin meningkatkan karirnya maka mereka harus berganti
pekerjaan.
Dalam tahap pengembangan SDM ini terdapat DUA ASPEK kegiatan penting
yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu KEGIATAN PELATIHAN dan
KEGIATAN PENGEMBANGAN SDM itu sendiri yang dimaksudkan agar potensi yang
dimiliki pegawai dapat digunakan secara efektif.
Oleh karena itu diperlukan pengembangan pegawai dan manajemen SDM yang
baik agar mutu dan kemampuan SDM yang telah ada mampu bersaing dan dapat
mengikuti perkembangan jaman, terlebih pada era globalisasi, dimana ilmu
pengetahuan dan tekhnologi di berbagai bidang berkembang dengan sangat pesat.
C. PERLUNYA TRAINING SDM
Keseharian persoalan SDM di Indonesia tidak lepas dari inti pokoknya,
yaitu kompetensi SDM. Sebuah organisasi atau perusahaan SANGAT membutuhkan SDM
yang kompeten, memiliki kompetensi tertentu yang dibutuhkan untuk menunjang
keberhasilan pelaksanaan pekerjaan.
Kompetensi ini meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan
perilaku karyawan. Dalam arti luas, kompetensi ini akan terkait dengan strategi
perusahaan, dan pengertian kompentensi ini dapat dipadukan dengan hard skills,
soft skills, mental skills, dan social skills. Hard skills mencerminkan
pengetahuan dan keterampilan fisik SDM, soft skills menunjukkan intuisi –
kepekaan SDM, mental skills mencerminkan ketahanan mental SDM, sedangkan social
skills menunjukkan keterampilan dalam berhubungan sosial.
Perusahaan memandang pentingnya
diadakan pengembangan SDM sebab pada saat ini karyawan merupakan ASSET yang sangat
penting dalam mencapai visi perusahaan. Tanpa didukung oleh SDM yang
berkualitas dan kompeten, tentu akan sangat sulit untuk mencapai tujuan
perusahaan yang telah ditetapkan tersebut.
Program Pelatihan & Pengembangan SDM (Training SDM) adalah suatu kegiatan INVESTASI
jangka menengah dan jangka panjang dari sebuah perusahaan dalam usahanya untuk mewujudkan SDM yang berkualitas
dan kompeten, baik dari sudut pemikiran, sikap
mental, maupun keterampilan kerjanya. Namun, usaha peningkatan kompetensi SDM melalui
training ini harus
TEPAT SASARAN.
Artinya, pelaksanaan training HARUS
sesuai dengan kebutuhan SDM yang ada di dalam perusahaan, sehingga pelaksanaan
training BUKAN
hanya sekedar kegiatan
yang dijalankan untuk menghindar dari
kewajiban atau instruksi kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
D. TRAINING
HARD SKILLS dan SOFT SKILLS
Pengembangan
SDM tidak dapat dipisahkan dari upaya perusahaan dalam mencapai tingkat
keunggulan kompetitif agar mampu keluar sebagai pemenang dalam persaingan
bisnis.
Kemampuan HARD SKILLS dan SOFT SKILLS harus dimiliki oleh apapun pekerjaan
dan jabatan
dalam sebuah perusahaan, karena KEMAMPUAN
tersebut satu sama lain akan saling mendukung dan menyempurnakan, sehingga
performa kerja SDM menjadi optimal.
Apabila seseorang cukup pandai, adalah mudah untuk
mempelajari kemampuan teknis (technical skills-HARD SKILLS) agar berhasil dalam pekerjaannya. Tetapi bila seseorang berkeinginan untuk meningkatkan karirnya, maka dia membutuhkan kemampuan lain, yaitu SOFT SKILLS.
Di banyak perusahaan, sayangnya sering ditemui bahwa seorang yang dipromosikan pada jabatan
atau posisi sebagai Leader TIDAK DIBEKALI
dengan kemampuan soft
skills yang memadai,
sehingga tidak efektif dalam menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawab
serta kewajibannya sebagai seorang Leader, bahkan akhirnya gagal. Hal ini
tentu menjadi sebuah KERUGIAN BESAR bagi perusahaan dalam jangka panjang secara
keseluruhan. Bayangkan waktu, tenaga,
dan pikiran serta biaya yang telah dan harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk
MEMPERBAIKI hal tersebut.
Pengertian hard skills, bila disederhanakan adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan
dengan ilmunya, dan ini dapat dikembangkan dan dipelajari dengan cara membaca, kursus, dan latihan. Sedangkan soft
skills adalah keterampilan seseorang
dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal
skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya
sendiri (intra-personal
skills), sehingga mampu mengembangkan sumber
daya yang
ada di dalam dirinya secara
maksimal, yang mana hal ini dapat dipelajari dari pengalaman
hidup, sosialisasi, kemampuan beradaptasi, dan agama atau norma yang
diyakininya.
Baca: SOFT SKILL vs HARD SKILL
E. TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)
Untuk
memfasilitasi pelaksanaan training yang tepat sasaran, maka harus
dilakukan melalui Training Need Analysis (TNA). Dengan demikian, hasil TNA bisa
menjadi dasar pelaksanaan training yang sesuai dengan kebutuhan SDM dalam perusahaan
untuk meningkatkan
performa kerjanya.
Upaya peningkatan
kualitas SDM, bisa setara dengan peningkatan kualitas training yang
diselenggarakan. Sedangkan kualitas training akan ditentukan oleh kualitas analisa kebutuhan training. Melaksanakan kegiatan TNA yang
berkualitas,
artinya harus melihat ruang lingkup pelaksanaan TNA agar berjalan
secara sistematis, dan terukur serta mendapatkan data yang akurat.
Secara umum,
pengertian Training
Need Analysis adalah
PROSES ANALISA
yang dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang harus diperbaiki atau
ditingkatkan di dalam sebuah perusahaan
agar performa kerja
SDM-nya meningkat. Hasil
dari kegiatan analisa
ini dapat menampilkan kesenjangan atau "gap" antara
kinerja yang telah terjadi
dengan kinerja yang diharapkan oleh perusahaan.
Training sebagai
salah satu fasilitas
untuk peningkatan dan pengembangan
kompetensi SDM,
dimaksudkan agar
GAP yang
terjadi bisa DIHILANGKAN atau setidaknya dapat diminimalisir.
Berdasarkan gap dari hasil analisa tersebut, maka dapat digunakan
untuk penyelenggaraan
training (Pendidikan dan Pelatihan) untuk memberikan program training yang tepat sasaran sehingga
meminimalisir GAP
KOMPETENSI untuk
mewujudkan produktivitas atau kinerja yang diharapkan oleh
perusahaan. Pelaksanaan
kegiatan TNA tentunya
HARUS dilakukan dengan
tujuan yang ingin dicapai tersebut.
Tujuan dari pelaksanaan
kegiatan TNA adalah:
1) Sebagai informasi bahwa training
adalah salah satu upaya peningkatan kompetensi dalam meningkatkan produktivitas
kerja SDM.
2) Sebagai data untuk menentukan peserta training yang tepat dan
sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
3) Sebagai dasar dalam menyusun materi
atau silabus training, sehingga materi yang disampaikan berdampak positif
pada peningkatan
kompetensi yang memang
dibutuhkan oleh perusahaan.
4) Mengidentifikasi bahwa jenis pelatihan
dan metode yang dipilih sesuai dengan tema atau materi training.
5) Memastikan bahwa penurunan kinerja
ataupun masalah yang ada adalah disebabkan karena kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental dalam bekerja; BUKAN karena alasan-alasan lain yang tidak bisa diselesaikan
melalui training.
6) Sebagai dasar untuk penyusunan ANGGARAN training.
F. PESERTA TRAINING
Menentukan PESERTA training merupakan salah satu hal yang krusial
dalam menyusun PROGRAM
pelatihan. Penentuan peserta dalam hal ini termasuk dengan fasilitator/trainer
dalam pelatihan tersebut. Dikatakan
krusial karena peserta akan sangat menentukan FORMAT pelatihan yang akan
dilakukan, memilih
trainer yang tepat agar proses pembelajaran dapat sesuai sasaran
yang diharapkan. Dengan
mengetahui peserta training maka perancang program dapat menentukan format yang
tepat dalam pelatihan. Adapun format yang digunakan apakah dengan menggunakan
ruang kelas (classroom setting), belajar sendiri (self learning), atau belajar dari
pengalaman (experiential
learning atau learning by
doing). Selain itu, dengan mengetahui
siapa peserta yang
akan ikut dalam pelatihan, maka perancang program pelatihan
dapat menggali lebih jauh berbagai informasi seperti:
a. Apa saja persyaratan minimal
(pendidikan, pengalaman,
dan ketrampilan) yang harus dipenuhi oleh peserta training agar dapat mengikuti pelatihan tersebut?
b. Apa dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki
oleh peserta training, termasuk pelatihan apa saja yang
pernah diikuti sebelumnya?
c. Apa saja persyaratan yang harus
dipenuhi oleh trainer/fasilitator untuk dapat menyelenggarkan pelatihan?
Apakah akan
menggunakan trainer dari dalam perusahaan atau
menggunakan trainer dari luar perusahaan?
d. Apa level jabatan peserta training, dan jenis kompetensi apa saja
yang harus ditingkatkan?
e. Apa
materi yang tepat untuk diberikan pada level jabatan tertentu?
f. Kapan
waktu atau jadwal yang tepat untuk melaksanakan training?
G. DUKUNGAN MANAJEMEN
Mengingat bahwa hal-hal yang
mempengaruhi kinerja SDM
maupun perusahaan secara keseluruhan TIDAK hanya ditentukan oleh pelatihan, maka
program pelatihan harus benar-benar dapat dipastikan MENDAPAT
DUKUNGAN dari berbagai
pihak di dalam perusahaan. Dukungan tersebut adalah berupa KOMITMEN dari pihak
manajemen untuk
menciptakan suasana yang kondusif bagi para peserta training agar dapat menerapkan apa yang sudah
mereka pelajari dalam
pelatihan yang telah mereka ikuti. Suasana kondusif tersebut misalnya: menempatkan SDM
pada jabatan yang sesuai dengan kompetensinya,
memberikan feedback tentang kinerja SDM secara periodik, mendengarkan
keluhan dan masalah yang dihadapi oleh SDM dalam menerapkan apa yang telah
dipelajari, memberikan reward bagi SDM yang berhasil memenuhi
standard kinerja yang diharapkan, menegur atau memberikan sanksi kepada SDM yang tidak menunjukkan kinerja yang
optimal, dan sebagainya.
Komitmen
tersebut menjadi sangat
penting mengingat bahwa pelatihan bukanlah sarana yang tepat untuk
mengendalikan hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan pengetahuan dan
keterampilan dalam bekerja. Dengan kata lain, pelatihan hanyalah merupakan sarana
yang berguna untuk menghilangkan atau mengurangi adanya kesenjangan antara
pengetahuan dan keterampilan
yang ada dibandingkan
dengan yang diharapkan. Pelatihan juga TIDAK serta merta melahirkan standard
kinerja yang diharapkan jika di tempat kerja sehari-hari tidak ada kriteria penilaian
tentang standard kinerja tersebut. Selain itu pelatihan tidak bisa menggantikan
peran Manajemen - Manager atau Kepala
Bagian dalam memberikan feedback kepada
bawahannya.
Tanpa
adanya komitmen yang sungguh-sungguh dari pihak Manajemen, maka dapat dipastikan bahwa pelatihan
hanya akan berjalan sukses di ruang kelas atau tempat pelaksanaan pelatihan
saja.
H. BUDGET TRAINING
Sekecil apapun kegiatan
pelatihan pasti membutuhkan DANA.
Oleh karena itu amat penting untuk menghitung untung rugi dari pelaksanaan
suatu pelatihan. Sebelum
program pelatihan DILAKSANAKAN, harus mengumpulkan dahulu berbagai informasi yang menyangkut
hal-hal seperti: BIAYA
apa saja yang harus dikeluarkan untuk peserta pelatihan maupun trainer,
apa keuntungan yang akan diperoleh dari pelatihan tersebut dan berapa lama hal
itu bisa dicapai, apakah biaya pelatihan masih sesuai
dengan budget yang ada, dan sebagainya.
Dengan
Training SDM
yang sistematis tersebut maka proses pencapaian VISI perusahaan niscaya akan
terus meningkat karena gap
kompetensi karyawan akan
terus bergerak ke arah kinerja yang diharapkan oleh perusahaan.
I. METODE TRAINING
“Class room”, “interactive and experiential learning”, dan “work shop”,
dimana seluruh peserta training akan berpartisipasi secara aktif karena seluruh
program training akan dimeriahkan dengan music, video clip, saling coaching,
dan simulasi bermakna sehingga suasana training akan selalu rileks, menyenangkan,
dan segaaar…
Mengapa SEMANGAT
– Kampus Kehidupan?
1) Telah
berpengalaman memberikan training pada lebih dari 500 kelas, yang dihadiri oleh
lebih dari 5000 peserta training di seluruh Indonesia.
2) Materi
training selalu dibuat customize dengan kebutuhan perusahaan.
3) Para
peserta training akan mendapatkan pemahaman dan persepsi yang sama untuk bekerja
lebih produktif dan maksimal secara team demi kemajuan dan perkembangan
perusahaan.
4) Para
peserta training akan lebih fresh, baik secara pikiran dan sikap mental karena
mendapatkan berbagai materi yang memotivasi dan inspiratif dengan metode
edutainment.
5) Para
peserta training akan mendapatkan suasana kerja baru yang positif dan lebih
kompak dalam nuansa kebersamaan untuk mencapai target yang telah ditetapkan
oleh perusahaan.
6) Great Modul – Excellent Delivery – Maximal Outcome!
Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Drs. Johanes Budi Walujo
PT. Berkat Akur Nanjaya
HP: 08112332777
WA/Line: 081919132777
Website: https://www.berkatakurnanjaya.com/