Minggu, 13 Desember 2015

BAGAIMANA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI?




Rahasia terbesar menghilangkan rasa rendah diri adalah dengan mengisi pikiran Anda dengan perasaan percaya diri. Kembangkan keyakinan yang kuat kepada Tuhan dan itu akan memberi Anda kepercayaan pada diri sendiri.

Jika Anda merasa kalah dan kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan Anda untuk menang, cobalah duduk dan ambil sehelai kertas. Buatlah sebuah daftar yang isinya bukan tentang berbagai hal yang menentang Anda, namun hal yang mendukung Anda.

Jika Anda secara mental memvisualisasikan dan terus memikirkan kekuatan Anda, maka Anda akan bangkit dan keluar dari kesulitan apapun. Kekuatan batin Anda akan terwujud dan-dengan bantuan Tuhan-mengangkat Anda dari kekalahan menuju kemenangan.

Salah satu konsep yang mampu mnegatasi kekurangan percaya diri Anda adalah pemikiran bahwa Tuhan bersama Anda dan menolong Anda. Inilah salah satu konsep sederhana dari ajaran agama paling sederhana, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa menemani Anda, berdiri di samping Anda, dan membimbing Anda. Tak ada gagasan lain yang begitu ampuh dalam pengembangan kepercayaan diri selain kepercayaan sederhana ini.

Untuk mempraktekkannya, Anda cukup menegaskan bahwa “Tuhan bersama saya; Tuhan menolong saya; Tuhan membimbing saya.” Setiap harinya, luangkan beberapa menit untuk memvisualisasikan sehadiran-Nya. Kemudian berlatihlah percaya pada penegasan tersebut.

Jalani pekerjaan atau bisnis Anda dengan asumsi bahwa apa yang sudah Anda teguhkan dan visualisasikan adalah benar.

Teguhkan, visualisasikan, percayai, dan segalanya akan terwujud dengan sendirinya. Pelepasan kekuatan dengan cara seperti ini akan mengejutkan Anda.

Percaya itu bergantung pada jenis pemikiran apa yang memenuhi pikiran Anda. Coba Anda pikirkan tentang kekalahan, Anda pasti akan kalah. Namun, cobalah Anda berlatih memikirkan sesuatu penuh dengan percaya diri, jadikanlah pemikiran itu kebiasaan yang mendominasi. Anda nantinya akan mampu mengembangkan suatu kekuatan yang membuat Anda mampu lepas dari kesulitan.

Sikap percaya benar-benar menghasilkan kekuatan yang luar biasa…

Baca: SEMANGAT DAN SELALU BERPIKIR POSITIF





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Sabtu, 12 Desember 2015

BAGAIMANA CARA BEKERJA CERDAS?




Otak Anda adalah mesin yang luar biasa, penuh dengan lapisan-lapisan potensial yang menunggu untuk dibuka dan diakses. Dalam era pekerjaan yang super sibuk ini, sangat mudah kita berpikiran bahwa kerja keras dan konstan adalah etos kerja yang dibutuhkan.

Salah satu tanda yang jelas dari seseorang yang bekerja cerdas adalah bahwa mereka tidak bekerja lebih banyak dari orang lain. Orang-orang yang bekerja cerdas tidak perlu menghabiskan lebih banyak jam kerja, mereka telah dengan bijaksana menghabiskan waktu kerja mereka yang didelegasikan dan juga telah dengan bijaksana memanfaatkan waktu di luar jam kerja.
Penelitian telah menunjukkan bahwa otak kita didesain untuk bekerja lebih cerdas daripada bekerja dengan keras, kita hanya harus bersedia untuk mengubah kebiasaan kita seputar cara kita bekerja dan belajar.


Tips berikut ini akan membantu Anda untuk bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Tips ini telah didukung oleh penelitian dan Anda dapat mulai memasukkannya ke dalam rutinitas harian Anda hari ini.

Beristirahatlah
Penelitian memberitahu kita melalui ritme ultradian bahwa otak kita hanya bisa fokus tanpa istirahat selama sekitar 90 menit. Jika kita perlu mengambil istirahat kecil, mungkin 15 menit atau lebih, setiap 90 menit bekerja, maka kita akan menyegarkan dan mempertajam otak kita. Sebuah periode istirahat kecil dari otak akan membantu otak untuk mengatur ulang fungsinya bahkan pada tingkat yang lebih tinggi setelah kita kembali bekerja sehabis istirahat.

Lakukan kreativitas
Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang memiliki hobi kreatif di luar tempat kerja tampil lebih baik ketika mereka bekerja. Orang-orang ini lebih siap untuk kreatif memecahkan masalah di tempat kerja.

Mengatur ulang daftar pekerjaan yang harus dilakukan (to do list)
Nahh..., pertama-tama, miliki daftar ini. Idealnya, Anda harus menulisnya pada malam sebelum pekerjaan dimulai. Tapi begitu Anda memilikinya, daftar pekerjaan ini belum akan membantu Anda untuk bekerja lebih cerdas. Sebaliknya, mulailah daftar Anda dengan hal-hal yang paling penting untuk dilakukan pertama kali. Cobalah untuk membatasi hal-hal yang paling penting sebanyak tiga pekerjaan selama satu hari. Setelah itu baru dilanjutkan dengan tugas-tugas yang kurang penting. Energi segar Anda di pagi hari harus Anda gunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas penting, sementara Anda dapat menangani tugas-tugas yang lebih mudah di kemudian hari.

Buatlah batasan
Jangan bekerja sepanjang waktu. Tetapkan batas-batas mengenai berapa banyak kehidupan pribadi Anda masuk ke dalam pekerjaan Anda, begitu juga sebaliknya. Jangan menjawab email kerja ketika Anda telah berada di rumah dan juga tidak membiarkan hal-hal rumah tangga untuk mengganggu pekerjaan Anda terus-menerus.

Identifikasi pembuang waktu
Apakah Anda menemukan bahwa Anda diam bekerja dan masuk ke media sosial terlalu sering? Atau mungkin Anda terlibat dalam percakapan non-pekerjaan terlalu gampang dan terlalu lama? Identifikasi hambatan yang datang antara Anda dan produktivitas Anda dan hilangkan mereka. Anda dapat mengejar ketertinggalan dengan media sosial dan percakapan di waktu berikutnya, waktu yang memang telah Anda sisihkan.

Baca: SOFT SKILL vs HARD SKILL





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Minggu, 06 Desember 2015

AKIBAT RAKUS...




Ada sebuah kisah…

Sepasang suami-istri petani, sesudah makan malam, mengatakan, “Jika kita mempunyai cukup tanah, kita akan berbahagia.”

Cerita selanjutnya menjelaskan bahwa akhirnya mereka memiliki sebidang tanah yang lebih luas. Tetapi setiap makan malam selalu diakhiri dengan keinginan yang sama, tanah yang lebih luas. Pada waktunya, akhirnya mereka memperoleh tanah yang luas dan menjadi pemilik tanah yang kaya.
Pada suatu hari salah seorang tetangganya seorang kaya yang bijak, yang mempunyai tanah jauh lebih luas dari mereka datang berkunjung ke rumah mereka.

Ketika acara makan malam diakhiri dengan keinginan yang sama, memiliki tanah yang lebih luas, tetangganya itu bertanya, “Berapa luas tanah yang dirasakan cukup?”

Petani itu, meskipun sekarang seorang yang sudah kaya, menjawab bahwa seluruh tanah yang dapat dikelilingi olehnya selama satu hari, itu sudah cukup.
Tetangganya yang bijak itu mengatakan bahwa dia dapat berjalan mengelilingi tanahnya - yang lebih luas daripada milik petani itu, dan tanah yang akan diinjak oleh petani itu akan menjadi miliknya, dengan syarat bahwa petani itu harus membuat satu lingkaran.

Pagi-pagi sekali petani itu bangun dan berjalan kemudian berlari-lari kecil sepanjang hari, dengan selalu memperbesar lingkarannya agar memperoleh lebih luas tanah yang akan menjadi miliknya.

Senja tiba dan dia dapat melihat di kejauhan istrinya dan tetangganya itu. Daripada berlari menuju mereka, dia memutuskan untuk membuat lingkaran yang lebih besar lagi termasuk di dalamnya rumah tetangganya yang sangat mewah dan megah.

Tepat ketika matahari terbenam dia sampai ke tempat istrinya. Dengan penuh rasa kemenangan, dia tertawa gembira – kemudian mati; denyut jantungnya berhenti karena telah memaksa diri untuk berlari.

Pada hari berikutnya dia dikuburkan. Sekali lagi, tetangganya yang bijak itu menanyakan kepada istri petani itu, “Berapa luas tanah yang dirasakan sudah cukup?”

Kemudian dia sendiri menjawab pertanyaan itu, “Tidak seorang pun membutuhkan sebidang tanah lebih dari dua kali tiga meter! Dan teman kita ini akhirnya mempunyai cukup tanah.”






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Minggu, 29 November 2015

MEMBANGUN RUMAH MASA DEPAN




Ada seorang kaya yang baik hati ingin menunjukkan kebaikannya…
Pada suatu hari dia memperhatikan kondisi malang dari seorang tukang kayu tetangganya. Orang kaya itu memanggil tukang kayu yang miskin itu dan memberikan wewenang kepadanya untuk membangun sebuah rumah yang indah dan megah.

“Saya inginkan agar rumah itu menjadi sebuah rumah yang sungguh indah dan mengah. Gunakan saja bahan-bahan terbaik. Pekerja-pekerja terbaik, dan tidak perlu berhemat”, begitu petunjuk dari orang kaya itu.
Orang kaya itu memberi pesan bahwa dia akan mengadakan perjalanan jauh yang memakan waktu cukup lama, dan dia mengharapkan bahwa rumah itu sudah rampung pada saat dia kembali dari perjalanan.

Tukang kayu yang miskin itu melihat bahwa ini adalah sebuah ‘kesempatan’ yang sangat berharga dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Karena itu, dia menghemat bahan-bahan bangunan, menyewa pekerja-pekerja bermutu rendah yang mau dibayar murah, sedapat mungkin menutupi segala kekurangan-kekurangan dalam pembangunan rumah tersebut.

Ketika orang kaya itu pulang, tukang kayu itu menyerahkan kunci-kunci rumah kepadanya dan berkata, “Saya telah mengikuti semua petunjuk tuan dan membangun rumah sesuai dengan yang tuan inginkan.”

Orang kaya itu mengatakan, “Saya sangat senang”, dan kemudian menyerahkan kunci-kunci rumah baru itu kepada tukang kayu, dengan berkata, “Ini kunci-kunci rumah yang baru itu. Saya sudah menyuruh kamu membangun rumah untuk dirimu sendiri, kamu dan keluargamu menjadi pemilik rumah itu sebagai hadiah dari saya.”

Pada tahun-tahun selanjutnya, tukang kayu itu tidak pernah berhenti menyesali bagaimana dia telah menipu dirinya sendiri.

“Kalau saya tahu bahwa rumah itu saya bangun untuk diri saya sendiri…”, begitulah kata tukang kayu kepada diri sendiri.

Baca: BERHUTANG PADA KEHIDUPAN





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Rabu, 25 November 2015

BERHUTANG PADA KEHIDUPAN




“Di dunia ini bukanlah apa yang kita perjuangkan, melainkan apa yang bisa kita berikan yang membuat kita kaya. Mereka yang tidak suka memberi akan selalu merasa kekurangan.”

Albert Einstein berkata, “Saya mengingatkan diri saya ratusan kali dalam sehari bahwa hidup yang saya punya di dalam dan di luar diri saya adalah karena usaha orang lain yang masih hidup atau sudah meninggal. Dan karena itu, saya harus mengembangkan diri supaya saya bisa memberi sebanyak yang saya terima.”

Jika merenungkan kata-kata di atas, kita akan menemukan bahwa kita sudah berhutang kepada banyak orang, bahkan kepada Tuhan. Kita berhutang kepada orang tua yang sudah melahirkan, mendidik, dan membesarkan kita. Kita berhutang kepada guru-guru yang telah memberikan ilmu dan pola pikir yang benar. Kita berhutang kepada para pembimbing rohani yang mengajari tentang inti hidup dengan melatih karakter.

Kita berhutang kepada atasan yang telah memberikan ‘training & coaching’ untuk mengembangkan diri. Kepada perusahaan (dan pemilik perusahaan) yang telah memberi kita kesempatan kerja dan berkarya. Dan yang pasti, kita berhutang kepada Tuhan yang telah menganugerahkan telenta dan kemampuan kepada kita untuk menjalani kehidupan yang bermakna.

Jadi, marilah kita miliki prinsip seperti ini, bahwa apa yang kita terima harus kita teruskan pada orang lain. Pengetahuan yang kita miliki tidak boleh tetap terpenjara dalam benak kita. Berkah Tuhan, tak boleh tertahan di tangan kita. Sebaliknya, kita harus menjadi saluran berkat Tuhan. Mengapa? Karena apa yang kita simpan untuk diri kita sendiri akan lenyap, tetapi apa yang kita berikan pada orang lain akan kita miliki selamanya. Bukankah demikian?

Oleh karena itu, berbagilah hal positif, kebaikan, dan kebahagiaan dengan orang lain… Apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya?

Untuk dapat menjalani kehidupan yang lebih baik, indah, dan menarik!







Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Selasa, 24 November 2015

BERPIKIR LAIN DARI BIASA



Pernahkah Anda mendengar cerita tentang gajah yang kakinya diikat rantai sejak kecil? Makanan dan minuman untuk gajah selalu disediakan di tempat yang mudah dijangkau tanpa harus berjalan jauh. Setiap kali ia buang air, selalu ada orang yang membersihkannya. Tempat gajah itu pun diberi peneduh sehingga ia tidak terkena hujan dan panas.

Setelah lebih dari 3 tahun, rantai yang mengikat kaki sang gajah dilepas. Apakah gajah itu akan berjalan jauh dari tiang tempatnya dirantai selama ini? Tidak! Gajah tersebut sudah “mendapatkan” cara hidup yang ditentukan oleh orang yang merantai kakinya. Gajah itu berhenti pada cara pandang itu. Ia bahkan takut memandang kehidupan dengan cara lain. Akibatnya, sang gajah tetap berada di sekitar tiang tempatnya terikat selama ini walaupun rantai di kakinya telah dilepas.


“Pikiran sempit mudah dipengaruhi dan dikecewakan oleh nasib malang, tetapi pikiran luas senantiasa berada di atas angin.”
(Washington Irving)


Sadarkan Anda, seringkali kita membatasi cara pandang. Akibatnya, Anda menjadi pribadi seperti “katak dalam tempurung”. Secara langsung, cara berpikir demikian akan mempengaruhi hasil karya Anda. Mari, lepaskan kacamata kuda yang selama ini kita kenakan. Mulailah menjadi orang yang terbuka dengan segala kemungkinan, termasuk ilmu, masukan, dan ide-ide baru.
  


“Dalam bekerja, rutinitas dan tanpa motivasi seringkali membuat kita ‘tidak mau’ belajar, bertumbuh dan mengembangkan diri; secara perlahan dan pasti akan ‘membunuh’ inisiatif dan kreativitas.”
(Johanes  Budi Walujo) 

Baca: PIKIRAN ANDA MENENTUKAN JALAN HIDUP ANDA!





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Minggu, 22 November 2015

TUHAN AKAN MENYELAMATKAN SAYA




Ada banjir melanda suatu daerah dan seorang yang percaya kepada Tuhan berusaha keras untuk menolong siapa saja sedapat mungkin…

Air sudah sampai ke lututnya dan masih terus naik ketika dia menolong seorang lelaki dan wanita yang terluka.

Sebuah mobil datang mendekat dan salah seorang berkata kepadanya, “Biarkan saya menyelamatkan kamu.”

Namun orang itu berkata, “Selamatkan dua orang ini, Tuhan akan menyelamatkan saya.”

Mobil itu menjauhi dia.

Air naik terus sampai ke pinggangnya, sementara dia terus berusaha untuk membantu seorang ibu dan dua anaknya.

Sebuah perahu karet penyelamat datang mendekat dan salah seorang berkata, “Mari, biarkan saya menyelaamatkan kamu.”

Tetapi orang itu berkata, “Selamatkan orang-orang malang ini. Tuhan akan menyelamatkan saya.”

Perahu karet itu menjauhi dia untuk menyelamatkan orang lain.

Air terus naik dan sekarang sudah sampai ke lehernya, dia terus berenang dan kemudian sebuah helikopter datang mendekat, salah seorang berteriak, “Mari, biarkan saya menyelamatkan kamu.”

Orang itu pun berkata, “Selamatkan saja orang lain, saya percaya Tuhan akan menyelamatkan saya.”

Air naik semakin tinggi lagi, akhirnya karena kelelahan dia tenggelam.
Dia menemukan dirinya berada di gerbang surgawi dan sang malaikat menuntun dia ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Orang itu berkata, “Tuhan, saya menjalani hidup yang baik, memberi makan kepada yang lapar, menolong para tuna wisma, sering berdoa dan menghantar banyak orang untuk percaya pada-Mu. Katakan padaku, mengapa Engkau tidak menolong aku ketika aku berada di tengah banjir itu?”


Tuhan menjawab, “Jangan persalahkan Aku. Aku sudah berbuat untuk menolong kamu, bukankah Aku sudah mengirim mobil, perahu karet, dan helikopter untuk menyelamatkanmu dari banjir…”






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

PIKIRAN ANDA MENENTUKAN JALAN HIDUP ANDA!




Pada suatu hari seorang anak muda berjalan di sebuah jalan desa. Waktu itu pagi buta dan dia ingin bertemu dengan beberapa sahabat yang tinggal agak jauh dari tempat tinggalnya. Dia mengenakan baju berwarna coklat, rambutnya baru dicukur rapi, dan sandalnya menyeret tanah sehingga debu berterbangan diterpa sinar matahari pagi.

Sekitar siang hari dia mulai merasa lelah. Sudah waktunya untuk makan siang tetapi dia lupa membawa bekal. Dia mulai merasa agak kesal, bahkan sedikit bingung memikirkan perjalanannya yang masih panjang, teriknya matahari dan “mengapa” dia harus melakukan perjalanan itu.

Dia sama sekali tidak berkonsentrasi ke jalan dan sangat terganggu kira-kira pada pukul 13.30. Di saat itu dia terantuk pada sebuah batu yang terletak di tengah jalan. Dia bahkan tidak melihat batu itu karena hanyut oleh pikiran dan keprihatinannya. Bagaimanapun juga dengan luka pada jari kakinya, dia baru menyadari akan lingkungannya.

Apa sebab batu ini ada di sini? Pikirannya berpindah pada arah yang baru. Mengapa batu itu berada di tengah jalan yang dilewatinya? Apakah ada seseorang yang dengan sengaja meletakkannya di situ? (Batu bertambah besar). Pasti, ada orang yang sengaja menempatkan batu itu di sana sehingga dia terantuk. (Batu semakin bertambah besar lagi). Ada orang yang tidak suka dengannya. (Batu itu sekarang menjadi begitu besar sehingga menutupi seluruh jalan). Pikirannya mulai membuat daftar nama orang-orang yang tidak menyukainya dan barangkali yang tidak dapat bergaul dengannya.

Pada saat itu, batu sudah menjadi seperti sebuah gunung yang sangat besar. Anak muda itu duduk di pinggir jalan di bawah naungan sebatang pohon, memandang gunung raksasa yang menghalangi semua usahanya dan mengacaukan rencananya.

Di jalan yang sama itu lewat seorang wanita tua dan melihat anak muda yang sedang kebingungan. Wanita itu mendekatinya dan menanyakan apa yang menjadi masalahnya. Anak muda itu mengatakan seluruh cerita tentang keinginannya, maksud baiknya dan bagaimana dia sudah terluka jari kakinya dan dirintangi oleh sebuah gunung yang besar yang dipasang seseorang di jalan itu. Wanita tua itu menyiapkan sedikit waktu untuk bercakap-cakap dengan anak muda itu. Kemudian wanita itu pergi ke tengah jalan, mengambil sebuah batu kecil dan melemparkan batu itu ke seberang jalan. Anak muda itu sangat terkejut dan keheranan. Ketika meninggalkan tempat kejadian dan nasibnya telah bertemu dengan wanita tua tersebut, dia memperhatikan bahwa gunung yang ada dipikirannya itu hanyalah sebuah batu kecil, tidak terlalu besar sebenarnya untuk mencegah dia melakukan perjalanan untuk menjumpai sahabat-sahabatnya.


UNTUK DIRENUNGKAN:
Di sepanjang perjalanan hidup kita, sering pikiran kita yang negatif mempengaruhi arah perjalanan dan tujuan semula dari hidup kita. Lingkungan tempat kita hidup dan dimana kita bergaul, situasi dan kondisi kehidupan yang sedang kita alami, bahkan pemahaman tentang kehidupan serta keyakinan yang kita anut, mau atau tidak mau, sengaja maupun tidak disengaja akan mempengaruhi jalan hidup kita…

Untuk itu, hati-hatilah dengan cara Anda berpikir!






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Rabu, 11 November 2015

JANGAN MEMPERSULIT ORANG!




“Bila kita bisa memberikan cara-cara yang lebih mudah, lebih sederhana, mengapa harus memakai cara yang sulit dan rumit?”


Suatu hari, saya mengalami masalah pada paket BlackBerry. Saya sudah mengaktifkan paket yang saya inginkan, tapi sampai beberapa jam kemudian, paket tersebut masih belum aktif juga. Jadi, saya putuskan menelpon customer service untuk meminta bantuan.

Seorang wanita menjawab telepon saya. Ia menanyakan banyak hal yang sebenarnya membuat saya agak kesal sampai saya putuskan pembicaraannya, karena merasa dipersulit. Selang beberapa waktu kembali saya menelepon customer service. Pria ini menanyakan beberapa hal yang sama seperti wanita tadi. Namun bedanya, customer service yang kedua ini menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti. Dan satu hal yang penting adalah, ia mempermudah saya untuk memahami kesalahan yang terjadi pada paket yang saya pilih.

Dari pengalaman saya tersebut di atas, banyak pribadi di sekeliling kita yang tidak memberikan solusi, tapi justru mempersulit. Alasan yang umum digunakan adalah mematuhi prosedur. Unsur pembeda dalam hal ini adalah cara melayani. Penggunaan bahasa sederhana dan kemauan mendengarkan keluhan dengan baik akan membuat perbedaan. Yang perlu saya tekankan, keinginan membantu dan mempermudah orang lain adalah yang utama. Yang saya maksud “mempermudah” di sini tentu berada dalam koridor yang positif.

Dalam bekerja, jika kita bisa melakukannya dengan cara lebih sederhana - efektif dan efisien, kenapa “milih” yang rumit dan sulit, yang menguras tenaga dan pikiran, bahkan biaya ekstra?

Baca: BEKERJA DENGAN HEBAT!






Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Sabtu, 31 Oktober 2015

LEPASKANLAH YANG ENGKAU GENGGAM ITU!




Pada suatu ketika hidup seorang tua. Dia sangat mencintai pulau kecil - tanah kelahirannya itu sehingga pada saat hampir mati dia memanggil anak-anaknya dan meminta mereka untuk membawanya ke luar rumah lalu meletakkannya di atas tanah. Sesaat sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia berusaha menggapai tanah di sisinya dan dapat mengambil segenggam tanah.

Sekarang dia muncul di depan gerbang surga. Tuhan menampakkan diri sebagai seorang tua yang berjenggot dan beruban datang menyalami dia, “Selamat datang! Engkau memang seorang yang baik selama hidup. Silakan masuk dalam kerajaan surga.” Tetapi ketika orang tua itu hendak melangkah masuk ke dalam gerbang surga, Tuhan mengatakan kepadanya, “Engkau harus melepaskan tanah yang ada dalam genggamanmu itu.” Orang tua itu menjawab, “Tidak akan pernah”, sambil melangkah mundur. Karena itu Tuhan meninggalkan dia di luar gerbang surga.

Beberapa jaman berlalu dan Tuhan datang lagi dengan menampakkan diri sebagai seorang sahabatnya, teman minumnya dulu. Mereka minum bersama sambil bercerita kisah-kisah kenangan. Kemudian Tuhan berkata kepadanya, “Baik, sekarang sudah waktunya kamu untuk masuk surga, sahabatku. Mari kita pergi.” Lalu mereka berjalan untuk memasuki gerbang surga. Sekali lagi Tuhan meminta orang tua itu melepaskan tanah yang ada di dalam genggamannya tetapi dia menolak.

Waktu pun berlalu dan Tuhan kali ini datang menampakkan diri sebagai seorang cucu yang lucu dan paling disayanginya. Dia berkata, “Kakek, engkau memang hebat; kami semua sangat rindu padamu. Mari masuk ke surga bersama dengan saya.” Orang tua itu mengangguk dan cucu itu menopang dia sebab pada saat itu dia sudah menjadi sangat tua dan menderita arthritis. Penyakit ini begitu menyakitkan sehingga dia harus menggenggam tanah dengan dengan kedua tangannya. Mereka berjalan menuju gerbang surga dan pada saat mendekati gerbang surga kekuatannya habis. Jari-jarinya sudah tidak kuat lagi untuk menggenggam tanah tadi sehingga akhirnya tanah itu berjatuhan. Sekarang tangannya sudah kosong, kemudian dia masuk ke surga.



Hal pertama yang dilihatnya setelah masuk ke gerbang surga ialah pulau indah tanah kelahiran yang sangat dicintainya itu, padahal selama ini tanah dari pulau itu hanya dia genggam…

Baca: LEPASKAN DAN RELAKANLAH...





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w