Minggu, 28 Oktober 2012

BAGAIMANA CARA BERPIKIR YANG BENAR?




Karl Wallenda adalah salah satu akrobatik pejalan di atas tali yang meninggal tahun 1978 karena tergelincir dari tali kabel setinggi 22,5m di pusat kota San Juan, Puetro Rico. padahal sebelum-sebelumnya Karl dikenal sangat hebat, sangat ahli, dan sudah terlalu biasa untuk meniti di atas tali. Lalu apa yang membuat atraksinya kali ini berakhir tragis?

Istrinya menceritakan bahwa untuk mempersiapkan pertunjukkan terakhir itu, Karl memang berbeda dari biasanya. Istrinya berkata, "Yang dipikirkan Karl selama tiga bulan terus menerus adalah tentang jatuh, padahal selama ini hal tersebut tidak pernah terlintas di pikirannya. Karl sepertinya mengerahkan seluruh tenaganya untuk tidak jatuh, dan bukannya untuk berjalan di atas tali."

Barangkali apa yang terjadi dengan Karl sangat pas dengan apa yang dikatakan Ayub, "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku." Dalam bahasa yang lebih populer, itulah yang disebut dengan The Law of Attraction atau hukum tarik menarik. Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan datang kepada kita. Jika kita berpikir tentang ketakutan-ketakutan kita, itulah yang akan menimpa diri kita.

Baca: AJAIBNYA KEKUATAN PIKIRAN

Mustahil sebagai manusia kita tidak pernah merasakan takut. Saya juga pernah dihinggapi rasa takut. Namun, yang perlu saya lakukan adalah tidak membiarkan ketakutan-ketakutan itu menguasai diri saya. Saya harus segera mengganti segala bentuk ketakutan saya dengan hal-hal yang positif. Berbicara soal risiko, saya harus mengganti fokus dari hal-hal yang negatif apa saja yang bakal menimpa diri saya menjadi keuntungan-keuntungan apa saja yang akan saya dapatkan jika saya berani bertindak. Ketakutan-ketakutan kita akan menarik peristiwa buruk terjadi, persis seperti yang kita takutkan. Sebaliknya, jika kita menggambarkan hal-hal yang positif dalam benak kita, itu juga yang akan mendatangi kita. Jika segala sesuatu terjadi sama persis dengan apa yang kita pikirkan, mengapa kita tidak memilih untuk memikirkan hal-hal yang positif?
Apa yang kita takutkan, itulah yang akan terjadi!

Baca: POLA PIKIR POSITIF





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Senin, 22 Oktober 2012

CINTAILAH PEKERJAANMU!



Jika Anda ingin berbahagia selama satu jam, silakan tidur siang.

Jika Anda ingin berbahagia selama satu hari, pergilah piknik.

Jika Anda ingin berbahagia selama satu minggu, pergilah berlibur.

Jika Anda ingin berbahagia selama satu bulan, menikahlah.

Jika Anda ingin berbahagia selama satu tahun, warisi kekayaan.

Jika Anda ingin berbahagia seumur hidup, cintailah pekerjaan Anda!

(Pepatah Cina)


Baca: CARA MENCIPTAKAN KEBAHAGIAAN





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Rabu, 03 Oktober 2012

APA ITU KONSEP KAIZEN?




Anda tahu konsep KAIZEN, bagi yang belum tahu, itu merupakan salah satu konsep hidup yang dihayati oleh masyarakat Jepang, yaitu “melakukan perbaikan-perbaikan kecil yang kelihatannya remeh namun berkesinambungan, terus menerus.” Kaizen sudah menjadi budaya bagi bangsa Jepang, dan dengan konsep itulah, Jepang yang hancur di bom atom pada perang dunia II menjadi salah satu negara di Asia yang paling maju.

Sebaliknya, mungkin justru yang sangat kurang pada kita adalah kesetiaan dan ketekunan untuk melakukan hal-hal kecil yang memberikan andil buat perbaikan, yang membuat kehidupan pribadi bertumbuh dan memberikan nilai tambah bagi orang-orang yang ada di sekitar.

Kita terlalu banyak bicara besar, kita terlalu suka mengumbar konsep-konsep canggih. Kita terlalu congkak dengan menebar gagasan-gagasan besar, juga kita terlalu gegabah dengan berteriak hal yang tidak realistis.
Di tengah semua kondisi dan terlalu itu, kita terlalu meremehkan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan secara riil, nyata, realistis, dan dengan demikian juga efektif dan efisien, untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil kerja agar lebih produktif, untuk menumbuh kembangkan kehidupan agar lebih positif.
“Melakukan hal-hal kecil”. Rangkaian kata itu boleh kita angkat sebagai sebuah ide yang meningkatkan kita semua yang selama ini terlalu banyak bicara besar, namun terlalu sedikit berbuat riil atau jarang sekali bertindak nyata untuk memperbaiki kehidupan. Membuat kehidupan yang semakin baik, indah dan menarik…
Baca: APAKAH ANDA INGIN BERUBAH?


“Pemberian Anda yang paling berharga kepada orang lain adalah memberi teladan yang baik.”
(Anonim)





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Selasa, 02 Oktober 2012

BELAJAR SELALU BERSYUKUR




Suatu ketika seseorang saudagar terkaya di kotanya mengajak putra tunggalnya yang berusia belasan tahun, mengunjungi suatu perkampungan yang letaknya sangat jauh dari peradaban kota tempat mereka bermukim selama ini, dengan tujuan ingin memperlihatkan sisi kehidupan yang mungkin selama ini belum pernah disaksikan oleh putra kesayangannya itu... betapa seseorang mungkin saja hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan. Mereka menginap selama beberapa malam di perkampungan petani dan peternak miskin di perkampungan tersebut.

Pada saat di perjalanan pulang menuju kota tempat mereka bermukim, sang ayah bertanya kepada putranya tersebut:

"Bagaimana pendapatmu dengan perjalanan dan pengalaman kita kali ini, putraku?"

Sang putra pun menjawab: "Wah... ayah, ini perjalanan kita yang sangat luar biasa."

Sang ayah balik bertanya: "Luar biasa menurutmu... hal apa yang membuat kamu bisa berkata seperti itu putraku?"
"Apa kamu sempat saksikan betapa hidup manusia bisa saja hidup sangat miskin dan serba kekurangan, sangat berbeda dengan kondisi kita yang selalu berkecukupan, putraku."

Sang putra menjawab lagi: "Oh iya, tentu saja ayah, saya telah menyaksikan sendiri apa yang telah ayah katakan tadi."

Sang ayah pun bertanya lagi: "Jadi pelajaran apa yang dapat kau peroleh dari perjalanan kita kali ini?"

Kemudian putaranya berujar:
"Kita punya 1 anjing, mereka punya 4 anjing, ayah"
"Kita punya kolam renang yang luas sampai setengah taman rumah kita, mereka memiliki telaga yang tiada batasnya."
"Kita membeli lampion dan lentera dari negeri seberang untuk penerang taman-taman kita, mereka memiliki bintang-bintang di langit pada malam hari."
"Kita memiliki sebidang tanah yang cukup luas, mereka memiliki hamparan ladang yang melampaui pandangan mata kita."
"Kita ada beberapa orang pembantu untuk melayani kita, mereka memiliki lebih banyak lagi sebab mereka saling melayani sesamanya."
"Kita membeli bahan makanan untuk makan kita, mereka menumbuhkannya sendiri."
"Kita membangun tembok tinggi mengelilingi rumah kita untuk melindungi harta kita, mereka membangun persahabatan dan saling melindungi."

Mendengar kata-kata putranya, sang ayah pun tunduk terdiam, kemudian sang putra menambahkan:
"Terima kasih ayah... sebab telah membawa saya dalam perjalanan ini dimana saya baru tersadar bahwa betapa miskinnya kita."
"Betapa seringnya kita melupakan apa yang telah kita miliki dan terus memikirkan hal-hal lain yang belum kita miliki, apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang, mungkin saja merupakan impian dan dambaan bagi orang lain... semua ini berdasarkan pada cara pandang seseorang."

Dan semua ini membuat saya bertanya...
Apakah yang akan terjadi bila kita semua BELAJAR SELALU BERSYUKUR kepada 'TUHAN Yang Maha Pemberi' sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakanNya untuk kita... daripada kita terus menerus merasa cemas dan khawatir bahkan takut akan hari esok, dan selalu memohon agar diberikan lebih lagi dari apa yang telah kita peroleh selama ini...

Baca: KASIH DAN PEBULI





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Kamis, 06 September 2012

CINTAILAH PEKERJAANMU!




Bila Anda tidak mencintai pekerjaan Anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana, rasakan kegembiraan dari pertemanan itu dan pekerjaan pun jadi menggembirakan.

Jika Anda tidak mencintai rekan-rekan kerja Anda, maka cintailah suasana kerja dan gedung kantor Anda.

Hal ini akan mendorong Anda agar bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.

Bila Anda juga tidak bisa melakukan hal itu, maka cintailah setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja Anda.
Perjalanan yang menyenangkan akan menimbulkan kegembiraan juga.

Namun, jika Anda tidak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apapun yang bisa Anda cintai dari pekerjaan Anda, apa saja!

Jika Anda tidak menemukan yang bisa Anda cintai dari pekerjaan Anda, maka mengapa Anda ada di situ?

Tak ada alasan bagi Anda untuk tetap bertahan.
Cepat pergi dan carilah apa yang Anda cintai, lalu bekerjalah di sana.

Dalam menjalani kehidupan, tak ada yang lebih indah selain melakukan pekerjaan dengan kegembiraan dan rasa cinta yang tulus...





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Selasa, 04 September 2012

DIMANA MENCARI KEBAHAGIAAN?




Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.


Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, 'King of Pop' penyanyi terkenal dari USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau keberhasilan apapun dalam hidupnya.
Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri... mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal…

“Jika kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu, dan kita yang tidak kaya akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.”

“Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti di belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul dimana kebahagiaan itu berada.”

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.
Yang kita butuhkan adalah Hati yang Bersih dan Ikhlas serta Pikiran yang Jernih, maka kita sebenarnya bisa menciptakan rasa “Bahagia” itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun.

Kebahagiaan itu milik orang-orang yang dapat Bersyukur...

Baca: BELAJAR SELALU BERSYUKUR





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!



Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Jumat, 17 Agustus 2012

KASIH DAN PEDULI





Alkisah, ada seekor tikus yang hidup di rumah seorang petani. Ia adalah tikus kecil yang bahagia, sebab ia mendapat cukup banyak makanan. Bagus juga jika ada tikus di rumah, karena itu artinya tidak perlu penyedot debu. Biar si tikus aja yang memunguti remah-remah yang kecil dan mungil. Hehehe...

Namun, petani pemilik rumah rupanya tak pernah menyukai tikus itu. Suatu hari, ketika si tikus mengintip melalui lubangnya, ia melihat petani itu tengah membuka sebuah bungkusan, isinya ternyata perangkap tikus!

Dengan penuh ketakutan, si tikus menemui sahabatnya, Si ayam, dan berkata, “Pak Tani beli perangkap tikus! Ini mengerikan! Ini bencana!”
Namun Si Ayam malah berkata, “Bukan masalahku. Tak ada hubugannya denganku. Itu urusanmu, Tikus! Pergi sana!

Tikus itu tidak mendapat simpati dari ayam, jadi ia pergi menemui sahabat yang lain, Tuan Kambing. “Tuan Kambing, Tuan Kambing! Pak Tani beli perangkap tikus. Ini sangat mengerikan! Aku dalam bahaya!”
Tuan Kambing berkata, “Gak ada hubungannya denganku, itu urusanmu! Perangkap tikus gak bisa menangkap babi. Kamu lagi sial aja, sana pergi!”

Tikus itu begitu kecewa dengan Tuan Kambing, maka ia menemui sahabat yang lainnya lagi, Nyonya Sapi.
“Nyonya Sapi! Tolonglah aku! Pak Tani sudah beli perangkap tikus! Aku begitu ketakutan sekarang! Aku bisa kena perangkap itu dan aku akan terbunuh…!”
Nyonya Sapi berkata, “Wah, wah… Itu sih bukan urusanku, dan tidak ada hubungannya denganku!”

Tikus itu tidak mendapatkan satu pun simpati dari para sahabatnya. Dengan muram dan sangat kecewa, ia pun pulang ke lubangnya. Malam itu, seekor ular menyusup masuk ke rumah petani dan ekornya terkena perangkap tikus itu.
Ketika pagi hari istri petani datang untuk memeriksa apakah perangkap itu sudah menangkap tikus, ular itu mematuk istri petani itu. Akibat bisa ular, istri petani itu menderita sakit. Karena sang istri sakitnya makin berat, petani itu berpikir’ “Apa yang bagus untuk orang sakit? Ahh…, sup ayam!”
Maka petani itu memotong ayam dan merebusnya menjadi sup untuk istrinya. Si ayam kehilangan nyawanya.

Istri petani tak kunjung sembuh. Sanak saudara berdatangan untuk menengok istri petani. Karena banyak tamu berkunjung, dan harus menyediakan makanan untuk mereka, pak tani menangkap kambing, menjagalnya, lalu menyajikan sate dan gulai kambing untuk para tamunya. Si kambing pun kehilangan nyawanya.

Sekali pun sudah melalukan segala upaya untuk menyembuhkan istrinya, namun istri petani malang itu akhirnya meninggal. Karena istrinya meninggal, dan harus mengeluarkan banyak biaya untuk pemakaman, maka petani itu memotong sapi dan menjual dagingnya. Jadi pada akhirnya, si ayam mati, si kambing kehilangan nyawa, dan si sapi dijagal…, semua itu karena perangkap tikus kecil.

Kita sering berpikir, “Ini bukan urusanku… Tak ada hubungannya denganku… Tidak akan mempengaruhiku… Itu masalah orang lain.” Tapi kisah ini memberitahu kita: “Bukan! Ini bisa jadi masalahku juga.”
Itulah sebabnya mengapa kita harus saling membantu satu sama lain, dan tidak harus selalu tahu bagaimana hal itu akan berakibat pada kita. Bagian yang indah dalam proses ini adalah berbagi hal postitif, kebaikan, dan kebahagiaan dengan orang lain secara tulus… Untuk kehidupan yang lebih baik, indah, dan menarik!

Kita selesaikan bersama-sama. Jika upaya kita berhasil dan mencapai akhir yang baik, luar biasa. Tapi meski pun tidak selalu berhasil, hal yang paling penting adalah: kita telah bekerja bersama-sama.
Pokok masalahnya bukanlah dalam menyelesaikan semua masalah kita, namun ada pada kenyataannya bahwa kita sering tidak mau bekerja sama. Di situlah masalahnya!



Sifat egois, iri, atau rakuslah yang memungkinkan kita ingin selalu diperhatikan oleh orang lain, dan kita kurang bahkan tidak mau peduli dengan orang lain…
Selama Anda ingin lebih, Anda tidak akan menikmati apa yang sudah Anda miliki!
(Diedit dari: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya #3 – Ajahn Brahm)

Baca: ARTI SEBUAH KESUKSESAN...





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Selasa, 07 Agustus 2012

BELAJAR DARI ALAM...




Dulu semasa kuliah di Jogja, saya sering mendaki gunung. Gunung-gunung di sekitaran Jawa Tengah, bahkan sudah beberapa kali saya daki sampai ke puncaknya.
Dari pendakian-pendakian tersebut, saya belajar banyak hal tentang:
·      Bagaimana mencintai alam,
·      Tidak egois – harus saling menolong,
·      Fokus pada tujuan,
·      Persiapan diri dan perencanaan yang matang, dan
·      Sabar – rendah hati serta mental dan sikap pantang menyerah…

Gunung yang sangat besar menyampaikan pesan bahwa diri kita sangatlah kecil, dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alam semesta yang begitu luas dan indah.
Hutan belantara yang mencekam disepanjang jalur pendakian, mengajarkan kita agar mampu mengendalikan ego dan keangkuhan, bahwa kita harus bersahabat dengan alam.
Puncak gunung yang tinggi memberikan pelajaran yang sangat berharga, bagaimana caranya kita berusaha dengan gigih dan semangat pantang menyerah untuk terus naik sampai ke tujuan.


TIDAK EGOIS – MAU SALING MENOLONG
Ketika kita sedang mendaki gunung, setiap orang harus saling menjaga, tolong menolong, dan satu sama lain harus saling memotivasi agar semua bisa sampai ke puncak.
Bagi Anda yang pernah mendaki gunung, ketika ada kawan yang mengeluh penat, maka kita harus berhenti menunggu sampai dia mampu berjalan lagi. Jika ada teman yang merasa haus, kita harus spontan mengambil air yang disimpan di saku carrier – tas gunung.


FOKUS PADA TUJUAN
Seorang pendaki gunung harus cermat memperkirakan berapa jam perjalanan akan ditempuh untuk tiba di puncak, agar bisa melihat indahnya matahari terbit muncul dari ufuk timur.
Seberapa berat carriernya dan apa saja yang harus dibawa. Semuanya dengan mengedepankan tujuan utama, yaitu untuk sampai ke puncak dan kembali dengan selamat.


PERSIAPAN DIRI YANG MATANG
Pendaki tidak akan membawa sesuatu yang tidak penting, yang akan menghambat pendakiannya. Dalam pendakian gunung kita wajib memperhatikan peralatan pendakian gunung yang lengkap dan tepat guna.
Yang utama adalah persiapan fisik sehingga tubuh bugar dan kuat untuk mendaki, membawa makanan dan minuman secukupnya, serta perlengkapan wajib yang diperlukan, seperti: carrier-tas gunung, jaket gunung, sepatu gunung, kompas, senter, jam tangan, jas hujan/ponco, kupluk, masker, sarung tangan, peralatan masak, sleeping bag, aksesoris pakaian dan pakaian pengganti serta P3K.


SABAR – RENDAH HATI
Pada saat mendaki, ada saja teman yang bersikap menyebalkan, banyak mengeluh, perlengkapannya yang tertinggal, melakukan kesalahan dan lain sebagainya.
Namun, kita tetap harus menanggapinya dengan santai agar bisa sampai ke puncak dan kembali dengan selamat. Tidak mudah memang, namun hal itu mutlak harus dilakukan.
Kadang ada teman yang egois dan emosional, padahal fisiknya lemah. Tapi, sekalipun kita lebih kuat, harus tetap sabar dan rendah hati. Karena seburuk apapun sikapnya, dia adalah kawan seperjalanan kita.


BETAPA INDAHNYA CIPTAAN TUHAN
Gunung Merapi bisa meletus kapan saja, harimau dan hewan buas sejenisnya bisa saja tak sengaja jalan-jalan dan nongkrong di jalur pendakian kita.
Namun, pendaki gunung dengan keyakinan yang bulat dan niat yang kuat tetap melangkah untuk menyapa alam, dan menikmati betapa indahnnya alam semesta ciptaan TUHAN…


“Puncak gunung kehidupan hanya bisa dicapai oleh mereka yang mau belajar dari alam, tidak egois – mau saling menolong, fokus pada tujuan, persiapan diri yang matang, sabar – rendah hati, dan mensyukuri betapa indahnya dunia ini…”
(Johanes Budi Walujo)


Baca: VISI MASA DEPAN





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

JADILAH SEORANG PEMENANG!



Arthur Ashe, adalah seorang petenis kawakan Amerika berkulit hitam yang pernah berhasil meraih 3 gelar Grand Slam: US Open (1968)Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).
Pada suatu musim panas di tahun 1975 dia mendapat serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass.  Setelah menjalani 2 kali operasi jantung, bukannya kesembuhan total yang ia terima malah ia harus menghadapi kenyataan pahit, ia terinfeksi HIV yang menularinya melalui transfusi darah yang ia terima...

Salah seorang penggemar beratnya menulis sepucuk surat padanya dan bertanya:
"Mengapa Tuhan memilih kamu untuk menderita penyakit yang mustahil untuk disembuhkan itu?"

Arthur Ashe menjawab:
"Di dunia ini ada sekitar lebih dari 20 juta anak yang ingin bermain tennis...
Di antara mereka ada sekitar 5 juta yang memperoleh kesempatan berlatih tennis....
Dan ada 500 ribu orang yang akhirnya berlatih untuk menjadi pemain Profesional...
Tersisa 50 ribu yang mencoba peruntungan datang ke arena pertandingan...
5 ribu orang beruntung mencapai turnamen Grandslam...
50 orang berhasil sampai ke Wimbledon...
4 orang bertanding di semifinal...
2 orang memperebutkan gelar juara di final..."

Ketika saya memenangkan pertandingan itu dan saat saya mengangkat Trophy Wimbledon... saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan..."Kenapa Harus Saya?"

Jadi, ketika saya terpaksa harus menerima kenyataan pahit ini, tidak seharusnya saya bertanya hal yang sama ke Tuhan...
"Kenapa Harus Saya?"

Kerap kali di dalam perjalanan hidup kita ini, disadari maupun tidak... kita sering merasa hanya pantas menerima hal-hal yang baik saja: Pendidikan yang baik, Kesuksesan dalam karier, Kesehatan yang prima, Kehidupan percintaan yang membahagiakan... dan hal-hal baik lainnya...
Dan ketika kenyataan hidup berkata lain tidak seindah yang kita bayangkan malah sebaliknya: Kesulitan hidup, Kesehatan yang memburuk, Kegagalan karier, Kebangkrutan finansial, Rumah tangga yang tak utuh lagi... dan hal-hal menyedihkan lainnya....
Kita akan menganggap Tuhan tidak adil sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.

Akan tetapi ketahuilah... bahwa Tuhan Maha Tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup ini. Ia memiliki rencana tersendiri bagi kita, maka tetaplah teguh dalam pengharapan kita... walaupun kadang beban hidup ini terasa sangat berat untuk kita tanggung...
Ketika kita menerima hal-hal buruk dalam hidup ini, maka ingat-ingatlah selalu ketika kita menerima hal-hal yang baik juga.

"Kuda-kuda pemenang takkan pernah tahu mengapa ia harus dicambuk dan dikendalikan jokinya... dan akhirnya bisa memenangkan lomba... kuda-kuda itu hanya tahu bahwa ia harus berlari sekencang-kencangnya karena dicambuk dan tersakiti!"


Hidup ini bagaikan sebuah perlombaan antara hal yang baik dan buruk, dan Tuhan lah yang menjadi Jokinya.
Jika kita mengalami kesakitan, dihajar derita hidup, dicambuk kenyataan hidup yang menyakitkan, mengalami masa-masa sulit, putus asa dan hal-hal menyedihkan lainnya... maka bangkitlah dan ingatlah selalu bahwa:

"Tuhan sedang mencambuki dan mengarahkan kita untuk menjadi seorang pemenang!"

Baca: APA YANG DISIMPAN DI BENAK ANDA?





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w