Jumat, 21 November 2014

TAHAPAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN





Tahap-tahap perkembangan kepribadian setiap individu tidak dapat disamakan satu dengan yang lainnya. Tetapi secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut:

FASE PERTAMA
Fase pertama dimulai sejak anak berusia satu sampai dua tahun, ketika anak mulai mengenal dirinya sendiri. Pada fase ini, kita dapat membedakan kepribadian seseorang menjadi dua bagian penting, yaitu sebagai berikut:

1. Bagian yang pertama berisi unsur-unsur dasar atas berbagai sikap yang disebut dengan attitudes yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah di kemudian hari. Unsur-unsur itu adalah struktur dasar kepribadian (basic personality structure) dan capital personality. Kedua unsur ini merupakan sifat dasar dari manusia yang telah dimiliki sebagai warisan biologis dari orangtuanya.

2. Bagian kedua berisi unsur-unsur yang terdiri atas keyakinan-keyakinan atau anggapan-anggapan yang lebih fleksibel yang sifatnya mudah berubah atau dapat ditinjau kembali di kemudian hari.

FASE KEDUA
Fase ini merupakan fase yang sangat efektif dalam membentuk dan mengembangkan bakat-bakat yang ada pada diri seorang anak. Fase ini diawali dari usia dua sampai tiga tahun. Fase ini merupakan fase perkembangan di mana rasa aku yang telah dimiliki seorang anak mulai berkembang karakternya sesuai dengan tipe pergaulan yang ada di lingkungannya, termasuk struktur tata nilai maupun struktur budayanya.
Fase ini berlangsung relatif panjang hingga anak menjelang masa kedewasaannya sampai kepribadian tersebut mulai tampak dengan tipe-tipe perilaku yang khas yang tampak dalam hal-hal berikut ini:

1. Dorongan-dorongan (drives). Unsur ini merupakan pusat dari kehendak manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang selanjutnya akan membentuk motif-motif tertentu untuk mewujudkan suatu keinginan. Drives ini dibedakan atas kehendak dan nafsu-nafsu. Kehendak merupakan dorongan-dorongan yang bersifat kultural, artinya sesuai dengan tingkat peradaban dan tingkat perekonomian seseorang. Sedang nafsu-nafsu merupakan kehendak yang terdorong oleh kebutuhan biologis, misalnya nafsu makan, seksual, amarah, dan yang lainnya.

2. Naluri (instinct). Naluri adalah suatu dorongan yang bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat makhluk hidup. Misalnya seorang ibu mempunyai naluri yang kuat untuk mempunyai anak, mengasuh, dan membesarkan hingga dewasa. Naluri ini dapat dilakukan pada setiap makhluk hidup tanpa harus belajar terlebih dahulu seolah-olah telah menyatu dengan hakikat makhluk hidup.

3. Getaran hati (emosi-EQ). Emosi atau getaran hati adalah sesuatu yang abstrak yang menjadi sumber perasaan manusia. Emosi dapat menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia, seperti senang, sedih, indah, serasi, dan yang lainnya.

4. Perangai. Perangai adalah perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak dari raut muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu unsur dari kepribadian yang mulai riil, dapat dilihat, dan diidentifikasi oleh orang lain.

5. Intelegensi (IQ). Intelegensi adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang. Sesuatu yang termasuk dalam intelegensi adalah IQ, memori-memori pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh seseorang selama melakukan sosialisasi.

6. Bakat (talent). Bakat pada hakikatnya merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena warisan biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, olahraga, berdagang, berpolitik, dan lainnya. Bakat merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam pengembangkan keterampilan-keterampilan yang ada pada seseorang. Setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.

FASE KETIGA
Pada proses perkembangan kepribadian seseorang, fase ini merupakan fase terakhir yang ditandai dengan semakin stabilnya perilaku-perilaku yang khas dari orang tersebut. Pada fase ketiga terjadi perkembangan yang relatif tetap, yaitu dengan terbentuknya perilaku-perilaku yang khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak. Setelah kepribadian terbentuk secara permanen, maka dapat diklasifikasikan tiga tipe kepribadian, yaitu sebagai berikut:

1. Kepribadian normatif (normative man). Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang ideal, di mana seseorang mempunyai prinsip-prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil sosialisasi pada masa sebelumnya. Seseorang memiliki kepribadian normatif apabila terjadi proses sosialisasi antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan terhadap orang lain sesuai dengan tata nilai yang ada di dalam masyarakat. Tipe ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri yang sangat tinggi dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang lain.

2. Kepribadian otoriter (otoriter man). Tipe ini terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri daripada orang lain. Situasi ini sering terjadi pada anak tunggal, anak yang sejak kecil mendapat dukungan dan perlindungan yang lebih dari lingkungan orang-orang di sekitarnya, serta anak yang sejak kecil memimpin kelompoknya.

3. Kepribadian perbatasan (marginal man). Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang relatif labil di mana ciri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya sering kali mengalami perubahan-perubahan, sehingga seolah-olah seseorang mempunyai lebih dari satu corak kepribadian. Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualisme budaya, misalnya karena proses perkawinan atau karena situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya masyarakat yang berbeda.

Baca: APA KENDALA ORANG TIDAK SUKSES?






Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Rabu, 19 November 2014

HARI TERAKHIR...




Alkisah, ketika Confusius tengah berkumpul dengan murid-muridnya, berkatalah ia kepada mereka: "Murid-muridku, kalian boleh berbuat apa saja semau kalian, seumur hidup kalian. Pokoknya apa saja!"

Salah seorang muridnya bertanya, "Guru, kok enak sekali, ya. Tapi, apakah ada syaratnya?"

Confusius menjawab, "Syaratnya sangat ringan, kok. Kalian memang boleh berbuat semau kalian seumur hidup, tetapi cukup Satu Hari saja sebelum meninggal dunia, jadilah orang baik!"

Murid yang lain segera menanggapi, "Tapi Guru, kita kan tidak tahu kapan kita akan meninggal dunia?"

Lebih lanjut Confusius berkata, "Karena itu, anggaplah Besok kamu akan meninggal dunia. Jadilah orang baik hari ini...!!! Mudah, bukan? Jalanilah...."

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Confusius, mari kita sama-sama belajar untuk mengisi hari-hari kita dengan kebaikan demi kebaikan, seakan saat itu adalah hari terakhir kita di muka bumi ini.

Jika Anda ingin kehidupan yang positif, baik, dan bahagia, berbagilah hal positif, kebaikan, dan kebahagiaan dengan orang lain…

Baca: BERHUTANG PADA KEHIDUPAN





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w

Minggu, 16 November 2014

APAKAH ANDA SEORANG YANG PEDULI?



Alkisah, ada seorang penjahat yang baru meninggal, dan diadili di gerbang maut. Ia ‘dinyatakan’ bersalah dengan kejahatan-kejahatan yang pernah ia lakukan dan dimasukkan ke dalam api neraka. Ketika disiksa di dalam api neraka yang menyala-nyala, ada seekor laba-laba di surga yang mendengar teriakan penderitaannya. Tergeraklah hati si laba-laba untuk menolong. Sebab sewaktu masih hidup, penjahat itu pernah menolong laba-laba itu dari bahaya maut. Laba-laba itu menurunkan jaringnya dari surga untuk penjahat tersebut. Si laba-laba berseru kepada penjahat, agar naik melalui jaring yang sudah diulurnya. Si penjahat pun dengan semangat mulai memanjat. Para penjahat lain yang melihat aksi ini rupanya ikut-ikutan juga menyelamatkan diri mereka lewat jaring itu. Ketika si penjahat telah berada separuh jalan, ia melihat ke bawah dimana banyak penjahat lain bergelantungan di jaring itu. Mulailah ia berteriak-teriak dengan marah, “Hei, jaring ini hanya untukku! Nanti jaring ini putus. Hanya aku yang punya hak untuk melalui jaring ini!” Ketika ia sibuk berteriak mengusir, pegangan tangannya mengendur. Ia pun terjatuh, menimpa penjahat lainnya di bawah. Jaring laba-laba itu terputus selamanya. Menyadari betapa egoisnya si penjahat, laba-laba itu akhirnya pergi meninggalkannya di api neraka.

Egoisme sering menjadi akar penyebab kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Banyak ajaran agama mengingatkan bahwa keserakahan adalah sumber mala petaka dan penderitaan lahir batin manusia. Ketika kita terlalu memikirkan diri sendiri, segalanya tak pernah cukup. Semakin kita menginginkan, semakin rakuslah diri kita. Kita pun terjebak dalam penderitaan cinta diri yang berlebihan.

Keserakahan pada dasarnya adalah wujud dari emosi kekhawatiran. Kekhawatiran bahwa dirinya tak akan cukup, yang akhirnya membuat seseorang ingin meraih dan meraih lebih banyak lagi secara tak terkendali. Pada ujungnya, keserakahan itu sendirilah yang menjeratnya.

Mengikuti apa yang dikatakan oleh Stephen Covey, mereka yang serakah selalu memiliki mentalitas kekurangan (scarcity mentality). Sedangkan mereka yang tidak serakah cenderung memiliki mentalitas kelimpahruahan (abudance mentality).

Lawan dari keserakahan adalah kepedulian. Kepedulian berarti belas kasihan dan perhatian yang kita berikan kepada orang lain. Inilah yang membuat hidup ini menjadi penuh makna. Albert Einstein berkata, “Hanya kehidupan yang diperuntukkan bagi orang lainlah yang layak untuk dijalani.”

Anthony Robbins, penulis buku best seller “Unlimited Power” mempunyai kisah pribadi yang sangat menyentuh tentang makna kepedulian yang mengubah hidupnya. Ketika ia masih kecil kehidupan ekonomi keluarganya sangat memprihatinkan. Orang tuanya bekerja keras untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari, tetapi tetap saja tidak cukup. Pada suatu hari Thanksgiving, saat mereka tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, seseorang mengetuk pintu rumah mereka dan memberikan sekeranjang makanan dan masakan kalkun khas Thanksgiving. Orang itu mengatakan bahwa makanan itu berasal dari seseorang yang tidak mereka kenal. Si orang tak dikenal itu merasa, keluarga Anthony Robbins tidak akan menerima kiriman makanan itu jika ia sendiri yang mengantarkannya. Ia hanya berharap keluarga Robbins dapat ikut bersuka cita merayakan Thanksgiving.
Hingga dewasa Anthony Robbins tak bisa melupakan pengalaman itu. Di perayaan Thanksgiving setiap tahunnya Anthony Robbins melakukan hal yang sama. Ia membeli berkeranjang-keranjang makanan lau menugaskan orang lain untuk membagi-bagikannya kepada mereka yang membutuhkan. Di setiap keranjang ia hanya meninggalkan tulisan, “Ini adalah bingkisan dari seseorang yang mengasihi dan peduli kepadamu. Mudah-mudahan saat kamu sudah memiliki berkat yang lebih baik, kamu akan melakukan hal yang sama untuk mereka yang juga membutuhkannya.”

Baca: Jadilah orang baik dan teruslah berbuat baik!





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Selasa, 11 November 2014

TIME MANAGEMENT YANG AKAN MERUBAH HIDUP ANDA






  



































Baca: SOFT SKILL vs HARD SKILL





Untuk kebutuhan Training-Motivasi meningkatkan produktivitas kerja karyawan (Pengembangan Diri) hubungi:


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Minggu, 09 November 2014

KEBIASAAN MANUSIA YANG TIDAK EFEKTIF




Berikut ini adalah tujuh kebiasaan manusia yang tidak efektif:
  1. Berpikir negatif. Berpikir negatif adalah 'racun' pikiran. Memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi, membuat orang merasa cemas, kuatir, dan takut untuk bertindak. 
  2. Kehilangan sikap. Orang-orang biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan dari hidup mereka. Harapkan yang terburuk, dan itulah yang akan Anda peroleh.
  3. Berhenti bertumbuh. Orang-orang adalah apa mereka adanya, dan kemana mereka menuju disebabkan oleh apa yang ada di dalam pikiran mereka.
  4. Tidak memiliki rencana dalam hidup. Sebagaimana yang dikatakan oleh William Feather, penulis buku "The Business of Life, " Ada dua jenis kegagalan: orang yang mempunyai rencana tanpa bertindak apa-apa, dan orang yang bertindak tanpa rencana apa-apa."
  5. Tidak bersedia berubah. Beberapa orang memilih lebih baik berpegangan pada apa yang mereka benci daripada memeluk apa yang mungkin lebih baik karena mereka takut memperoleh sesuatu yang lebih buruk.
  6. Gagal dalam berhubungan dengan orang-orang lain. Orang-orang yang tidak dapat bergaul dengan orang lain mungkin tidak pernah bergerak maju dalam hidupnya.
  7. Tidak mau membayar harga kesuksesan. Jalan menuju sukses selalu menanjak. Setiap orang yang ingin memperoleh banyak harus mengorbankan banyak.

JALAN MENUJU PUNCAK
Sahabatku Zig Ziglar pernah berkata kepada saya bahwa ia mengunjungi monumen Washington dalam perjalanannya menuju kota Washington, D.C. Sesampainya di sana bersama dengan rombongannya, ia mendengar seorang pemandu wisata menyampaikan pengumuman kepada rombongan lain, "Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, perlu waktu dua jam untuk mengantri lift menuju ke puncak monumen." Pemandu itu diam sejenak, tersenyum, dan melanjutkan dengan bergurau, "Tetapi, tidak perlu menunggu jika ada yang berminat naik tangga."

Kisah lucu Zig mengandung suatu kebenaran mengenai sukses. Sebenarnya, tidak ada lift menuju ke puncak sukses. Jika Anda ingin sampai ke sana, Anda harus menempuh tahapan-tahapan yang panjang. Berapa banyak tahap yang bersedia Anda tempuh, dan berapa lama kesediaan Anda tetap naik, menentukan seberapa tinggi Anda akan naik.

(Sumber: "Sukses Dibangun Setiap Hari", John C. Maxwell)





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!


Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Jumat, 07 November 2014

LEBIH JAUH TENTANG REKSA DANA




Bila seseorang membeli produk reksa dana, maka dana yang ia setorkan oleh pihak Manager Investasi (MI) akan diwujudkan dalam bentuk unit. Tiap unit ini memiliki harga yang berfluktuasi atau naik-turun sesuai dengan kondisi pasar.
Untuk memahami konsep unit ini adalah seandainya satu keping emas seberat 1 gram harganya adalah Rp 500.000, maka dengan uang sebanyak Rp 5 juta kita bisa mendapatkan emas sebanyak 10 keping. Apabila bulan depan harga emas naik jadi Rp 510.000, apakah jumlah keping emas yang saya miliki ikut bertambah? Tentu tidak. Dan bila bulan berikutnya lagi harga emas turun menjadi Rp 490.000 apakah kepingan emas yang saya miliki ada yang berkurang atau tercuil? Jawabannya pasti juga tidak.
Demikianlah logika unit reksa dana tersebut. Semisal di awal pembelian kita mendapatkan semisal 1.000 unit, maka sepanjang tidak pernah ada penambahan atau pengurangan, maka jumlahnya akan tetap segitu. Yang berubah adalah harga unitnya, seperti halnya harga emas tadi.
Risiko terburuk yang bisa terjadi adalah harga unit yang terus turun. Namun seperti halnya emas, bila harganya turun, apalagi turunnya banyak, tentu orang justru berbondong-bondong membelinya bukan, dengan harapan dikemudian hari harganya akan terus naik dan dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Demikian pula dengan reksa dana ini. Justru ketika harganya sedang turun, maka ini kesempatan emas bagi investor untuk membelinya.
Untuk mengetahui perusahaan reksa dana mana yang terpercaya, cara paling gampang adalah coba mencari informasi semisal di internet, tentang list produk reksa dana terbaik di Indonesia saat ini. Pada list tersebut pasti juga akan disebutkan produk reksadana tersebut dikeluarkan oleh MI mana.
Nah para perusahaan MI yang namanya ada dalam pemeringkatan tersebut bisa dibilang sebagai perusahaan-perusahaan yang bonafid dan terpercaya, karena untuk bisa diperingkat seperti itu pasti ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh perusahaan MI. Setelah mendapatkan nama-nama perusahaan MI tersebut, bapak bisa mulai berselancar ke website masing-masing MI untuk mengetahui profil mereka lebih jauh.
Ketika berinvestasi di reksa dana, calon nasabah akan ditawari untuk memilih produk yang resiko pengelolaan dananya berbeda-beda. Ada yang bersifat Agresif yang bagi yang ingin imbal hasil besar dan resiko besar, Moderate bagi yang tidak ingin resiko terlalu besar dan imbal hasil yang sepadan, serta Konservatif bagi mereka yang lebih mementingkan keamanan dananya serta puas dengan imbal hasil yang seadanya.
Adalah sangat penting bagi seorang calon nasabah untuk mengetahui profil kekuatannya menerima resiko sebelum mulai berinvestasi, agar ia dapat tetap merasa tenang pasca menginvestasikan dananya.
Produk reksa dana berbeda dengan saham. Pada produk saham, nasabah sendiri yang menjalankan dan mengelola dana miliknya. Sementara pada reksa dana, dana nasabah dipercayakan kepada pihak ketiga alias dikelola oleh perusahaan Manajer Investasi.
Bila hendak masuk ke pasar saham, maka nasabah akan berhubungan dengan perusahaan Sekuritas, dengan modal minimal Rp 5 juta. Sedangkan pada produk reksa dana, nasabah akan berhubungan dengan perusahaan MI dengan modal awal bisa mulai dari Rp 100 ribu.
Untuk mengetahui suatu perusahaan MI berada dalam naungan lembaga pemerintah, biasanya dalam company profile ataupun prospektus perusahaan MI tersebut sudah disebutkan ijin usaha yang mereka dapatkan dari pemerintah. Untuk memudahkan dalam melakukan window shopping, cara paling mudah dan murah adalah dengan berselancar ke dalam website-website perusahaan MI tersebut. Bahkan untuk pembelian dan penyetoran lanjutan juga bisa secara online dengan cara mendownload form yang sudah mereka sediakan.
(Sumber: okezone.com)

Baca: TIPS MENGHINDAR DARI INVESTASI BODONG





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan

Kamis, 06 November 2014

APA ITU REKSA DANA?




Reksa dana merupakan suatu produk investasi yang berkembang pesat dalam beberapa tahun ini. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang belum paham.
Sebagai gambaran, dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta, jumlah investor reksa dana aktif diperkirakan baru sekitar 240.000 orang.
Sesuai dengan Undang-Undang Pasar Modal No 8 Tahun 1995, reksa dana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan kembali ke dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.

Berdasarkan definisi di atas, reksa dana adalah:
Wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal.
Menghimpun dana dari masyarakat bukan perkara main-main. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara ketat sudah mengatur jenis perusahaan seperti apa saja yang dapat melakukan kegiatan penghimpunan dana, antara lain seperti bank, asuransi, dana pensiun, pegadaian, multifinance, dan pasar modal.
Reksa dana merupakan produk dari perusahaan yang masuk dalam kategori pasar modal yang diawasi oleh OJK sehingga bisa melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat.
Banyaknya berita investasi bodong yang marak belakangan ini, kebanyakan berasal dari penghimpunan dana ilegal yang dilakukan oleh perusahaan dan oknum yang tidak terdaftar dalam OJK.
Diinvestasikan kembali dalam portofolio efek
Dalam kesehariannya, manusia menggunakan produk dan jasa dari berbagai perusahaan.


Sebagai gambaran:
Ketika bangun tidur, kita mandi dan menggunakan produk seperti odol dan sabun. Salah satu produsennya adalah Unilever. Waktu berangkat kerja, menggunakan kendaraan mobil yang diproduksi oleh Astra Internasional. Perjalanan ke kantor menggunakan jalan tol yang dimiliki Jasa Marga. Untuk membayar biaya tol menggunakan kartu e-Money yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri.
Nama-nama perusahaan di atas seperti Unilever, Astra Internasionl, Jasa Marga dan Bank Mandiri adalah perusahaan terbuka yang salah satu sumber pendanaan perusahaan berasal dari penerbitan efek saham dan obligasi.
Efek saham adalah surat berharga yang menyatakan kepemilikan suatu perusahaan. Dengan berinvestasi pada saham berarti seseorang menjadi pemilik perusahaan.
Efek obligasi adalah surat berharga yang menyatakan bukti hutang suatu perusahaan. Dengan berinvestasi pada obligasi berarti seseorang memberikan pinjaman kepada perusahaan.
Dana yang dihimpun dari masyarakat tersebut diinvestasikan dalam efek saham dan efek obligasi. Karena memiliki beberapa efek sekaligus, maka disebut portofolio efek.
Kegiatan investasi tentunya harus dilakukan oleh pihak yang memiliki keahlian dan mendedikasikan semua waktunya untuk hal tersebut. Dalam UU PM, pihak itu disebut Manajer Investasi (MI).
Bagi masyarakat awam, Manajer Investasi sering dipersepsikan sebagai orang. Hal itu kurang tepat, karena MI pada dasarnya adalah perusahaan.
Umumnya, perusahaan yang melakukan kegiatan usaha ini memiliki nama Manajemen Investasi, Investment Management atau Asset Management pada nama perusahaannya. Contohnya: Danareksa Investment Management, Panin Asset Management, Mandiri Manajemen Investasi, dan Manulife Asset Management.
Perusahaan yang mendapat izin disebut Manajer Investasi (MI), sementara izin bagi personel yang bekerja di perusahaan disebut Wakil Manajer Investasi (WMI).
Izin untuk MI dan WMI diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Prosesnya juga tidak sederhana karena ada berbagai rangkaian fit and proper test untuk memastikan bahwa penerima izin memiliki kemampuan dan integritas.
Melalui reksa dana, masyarakat dapat berinvestasi pada perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia melalui perantaraan Manajer Investasi. Dengan demikian, ketika perusahaan tersebut berkembang dan membagikan keuntungan, masyarakat bisa ikut menikmati hasil pertumbuhan tersebut.
(Sumber: kompas.com)

Baca: LEBIH JAUH TENTANG REKSA DANA





Salam Sejahtera & Sukses Selalu!

Drs. Johanes Budi Walujo
HP: 0811.2332.777
WA: 081.809.271.777
BB: 28C2CEC2 / 52B90B35
Instagram: johanes_budi_walujo
Twitter: @johanesbudi_w
Website: SEMANGAT - Kampus Kehidupan